1

34 4 0
                                        

"Dean, revisi model dari klien udah kamu lihat belum?" tanya Raka sambil meletakkan map di meja.

Dean mengalihkan pandangan dari monitornya. "Yang bagian desain samping itu?"

"Iya. Mereka mau bentuknya lebih ramping, tapi kapasitas ruangnya jangan berkurang. Agak ribet sih."

Dean menarik kursinya sedikit mendekat ke meja kerja. "Kalau dipaksa ramping total, struktur dalamnya harus diubah. Kemungkinan posisi baterainya juga dipindah."

Raka menghela napas panjang. "Nah itu. Aku udah coba beberapa kali, hasilnya malah aneh."

Dean menatap layar komputer Raka beberapa detik. Jemarinya mulai menggerakkan mouse perlahan.

"Coba bagian lengkung belakangnya jangan terlalu turun," ucap Dean tenang.

"Biar siluetnya tetap tipis, tapi ruang dalam masih aman."
Raka memperhatikan layar dengan serius. "Oh... iya juga."

Dean melanjutkan, "Terus pencahayaan depannya jangan terlalu tajam. Desain sebelumnya kelihatan modern, tapi terlalu agresif buat konsep yang mereka mau."

"Kamu kadang bikin iri, De," kata Raka sambil tertawa kecil. "Kok bisa kepikiran detail beginian?"

Dean hanya tersenyum tipis. "Aku cuma ngebayangin kalau aku yang pakai produknya."
Belum sempat Raka menjawab, Maya dari meja sebelah ikut menyela.

"Kalian masih bahas revisi? Kepala divisi tadi nyari hasil render terbaru."

Raka langsung panik. "Hah? Sekarang?"

"Iya, katanya buat rapat sore."

Raka menoleh cepat ke Dean. "De, tolong bantu aku render finalnya. Kalau sendirian bisa pulang tengah malam aku."

Dean terkekeh pelan. "Oke. Kirim file-nya aja."
Maya menyandarkan tubuh ke kursinya sambil tersenyum kecil.

"Kadang aku heran, Dean ini sebenarnya manusia atau mesin desain."

Dean mengangkat alis. "Kalau mesin, harusnya aku nggak ngantuk tiap habis lembur."
Raka tertawa keras sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka.

Maya menggeleng lalu bertumpu pada sekat di meja Dean sembari celinguk ke kanan dan kekiri lalu berbisik kepada dua pria di depannya.

"Eh denger denger anak nya Pak Purba mau gantiin posisi Direktur utama, kabarnya nih ya besok pagi semua karyawan harus rapi dan bersih buat menyambut Direktur baru itu"

"Ah masa si May, tau dari mana lu" tanya Raka kepo.

"Tau lah, kan gw suka gosip sama anak HRD"

jawab Maya pelan sambil menyeringai kecil. "Katanya sih anaknya baru pulang dari luar negeri. Masih muda lagi."

Raka langsung bersandar antusias di kursinya. "Wah, jangan-jangan tipenya direktur galak yang hobi inspeksi dadakan."

"Bisa aja," sahut Maya. "Makanya besok jangan ada yang telat. Apalagi meja kerja lu berantakan begini."

Raka buru-buru menutup bungkus camilan di samping keyboardnya. "Ini namanya dekorasi kreatif."

Dean yang sejak tadi fokus pada layar hanya terkekeh kecil.

Maya melirik Dean. "Dean, lu nggak penasaran?"

"Penasaran apaan?"

"Direktur baru. Semua orang kantor lagi bahas dia."

Dean mengangkat bahu santai. "Selama kerjaan nggak nambah dua kali lipat, gue aman."

"Buset, datar banget hidup lu," keluh Raka.

Bertemu Kembali Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt