Garam, Lada, dan Mulut yang Tak Bisa Diam

20 3 2
                                        

Lantai dapur Le Ciel terpantul bersih seperti cermin, hampir selaras dengan denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal di ruang makan. Di sini, di jantung restoran terbaik kota, ketenangan adalah hukum yang sakral. Kecuali pagi ini, saat seorang perempuan dengan celemek yang masih kaku berdiri di depan meja kerja stainless steel sambil memegang seikat peterseli seolah itu adalah tongkat komando.

"Chef, sejujurnya ya, menurutku penataan stasiun kerja ini agak sedikit... counter-productive," suara Aqeela memecah kesunyian yang biasanya hanya diisi suara desis api. "Maksudku, kalau aku harus bolak-balik ke pendingin cuma buat ambil mentega, langkah kakiku dalam sehari bisa setara lari maraton. Belum lagi kalau kita bicara soal efisiensi waktu saat jam sibuk nanti. Oh, dan satu lagi, pisau ini? Kayaknya sedikit terlalu berat buat tanganku yang kecil ini, Chef. Apa nggak ada yang lebih ringan? Atau mungkin—"

"Aqeela."

Satu kata itu diucapkan dengan nada yang sangat rendah, namun sanggup menghentikan rentetan kalimat Aqeela dalam sekejap.

Harry, pria yang berdiri di ujung meja dengan seragam Chef putih bersih tanpa noda sedikit pun, perlahan meletakkan pisau fillet-nya. Dia tidak mendongak dengan wajah marah atau membentak seperti kebanyakan Head Chef di acara televisi. Dia justru mendekat, langkah kakinya nyaris tak terdengar, sampai dia berdiri tepat di hadapan Aqeela.

Aqeela mendongak, menantang tatapan pria itu dengan dagu terangkat. Dia tipe yang tidak akan mundur hanya karena tatapan tajam. "Ya, Chef? Aku cuma memberi masukan konstruktif."

Harry menarik napas pelan, aromanya tercium seperti campuran kayu manis dan detergen mahal. "Masukanmu diterima," ucapnya, suaranya terdengar sangat soft-spoken dan tenang, namun memiliki otoritas yang mutlak. "Tapi, Aqeela... di dapur saya, oksigen lebih baik digunakan untuk menjaga api tetap menyala daripada habis untuk kata-kata yang tidak perlu. Bisa fokus ke garnish-mu sekarang?"

Aqeela mengerjapkan mata. Dia sudah menyiapkan mental untuk dibentak, tapi ketenangan Harry justru membuatnya sedikit salah tingkah.

"Oke, oke. Aku bakal diam," gumam Aqeela sambil mulai memetik daun peterseli. Namun, belum ada sepuluh detik berlalu, dia kembali mendongak. "Tapi Chef, soal saus beurre blanc yang di sana itu, bukannya aromanya agak terlalu—"

"Aqeela," potong Harry lagi, kali ini dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya. "Kerja. Bukan yapping."

Aqeela mendengus pelan, pura-pura kesal meski dalam hati dia harus mengakui: suara Chef barunya itu ternyata lebih candu daripada aroma panggangan steak paling mahal sekalipun. Ini akan menjadi musim kerja yang panjang, pikirnya, dan dia pastikan Harry tidak akan pernah merasa bosan selama ada dia di sana.

Hells kitchen Heaven heartDonde viven las historias. Descúbrelo ahora