Di bawah langit malam terlihat sosok anak kecil yang terus berlari dari kejaran para Rogue. Kaki kecilnya terus melangkah tanpa henti berharap tubuh mungilnya bisa hilang dari pandangan mereka. Hutan menjadi tempat yang tepat untuk ia melarikan diri, membawa langkahnya ke wilayah yang bahkan ia sendiri tidak tau ada di mana.
Lolongan Rogue itu terdengar membuat tubuhnya sedikit bergetar tapi ia tidak gentar, kakinya melangkah lebih cepat saat pupil matanya melihat ada tempat persembunyian tak jauh dari dirinya.
Lolos.
Satu kata yang ia ulang terus menerus di pikirannya.
Anak kecil itu berusaha sebisa mungkin mengatur napasnya, menyembunyikan tubuhnya di bawah pohon agar tidak ditemukan. Banyak anggota tubuhnya yang terluka, kakinya sakit bukan main karena ia pakai berlari–yang ia sendiri tidak tau sudah berapa lama waktu yang dihabiskan untuk lari dari para Rogue.
Perlahan air mata jatuh dari pelupuk matanya tapi, ia langsung menghapusnya. Sion akan mengingat pesan Ibunya dengan baik.
"Sion, lari yang jauh, nak, jangan sampai mereka menangkapmu. Jangan menangis, jangan mengeluarkan suara apapun selama kamu berlari. Ibu menyayangimu."
Kalimat terakhir yang ia dengar sebelum akhirnya sang Ibu memilih untuk keluar dari persembunyian dan ikut bergabung dengan kedua kakaknya yang sedang bertarung di Singgasana sang Ayah.
Cukup lama Sion berdiam diri di bawah pohon, lolongan para Rogue mulai menghilang. Secara tidak sadar Sion memejamkan matanya dan tertidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
•••
Di sisi lain, pasukan dari kerajaan Stormveil baru tiba. Wilayah kekuasaan sang Raja Valtheris telah hancur, rakyat yang masih hidup langsung di evakuasi dan yang telah terbunuh mereka kumpulkan untuk di makam kan dengan layak.
"Yang mulia, saya tidak menemukan satu pun anggota kerajaan yang masih hidup, hanya ada satu jasad yang saya belum bisa memastikannya."
Raja Stormveil melihat sekeliling, ikut memastikan sendiri dan hasilnya hanya ada satu jasad yang sangat ia kenali perawakannya, sesuai dengan pernyataan yang diberikan prajuritnya.
"Maaf karena tidak datang dengan cepat, Jaehyun."
Sahabatnya gugur dengan membanggakan demi keluarga, kerajaan dan rakyatnya.
"Prajurit, angkat dan bawa jasad Raja Valtheris untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir." perintah Raja Stormveil.
Saat kembali ke Kerajaannya, Johnny harus membawa kabar pahit untuk Sang Permaisuri.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.