The boy on the bench

59 2 0
                                        

My first story.
Maaf kalau alurnya kurang nyambung atau ada kesalahan pengetikan.
Kalau ada kesamaan alur / nama karakter, mungkin hanya kebetulan.
Ini cerita + karakter pure imajinasi
aku.

Enjoy the story ✨

______________________________

Velin baru saja pulang dari gym.

Seperti biasa, ia memilih berjalan kaki karena jarak antara gym dan rumahnya yang memang tidak terlalu jauh, dan udara malam terasa cukup nyaman setelah berolahraga.

Langkahnya melambat ketika memasuki taman kecil yang harus ia lewati setiap kali menuju rumahnya.

Lampu taman yang redup membuat suasana terlihat sepi.

Hanya terdengar suara dedaunan yang sesekali bergesekan tertiup angin malam.

Awalnya tidak ada yang menarik perhatian Velin.

Sampai ia melihat seseorang duduk sendirian di salah satu bangku taman.

Seorang pria.

Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menggenggam erat ujung celana, dia terlihat sesekali mengusap air dari ujung matanya.

Dia sedang menangis.

Velin menghentikan langkahnya.

Biasanya ia tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain.

Namun ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya sulit untuk pergi begitu saja.

Bagaimana kalau dia sedang dalam masalah?

Bagaimana kalau baru saja terjadi sesuatu?

Setelah beberapa detik berpikir, Velin akhirnya berjalan mendekat.

"Lu ngapain di sini malam-malam sendirian?"

Pria itu langsung mengangkat kepalanya.

Mata mereka bertemu sesaat.

Velin melihat mata yang memerah dan air mata yang hampir menetes diujung matanya.

Pria itu buru-buru menunduk lagi.

"Aku nggak apa-apa."

Velin mengangkat sebelah alis.

"Kalau nggak apa-apa ngapain nangis?"

Pria itu terdiam.

Seolah sedang berusaha menelan semua yang ingin dikatakannya.

Velin menghela napas pelan, lalu berjongkok tepat diantara kedua kaki pria tersebut agar dia tidak perlu terus mendongak.

"Mau cerita?"

Pria itu masih diam.

"Gua bisa dengerin kalau lu mau."

Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya suara pelan itu terdengar.

"Tadi... ada yang ambil tas aku."

Velin langsung memperhatikannya.

"Ambil tas?"

Pria itu mengangguk pelan.

"Mereka pakai seragam SMA... Aku udah coba kejar, tapi nggak ketemu."

"Ada apa di tas lu?"

"Uang gaji aku.."

"Berapa?"

"Satu juta dua ratus ribu."

Velin sedikit mengernyit.

Jumlah itu memang tidak terlalu besar bagi sebagian orang, tapi dari cara pria itu berbicara, Velin tahu uang tersebut pasti sangat berarti baginya.

"Itu uang apa?"

Pria itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisannya.

"Mau aku tabung buat pengobatan mama."

Kalimat itu diucapkan pelan.

Namun cukup untuk membuat Velin mengerti kenapa pria ini menangis sendirian disini.

Pria itu menunduk semakin dalam.

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh lagi.

Velin terdiam, dia merasa kasihan pada pria yang menangis dihadapannya saat ini, namun juga ada rasa bangga karena dia lebih mengutamakan ibunya.

Velin tidak pandai menenangkan orang yang menangis, namun melihat pria itu menangis membuat Velin merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman.

Saat itulah dia menyadari sesuatu.

Ada lebam kemerahan di bawah mata kanan pria tersebut.

"Kamu dipukul?"

Pria itu menatapnya perlahan

"Kok kamu tau?.."

Velin menunjuk wajahnya.

"Itu merah."

Pria itu refleks menyentuh pipinya sendiri.

Baru sekarang rasa sakitnya mulai terasa.

Mungkin sejak tadi dia terlalu fokus memikirkan uang yang hilang sampai melupakan pukulan yang diterimanya tadi.

Velin berdiri perlahan

"Ikut gua."

Pria itu mendongak bingung.

"Obatin dulu luka lu, rumah gua dekat dari sini."

Ucap Velin sebelum dia mulai menggandeng tangan pria tersebut.

Dia hanya menatap Velin sejenak, terlihat jelas keraguan diwajahnya.

Velin menatapnya beberapa detik.

Wajah pria itu benar-benar terlihat curiga dan tak percaya pada Velin.

Seolah-olah Velin sedang mencoba menipunya.

Namun, justru hal tersebut membuat Velin ingin tertawa.

"Tenang aja, gua nggak jahat."

Pria itu masih terlihat ragu.

Namun Velin mengerti, karena mereka memang tak saling kenal dan baru saja bertemu.

Velin tak bisa membohongi dirinya, pria itu terlihat sangat menggemaskan, pria yang berada didepannya saat ini terlihat seperti anak kecil yang takut diculik.

Halo semuanya, cerita ini aku revisi karena menurut aku yang kemarin berantakan + terlalu buru-buru alurnya.

Terimakasih yang sudah membaca cerita ini, enjoy the story.

The Beauty And The GuardHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora