1

182 17 7
                                        

Malam merangkak dengan pelan di sebuah kamar kecil yang hanya diterangi cahaya lampu dari sela-sela ventilasi kamar. Dinding kamar terasa dingin dan hampa, seolah ikut menyimpan luka yang tak pernah selesai. Di sudut kamar, seorang gadis duduk memeluk lututnya sendiri, menatap kosong ke jendela yang basah oleh gerimis malam. Nafasnya berat, matanya sembab, dan pikirannya dipenuhi rasa lelah yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Jam dinding terus berdetak tanpa peduli pada pertahanan gadis itu yang perlahan runtuh, tidak ada suara selain angin malam dan sesekali isak kecil yang ia tahan sendirian, seakan seluruh dunia telah pergi meninggalkannya di kamar hampa itu.

Desiran angin disertai kilat tanpa gemuruh memantulkan cahaya terang itu di pupil mata kosong sang puan, tangannya pelan bergerak meraba kasur mengambil benda pipih yang berteriak keras, terlihat sebuah nama yang tak asing oleh gadis itu sedang menghubunginya. Abang Kavian, kakak tertua gadis itu.

Abang Kav (2)
Missed voice call
Dek, kalau udah bangun call back abang yah.

Gadis itu kembali menyimpan ponselnya di atas kasur melirik jam dinding tergantung di atas pintu kamar menunjukkan pukul 11 malam, sudah terhitung dua hari ia tak keluar dari kamarnya dan mengurung diri berharap segala kesengsarahannya akan mereda, namun ia salah. Justru dengan melakukan hal itu ia selalu dihantui oleh pikiran-pikiran tak benar, seperti halnya untuk mengambil nyawanya sendiri.

Karin, itulah nama gadis malang itu.

Karin menghelah napas panjang beranjak dari duduknya menyalakan lampu dan melihat seisi kamar yang sangat berantakan. Baju-baju di dalam lemari terhambur di lantai, susunan kertas tugas berserakan di segala penjuru kamar hingga sampah tissue saling beradu dengan kertas tugasnya.

Karin menggeser semua hal yang menghalangi langkahnya menuju cermin berukuran sedang yang tergantung di sisi kanan lemari, gadis itu melihat pantulan wajah lelahnya, kantung mata menghitam, wajah pucat pasih serta bekas aliran air mata mengering menghiasi pipi tirusnya. Karin menghembuskan napasnya panjang merapikan sedikit rambut acak-acakannya lalu memaksakan bibirnya agar tersenyum.

"Sepertinya lo harus menghirup udara segar, Rin." Ujarnya pelan.

Karin berjalan menusuri trotoar jalanan utama Kotanya menikmati hembusan angin serta rintik hujan membasahi tubuhnya, langkah tak terarah mengikuti ke mana kaki jenjangnya membawanya saat ini. Pandangan kosong gadis itu kembali dengan cepat hingga tak terasa langkahnya terhenti di tengah sebuah jembatan besar yang di bawahnya ada sungai besar dengan aliran air deras.

Karin memegang erat besi penghalang jembatan menatap jauh ke depan melihat aliran sungai yang tenang membuatnya tak sadar melangkah naik ke pembatas besi jembatan, tubuhnya bergerak tak sesuai dengan intruksi otaknya hingga ia berhasil berdiri di satu anak pembatas jembatan dan terlihat siap untuk terjun ke bawah sana.

Air mata Karin kembali mengalir deras tanpa isakan, hanya sunyi dan hampa yang menemaninya, tatapan matanya masih kosong dan berkabut. Jalanan malam itu terlihat sepi membuat orang-orang tidak menyadari tingkah aneh Karin hingga ada penjual mie ayam keliling dari seberang jalan menyadari gadis itu.

"Ya Tuhan!" panik penjual mie ayam itu berlari meninggalkan gerobaknya menuju ke arah Karin dan menarik tangan gadis itu.

"Eh?" Karin terkejut bukan main saat tangannya ditarik kencang membuat tubuhnya oleng dan ditangkap oleh seorang pemuda berwajah panik menatapnya khawatir.

"Mbak kamu ngapain!?"

Karin mengerjapkan matanya beberapa saat lalu merasakan jantungnya berdegub dengan kencang serta air mata masih terus mengalir tanpa permisi. Gadis itu telihat linglung hingga Mas mie ayam tersebut menariknya pelan menuju gerobaknya.

Semesta Kecil di Mangkok Mie Ayam | BluesyStories to obsess over. Discover now