jasver veyron "jasver" - alpha 24 tahun*
Gevario "Geva" - Omega 22 tahun*
*Episode 1: Dijemput di Malam Hujan*
---
*23.47 WIB - Gang Sempit Belakang Pasar Baru*
Hujan deras.
Aku lari sambil gendong kardus berisi roti sisa dari toko kue tempat aku kerja part time.
Kalau nggak lari, roti ini bakal basah semua.
Dan kalau roti ini basah, adik gue nggak ada sarapan besok.
"Kak Geva! Tunggu!"
Itu suara Rina, temen kerja.
Dia nggak kuat lari.
"Lo duluan aja! Gue nggak apa-apa!" teriak gue balik.
Belokan terakhir.
Kos gue ada 200 meter lagi.
Tapi di ujung gang, ada 4 orang berdiri.
Jaket kulit, muka nggak ramah.
Mata mereka langsung ngelirik gue dari atas ke bawah.
"Wah, ada omega manis nyasar malem-malem."
Salah satu dari mereka senyum miring.
Bau pheromone alpha murahan nyebar.
Mabuk.
Gue mundur selangkah.
Kardus di tangan gue makin erat.
"Permisi... mau lewat."
"Lewat? Nggak segampang itu, manis."
Dia maju.
Temennya ketawa.
"Bau lo enak banget. Baru heat ya?"
Gue panik.
Heat gue memang udah dekat 2 hari lagi.
Tapi nggak sekarang.
Gue nggak bawa penekan.
Gaji bulan ini buat bayar kos dan obat adik.
Tangan kasar udah mau nyentuh lengan gue.
Gue pejam mata.
*DOR*
Suara tembakan peringatan.
Semuanya diem.
Hujan jadi satu-satunya suara.
"Siapa yang ganggu barang gue?"
Suara itu berat, dingin, dan bikin bulu kuduk gue berdiri.
Di ujung gang, berdiri seorang cowok tinggi pakai jas hitam basah kuyup.
Payung hitam di tangan.
Muka datar.
Mata gelap.
Di belakang dia, ada 10 orang dengan pistol.
*Jasver Veyron.*
Nama yang bikin seluruh Jakarta Utara diem kalau disebut.
Bos mafia Veyron Syndicate.
Umur 24.
Alpha dominan.
Kabarnya belum pernah nge-claim omega.
Nggak ada yang berani.
Keempat preman itu langsung buang rokok, angkat tangan.
"M-maaf Bos Jasver! Kami nggak tau dia orang lo!"
Jasver nggak jawab.
Dia jalan pelan ke arah gue.
Hujan bikin jasnya nempel di badan.
Bau pheromone dia nyebar.
Kayu cendana, gelap, dan... berbahaya.
Dia berhenti 20 cm di depan gue.
Gue nggak bisa gerak.
Nafas gue ketahan.
Dia ngeliat kardus di tangan gue.
"Roti?"
Gue angguk pelan.
"I-iya... buat adik gue."
Dia ngeliat ke empat preman itu.
"Potong tangan mereka yang nyentuh barang gue."
"NGAK- BOS TOLONG!"
Satu tembakan.
Selesai.
Gue kaget.
Tangan gue gemetar.
Jasver ngeliat itu.
Dia lepas jasnya, terus diselimutin ke badan gue.
Bau dia langsung nutupin bau preman-preman tadi.
"Lo nggak apa-apa?" tanyanya.
Suara dia rendah.
Nggak ada emosi.
Tapi nggak kasar.
Gue angguk pelan.
"T-tidak.
Makasih... Bos."
Dia ngeliat gue dari atas ke bawah.
Terus dia bilang ke anak buahnya,
"Bawa dia ke mobil.
Malam ini dia tidur di penthouse gue."
"APA?!"
Gue kaget.
"Bos! Gue nggak-"
"Lo nggak aman pulang sendiri.
Omega polos kayak lo, jalan sendirian malem-malem.
Bodoh."
Dia nggak nunggu jawaban.
Dua anak buahnya langsung angkat kardus gue dan nganter gue ke mobil hitam.
---
*00.30 WIB - Penthouse Veyron Tower*
Penthouse lantai 45.
Dingin.
Sepi.
Mahal banget.
Gue duduk di sofa, masih pakai jas Jasver.
Bau dia ada di mana-mana.
Kardus roti udah ditaruh di meja.
Anak buahnya bilang,
"Bos suruh lo mandi dan ganti baju.
Baju ada di kamar tamu."
Pintu kamar terbuka.
Jasver masuk.
Dia udah ganti kemeja hitam, rambut masih basah.
Dia ngeliat gue dari atas ke bawah.
"Nama lo?"
"Gevario... tapi panggil Geva aja."
"Umur?"
"22."
"Omega?"
Gue angguk pelan.
"Iya."
Dia diem.
Terus dia jalan mendekat.
Gue mundur dikit.
"Jangan takut.
Gue nggak nyentuh lo kalau lo nggak mau."
Dia duduk di depan gue.
"Kenapa lo jalan sendirian malem-malem?
Lo nggak tau gang itu sarang preman?"
Gue gigit bibir.
"Adik gue sakit.
Gue harus kerja dua tempat.
Kalau nggak, dia nggak makan."
Dia diem.
Terus dia bilang,
"Mulai besok, lo kerja buat gue."
"HAH?
Kerja apa?"
"Jadi omega gue."
Gue geleng.
"Gue nggak jual diri, Bos!"
Dia senyum tipis.
"Siapa bilang jual diri?
Gue nggak butuh seks.
Gue butuh orang yang bisa bikin rumah gue nggak kayak kuburan."
Dia ngeliat gue lama.
"Dan gue bayar lo 50 juta sebulan.
Plus gue bayarin pengobatan adik lo."
---
*01.30 WIB - Kamar Tamu*
Gue mandi pakai air panas.
Badan gue masih gemetar.
Di luar kamar, Jasver jaga.
Dia bilang,
"Kalau lo butuh apa-apa, ketuk pintu.
Gue nggak tidur."
Gue pakai baju tidur sutra hitam yang kebesaran.
Pas keluar, dia masih duduk di sofa luar.
Dia ngeliat gue.
Terus dia berdiri.
"Heat lo dua hari lagi kan?"
Gue kaget.
"Lo... kok tau?"
"Gue alpha.
Gue bisa cium."
Gue mundur.
"Jadi lo mau... sekarang?"
Dia geleng.
"Gue nggak maksa.
Tapi kalau lo heat, lo nggak bisa tahan sendiri.
Gue ada di kamar sebelah.
Kalau lo manggil, gue datang."
---
*02.00 WIB - Tengah Malam*
Gue nggak bisa tidur.
Panas.
Perut gue kram.
Heat datang lebih cepat.
Gue gigit bantal biar nggak teriak.
Pheromone omega gue keluar.
Manis, vanila, polos.
Pintu kamar terbuka.
Jasver masuk.
Dia cuma pakai celana tidur hitam.
Dadanya telanjang.
Dia ngeliat gue.
Terus dia bilang pelan,
"Lo manggil gue, Geva."
Gue nggak sadar.
Gue emang manggil namanya pelan-pelan tadi.
Dia jongkok di depan gue.
"Gue kasih lo pilihan.
Gue bantu lo pakai obat.
Atau gue bantu lo dengan cara gue."
Gue nggak bisa mikir.
Panas.
Gue cuma bisa angguk.
Dia nggak nunggu lagi.
Dia angkat gue pelan, terus baringin gue di kasur.
Tangannya dingin.
Tapi pas nyentuh kulit gue, panasnya nggak ketahan.
"Kalau sakit, bilang."
Gue angguk.
Ciuman dia jatuh di leher gue.
Kasat, tapi dalam.
Gigitannya pelan.
Bikin gue merinding.
"Jasver..."
Gue nggak tau gue ngomong apa.
Dia senyum kecil di leher gue.
"Panggil nama gue lagi."
---
*03.00 WIB - Setelahnya*
Ruangan panas.
Bau seks, keringat, dan pheromone kami nyampur.
Gue nggak bisa gerak.
Jasver masih di atas gue, nyangga badannya biar nggak nindih gue.
Dia ngeliat gue.
Muka dia basah keringat.
"Lo baik-baik aja?"
Gue angguk pelan.
"Nggak sakit... enak..."
Dia ketawa pelan.
"Bagus."
Dia cium kening gue.
"Selamat datang, Geva.
Lo sekarang omega gue."
Gue peluk dia lebih erat.
Karena untuk pertama kalinya, gue merasa aman.
TO BE CONTINUED
YOU ARE READING
mafia's gentle omega
General FictionWARNING⚠‼️ INI CERITA BL YA GUYS YAA, HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN! GENRE : 🅰️🅱️🅾️, ALPHA, BETA, OMEGA
