Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

15

228 42 10
                                        

Enjoy!





***

Puncaknya terjadi pada malam hari setelah rapat  anggaran yang sangat melelahkan bagi Mahawira. Dia baru saja menyelesaikan perdebatan sengit mengenai anggaran pertahanan yang dipotong secara sepihak oleh pendukung Wirandaka.

Mahawira lelah, dia kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan hancur dan sedikit kesepian. Entah mengapa dirinya sangat merindukan kehadiran sosok Nararya yang hangat, Nararya yang ceria seperti dulu saat mereka berdua masih berstatus sebagai tunangan.

Karena sekarang, setiap kali Mahawira mencoba mendekati Nararya, yang dia dapatkan hanya penolakan halus dari istrinya.

Mahawira merasa sangat lelah menjadi satu-satunya orang yang berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini. Pikiran bahwa mungkin dia memang tidak akan pernah bisa memiliki hati Nararya mulai menyelinap didalam benaknya dan membuatnya merasa putus asa.








Tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya yang seharusnya sudah terkunci itu terbuka secara perlahan. Sekar masuk membawa nampan berisi wedang jahe yang masih mengepulkan uap hangat dan cemilan ringan kegemaran Mahawira. Sekar masuk tanpa suara, wajahnya tampak sangat prihatin melihat kondisi Mahawira yang tampak lesu di balik tumpukan kertas.

"Gusti Pangeran, hamba melihat lilin di ruangan ini masih menyala dengan terang. Hamba hanya ingin memastikan Anda tidak jatuh sakit karena terlalu banyak memikul beban pikiran sendirian." ucap Sekar dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan.

Sekar meletakkan nampan itu di meja samping dan mulai berdiri di belakang kursi Mahawira. Tanpa menunggu izin, dirinya mulai memijat bahu Mahawira dengan gerakan yang sangat ahli. Jemarinya yang hangat memberikan sensasi kenyamanan yang sudah lama tidak dirasakan Mahawira.

Mahawira memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya merasakan sentuhan itu. Sentuhan Sekar terasa hangat dan nyata. Sentuhan itu membuatnya merasa sedang dilayani dengan sepenuh hati. Sangat berbeda dengan reaksi Nararya yang selalu membeku ketakutan saat disentuh Mahawira.

Ada saat di mana Mahawira hampir membiarkan Sekar terus berada di sana. Dia merasa lelah mengejar Nararya yang selalu lari darinya. Dia merindukan rasa diinginkan oleh seseorang tanpa perlu merasa seperti seorang penjahat.

"Sekar... kau seharusnya tidak berada di ruang pribadi pangeran saat malam sudah selarut ini. Ini melanggar aturan tata krama istana." Suara Mahawira terdengar parau dan menunjukkan pertahanan dirinya yang mulai goyah.

"Hamba hanya ingin menjadi tempat bagi Gusti untuk beristirahat sejenak dari segala kerumitan dunia luar." bisik Sekar tepat di dekat telinga Mahawira, embusan napasnya terasa hangat di kulit leher sang pangeran.

"Gusti tidak perlu terus-menerus mengejar seseorang yang tidak ingin disentuh atau dimiliki. Biarkan hamba yang melayani Anda dan memberikan ketenangan yang seharusnya menjadi hak bagi seorang calon penguasa besar seperti Anda."

Tangan Sekar mulai turun secara perlahan dari bahu menuju ke arah dada Mahawira. Mahawira terdiam, matanya terpejam dan batinnya sedang mengalami peperangan yang sangat hebat.

Separuh dari dirinya yang sedang lelah ingin menyerah pada kehangatan fisik yang ditawarkan Sekar sebagai cara mudah untuk melepaskan stres yang menumpuk. Tapi di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan Nararya yang dahulu ceria kembali muncul dengan sangat kuat.

Mahawira mengingat sesuatu, terakhir kali saat dia mencium kening Nararya, sikap istrinya itu sudah lebih mencair, namun setelah mendengar nama sekar disebut, Punggung Nararya kembali menegang. Mahawira tiba-tiba saja sadar jika dia menerima Sekar malam ini, Nararya benar-benar akan menutup hati dan mungkin akan pergi meninggalkannya.

NEGARI AMERTA (hajeongwoo)Stories to obsess over. Discover now