Prolog

27 2 0
                                        

Seorang gadis dengan pakaian serba hitam duduk bersimpuh di samping gundukan tanah yang masih basah. Rambut panjangnya yang berwarna ash grey ia biarkan terurai. Sepasang mata hijaunya menatap lurus ke arah batu nisan dengan bibir terkatup rapat. Jemari putih pucatnya gemetar hebat ketika bergerak mengusap permukaan nisan.

"Maaf," ucapnya lirih dengan suara bergetar. "Jangan pergi," pintanya. "Tolong... jangan seperti ini."

Vely tak tahu sudah berapa lama dirinya berdiam diri di sini, melakukan hal yang sama berulang kali. Tanpa mempedulikan sengatan hebat yang mengantam dadanya. Ia masih setia menunggu datangnya keajaiban---untuk menghilangkan nama Jasmine Aprillia yang terkukir pada batu itu. Memohon, agar ada seseorang yang datang dan mengatakan padanya bahwa semua kejadian ini hanyalah bagian dari mimpi buruknya.

Namun, tidak ada tanda-tanda harap itu akan terkabul.

Di antara derasnya air yang membasahi permukaan bumi, terdengar sebuah suara berat yang berhasil membekukan sekujur tubuhnya. "Pergi. Sejauh mungkin. Jangan pernah kembali lagi ke sini," ucapnya. "Sesulit itukah kamu untuk mengerti?"

Vely memutar kepala---sedikit mendongak---hanya untuk menatap singkat seorang pria yang kini berdiri tepat di belakangnya. Tangannya terulur, mengambil satu dari banyaknya bunga kamboja yang menghiasi gundukkan tanah di hadapannya. Ia amati dengan tatapan kosong.

Detik berikutnya, Vely merasakan sebuah tangan sedingin es hinggap di bahu kanannya. Mencengkram seakan ingin menghancurkannya. Dengan mudah pria itu menariknya berdiri dan memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Memaksa kakinya yang kebas untuk bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Guyuran air hujan tak mampu meredakan api yang berkobar dalam diri pria itu. Di antara deru napasnya yang kasar, pria itu kembali bersuara. "Apa kamu pikir sikap keras kepalamu ini bisa menyelesaikan masalah?!"

Alih-alih memberi jawaban, kedua tangannya justru masuk ke dalam saku outer. Mengeluarkan tiga botol bening berisi butir-butir kapsul. Ia tatap pria itu sejenak, sebelum bergerak memutar tutup dari masing-masing botol dan membalikkan posisinya. Membiarkan butir demi butir kapsul itu mencapai permukaan tanah.

"Aku hanya ingin berpamitan," ucapnya lirih dengan seulas senyum. "Sebelum... benar-benar pergi."

Dengan sisa tenaga yang nyaris lenyap, Vely menepuk pundak pria itu beberapa kali. Kemudian berjalan meninggalkannya. Tanpa menoleh lagi.

***

Catatan Penulis:

Terima kasih sudah menemukan & membaca cerita ini. Mohon dukungannya yaa.

Have a nice day 🩶

Salam,
Little

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 6 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Heart's CompassWhere stories live. Discover now