Bab 1 - Istana Baru di Lantai Tertinggi

1.1K 2 0
                                        

Di sudut lain ibu kota, jauh dari gemerlap distrik bisnis dan kemewahan apartemen-apartemen elite berlantai tinggi dengan kolam renang di atap serta lobby ber-AC sentral yang wangi pewangi ruangan setiap pagi—di sanalah kompleks apartemen Griya Mahardhika berdiri. Bangunan menjulang setinggi lima belas lantai itu sudah berusia hampir dua dekade, dengan cat dinding luar yang mulai mengelupas di beberapa sisi dan keramik lorong yang retak-retak di sana-sini. Tapi bagi para penghuninya, para pekerja kantoran dengan gaji pas-pasan, mahasiswa perantauan, dan keluarga muda yang baru memulai hidup, tempat ini adalah oase di tengah kerasnya ibu kota.

Langit sore perlahan berubah menjadi jingga keabuan. Sinar mentari yang mulai meredup menyelinap melalui jendela-jendela kecil di koridor, membentuk garis-garis cahaya yang temaram. Suara kendaraan dari jalan raya di bawah terdengar samar, bercampur dengan deru AC tua yang bekerja keras mendinginkan setiap unit.

Lift tua di ujung lorong berbunyi ping memberitahukan kedatangannya. Pintu besinya yang berat terbuka perlahan, mengeluarkan seorang gadis muda dengan setumpuk kardus di tangannya.

Windi mengatur napasnya yang terengah. Tangannya yang mungil hampir saja menjatuhkan kardus berisi peralatan dapur itu saat ia berjalan menyusuri lorong lantai 13. Jilbab pashmina cokelat susu yang ia kenakan sejak pagi mulai berantakan—beberapa helai rambut hitamnya menyembul di bagian depan, namun ia terlalu lelah untuk merapikannya sekarang.

"Ini dia... unit 1302," gumamnya membaca nomor yang tertempel di pintu.

Ia menurunkan kardus itu sebentar, merogok saku jaketnya mencari kunci. Tangannya sedikit gemetar—campuran antara kelelahan dan perasaan aneh yang sejak tadi menggelayuti pikirannya. Mungkin karena ini pertama kalinya tinggal sendiri, batinnya mencoba meyakinkan diri.

Setelah berhasil membuka pintu, Windi mendorongnya perlahan. Bau cat lama dan debu menyambutnya. Ruangan itu tidak terlalu luas—mungkin hanya 3x4 meter untuk ruang utama, dengan sebuah pintu di sisi kiri yang menuju kamar tidur mungil dan satu lagi di sisi kanan untuk kamar mandi. Tapi bagi Windi, gadis 22 tahun yang selama ini tinggal di kos-kosan sempit bersama tiga orang lainnya di daerah Jakarta Timur, tempat ini terasa... mewah.

Ia meletakkan kardus terakhir di atas lantai kayu yang sedikit berdebu. Napasnya terengah, tapi senyum puas mengembang di bibirnya. Tangan mungilnya mengusap keringat yang menetes di dahi, lalu merapikan jilbabnya sebisa mungkin.

"Syukurlah... akhirnya sampai juga."

Windi berjalan memutari ruangan, membuka jendela kecil di ruang tamu. Udara sore masuk membawa bau khas kota—campuran asap kendaraan dan makanan yang dimasak dari unit lain. Ia bisa melihat deretan gedung-gedung di kejauhan, beberapa di antaranya sudah mulai menyalakan lampu. Pemandangan yang sederhana, tapi entah mengapa membuat dadanya terasa hangat.

Apartemen ini tidak mewah. Lorongnya sedikit sempit, cat dindingnya sudah mulai kusam, dan lampu di koridor depan sering kali berkedip sebelum menyala sempurna—ia sudah mengalami sendiri saat mencoba menekan tombol lift tadi. Tapi bagi Windi—mahasiswi semester enam jurusan Ekonomi yang baru saja memutuskan untuk hidup mandiri setelah mendapat pekerjaan paruh waktu sebagai asisten dosen—unit kecil di lantai 13 ini adalah istana barunya. Tempat yang aman. Tempat di mana ia bisa belajar dengan tenang, beristirahat tanpa gangguan, dan memulai lembaran baru kehidupannya sebagai perempuan dewasa yang mandiri.

Ia berjalan menuju televisi kecil yang baru saja ia colokkan ke stopkontak. Alat elektronik itu adalah hadiah dari ibunya saat ia lulus ujian masuk universitas tiga tahun lalu. Windi menyalakannya sekadar untuk memecah keheningan selagi ia mulai membongkar barang-barangnya.

Suara pembaca berita langsung memenuhi ruangan.

"...sementara itu, saham perusahaan digital raksasa milik miliarder muda, Fauzan, kembali meroket pasca akuisisi terbarunya bulan ini. Sang kaisar bisnis yang kini berusia 28 tahun tersebut diketahui baru saja merayakan kelahiran putri pertamanya secara tertutup—"

13th FloorGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt