Prolog

25 3 0
                                        

Hujan turun perlahan di atas atap kantin yang hampir kosong. Di tangga belakang, Zevanya duduk dengan satu kaki dilipat, rokok menthol terselip di antara jemarinya. Asapnya mengepul tipis, lalu hilang diterpa angin sore.

Elandrian datang tanpa tergesa. Di tangannya ada payung hitam yang ia buka tepat di atas kepala Zevanya.

"Lo telat tujuh menit," ujar Zevanya tanpa menoleh. Suaranya datar, namun sudut bibirnya terangkat sedikit. "Capek nggak sih jadi cowok baik yang selalu tepat waktu?"

Elandrian tidak menjawab. Ia hanya menurunkan pandangan pada gadis di hadapannya.

Zevanya mematikan rokoknya di tiang tangga. Matanya menatap lurus ke arah Elandrian, tajam namun main-main.

"Ngapain sih lo masih ngurusin gue? Di grup angkatan aja gue udah masuk daftar hitam. Bad influence, toxic, kolektor cowok ganteng."

"Kolektor?" Elandrian mengulang pelan.

"Iya." Zevanya memainkan korek Zippo di tangannya, suaranya terdengar santai. "Gue suka cowok yang ganteng. Gue godain dikit, mereka baper. Terus gue bosen, gue lepas. Selesai. Koleksi bertambah satu."

Ia mencondongkan tubuh sedikit, mengamati reaksi Elandrian. "Lo jelas tau apa alesan gue mau sama lo. Tentu karena lo ada di kategori yang gue mau."

Elandrian mengangguk singkat. "Gue tahu."

Zevanya berhenti memainkan koreknya. Untuk sesaat, hanya suara hujan yang terdengar.

"Terus kenapa lo masih di sini?"

"Karena gue bukan koleksi, Zevanya." Suara Elandrian tenang, tidak meninggi. "Dan gue nggak akan pergi cuma karena lo bosen."

Zevanya terdiam. Ia memasukkan koreknya kembali ke saku jaket, lalu menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari kata untuk menyindir balik.

Hujan semakin deras, namun payung itu tetap berada di atas kepalanya.

Perlahan wajah Elan mendekat, mencium bibir tipis milik Zevanya---kekasihnya yang sudah dua tahun ini menetap.

ZEVANYA (End)Stories to obsess over. Discover now