Suara yang Tenggelam

3 1 0
                                        

Suara yang Tenggelam

Hujan turun pelan malam itu, menitik di kaca jendela kamar kecil milik Lentera. Orang-orang biasa memanggilnya Tera-nama yang terdengar hangat, seperti cahaya kecil di tengah gelap. Tapi tidak ada yang benar-benar tahu, bahwa cahaya itu sudah lama redup.

Di atas meja belajarnya terdapat banyak catatan kecil berisi tulisan tangan yang berbeda-beda.

"Jangan membantah."
"Harus jadi anak baik."
"Kalau ingin disayang, jangan egois."
"Orang lain lebih penting."

Tera tidak ingat kapan ia mulai hidup dengan aturan-aturan itu. Rasanya seperti sejak kecil suara-suara tersebut sudah tumbuh di kepalanya, mengakar lebih dalam daripada keinginannya sendiri.

Ia belajar tertawa ketika orang lain ingin ia ceria.
Belajar diam ketika orang lain marah.
Belajar meminta maaf bahkan saat ia tidak salah.

Dan semakin besar ia tumbuh, semakin ia tidak mengenali dirinya sendiri.

Di sekolah, Tera adalah pendengar yang baik.
Di rumah, ia adalah seseorang yang selalu mengalah.
Di depan teman-temannya, ia menjadi ceria.
Di depan orang tertentu, ia menjadi penurut.

Semua wajah itu melekat padanya seperti topeng yang tak pernah sempat dilepas.

Suatu malam, saat listrik padam dan seluruh rumah tenggelam dalam gelap, Tera duduk sendiri di lantai kamarnya. Untuk pertama kalinya ia mencoba bertanya kepada dirinya sendiri.

"Aku sebenarnya siapa?"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan.

Ia mencoba lagi.

"Aku suka apa?"

Kosong.

"Aku mau hidup seperti apa?"

Sunyi.

Pertanyaan-pertanyaan itu jatuh begitu saja di dalam dirinya, tenggelam tanpa gema, seperti batu kecil yang dilempar ke laut tak berdasar.

Tera menangis malam itu. Bukan karena sedih. Tetapi karena ia sadar satu hal yang jauh lebih menakutkan:

Ia tidak mengenali dirinya sendiri.

Hari-hari setelahnya terasa semakin berat.

Ada seseorang di rumah itu yang selalu menuntut tanpa pernah benar-benar mendengar. Sosok yang suaranya memenuhi ruangan seperti badai-mengatur bagaimana Tera harus berbicara, harus bersikap, harus hidup.

Tera tidak pernah membenci sosok itu. Tidak pernah.

Ia hanya lelah.

Lelah menjadi tempat harapan orang lain dititipkan.
Lelah hidup sebagai versi diri yang dibutuhkan orang lain.

Kadang ia ingin marah. Ingin berteriak bahwa ia juga manusia. Bahwa ia juga takut. Bahwa ia juga ingin dipeluk tanpa harus menjadi sempurna terlebih dahulu.

Tetapi setiap kali keberanian itu muncul, suara di kepalanya selalu berbisik:

"Kalau kamu berubah, nanti mereka kecewa."

Dan Tera kembali diam.

Suatu sore, ia menemukan sebuah buku tua di toko kecil dekat halte. Buku itu usang, sampulnya hampir lepas. Di halaman pertama ada kalimat yang membuatnya berhenti bernapas beberapa detik.

"Beberapa orang tidak kehilangan hidupnya. Mereka hanya kehilangan dirinya sendiri."

Tera membaca kalimat itu berulang kali.

Malamnya, ia duduk lama di depan cermin.

Wajah di sana terlihat asing.

"Apa aku masih bisa menemukan diriku?" bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Tera merasa ada sesuatu yang retak di dalam dirinya-sebuah dinding besar yang selama ini menahan semua luka dan keinginannya sendiri.

Hari demi hari berlalu.

Dan perlahan, Tera mulai mencoba hal-hal kecil.

Ia berkata "tidak" meski suaranya gemetar.
Ia berhenti meminta maaf untuk hal-hal yang bukan salahnya.
Ia mulai menulis apa yang ia rasakan, bukan apa yang ingin orang lain dengar.

Itu sulit.

Sangat sulit.

Ada malam-malam di mana ia menangis karena merasa bersalah hanya karena memilih dirinya sendiri.

Ada suara-suara yang membuatnya merasa egois. Tidak tahu diri. Berubah.

Namun di balik semua rasa sakit itu, Tera mulai mendengar sesuatu yang telah lama hilang.

Suaranya sendiri.

Kecil. Lemah. Hampir tenggelam.

Tetapi akhirnya ada.

Pada suatu pagi yang tenang, Tera pergi meninggalkan rumah dengan sebuah tas kecil di pundaknya.

Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada teriakan dramatis.

Hanya langkah kaki pelan dan napas yang berat.

Ia berhenti di depan pintu cukup lama. Menatap rumah yang telah membesarkannya sekaligus mengikis dirinya sedikit demi sedikit.

Matanya basah.

Bukan karena benci.

Melainkan karena ia tahu, jika tetap tinggal, dirinya akan benar-benar hilang.

Tera lalu berjalan pergi.

Matahari pagi menyinari wajahnya, hangat namun asing.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada yang menyuruhnya menjadi siapa-siapa.

Dan itu menakutkan.
Namun juga membebaskan.

Bertahun-tahun kemudian, seseorang pernah bertanya kepadanya,

"Apakah kamu bahagia sekarang?"

Tera tersenyum kecil.

"Aku tidak tahu apakah ini bahagia," katanya pelan. "Tapi sekarang... aku bisa mendengar diriku sendiri."

Malam itu ia duduk di apartemen kecilnya sambil memandangi lampu kota dari jendela.

Masih ada luka yang belum sembuh.
Masih ada bagian dari dirinya yang terasa kosong.

Tetapi setidaknya sekarang, ia hidup sebagai dirinya sendiri.

Bukan bayangan.
Bukan harapan orang lain.
Bukan suara yang dipaksa tenggelam.

Di tempat lain, rumah lama itu tetap berdiri seperti biasa.

Namun tidak ada lagi suara langkah kecil yang selalu berusaha menyenangkan semua orang di dalamnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecil-
Lentera akhirnya menjadi cahaya bagi dirinya sendiri.

Semua Hal Terasa MenyakitkanBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin