Prolog

11 3 1
                                        

Aku membuka mataku perlahan, dan dunia seketika terasa begitu familiar. Kamarku. Tempat di mana semua kenangan itu terukir, meskipun tak sebesar dunia luar, namun di sinilah aku merasa utuh. Kasur yang kutiduri tak berada pada ranjang seperti kebanyakan orang, melainkan langsung di atas lantai. Simpel, namun terasa begitu dekat dengan tanah, dengan bumi yang memberi aku tempat berpijak. Di depanku, sebuah meja lipat menempel di dinding, seakan mengatakan, "Jika kau butuh ruang, aku bisa menghilang."

Lemari merah di samping kanan kasurku berdiri tegak, setinggi dua meter, seperti penjaga setia di sudut kamar ini. Di sampingnya, sebuah cermin besar, seukuran tubuh manusia, memantulkan bayanganku yang tak banyak berubah. Dinding-dinding kamar ini dicat dengan warna biru yang lembut, namun lebih banyak dihiasi abu-abu, seolah menyimpan jutaan cerita yang tak pernah terucap.

Saat mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, aku merasakan keheningan pagi yang menyelimuti. Hanya ada serpihan cahaya yang perlahan-lahan merayap masuk melalui ventilasi atap, menyentuh lantai dengan lembut, seolah memberi salam pada ruang yang sunyi ini. Waktu belum sepenuhnya hadir, tapi pagi itu sudah menyapa dengan cara yang berbeda.

Tanganku meraih ponsel yang tergeletak di sampingku, dan aku menatap layar yang menunjukkan pukul 07:30, tanggal 18 Desember 2023. Dengan sedikit bingung, aku mematikan layar ponsel itu, seolah mengusir jejak-jejak waktu yang berusaha merayap masuk ke dalam kesunyian kamar ini. Perlahan, aku bangkit dari tempat tidur, tubuhku terasa berat seperti belum sepenuhnya sadar. Kini aku duduk, kedua kaki terulur panjang, menyentuh lantai yang dingin.

Aku mengusap mata, berusaha menghilangkan sisa-sisa kantuk yang masih menyelimuti. Dalam benakku, pikiran melayang ke hari-hari biasa, ke rutinitas yang tak pernah berhenti. Tapi, entah kenapa, kali ini semuanya terasa berbeda. Aku berhenti sejenak, menyadari sesuatu yang membuatku terkejut—liburan semester. Semuanya seketika menjadi jelas. Sekolah? Tidak, hari ini aku tak perlu memikirkan buku, ujian, atau pelajaran. Aku tersenyum tipis, mengurungkan niat yang tadinya sudah hampir terpatri dalam pikiranku.

Aku melangkah keluar dari kamar dan membuka pintu, tetapi baru saja aku menjejakkan kaki di luar, ibuku langsung menyambut dengan suaranya yang khas. "Rizal!! Baru bangun? Yang lain udah persiapan mandi, kok kamu malah santai-santai?!"

Aku terkejut mendengar ucapannya. Persiapan? Persiapan apa? Sejenak aku terdiam, mencari jawaban dalam pikiranku yang masih setengah terbangun. Tiba-tiba, ingatanku terjaga. Ah, iya! Hari ini kami akan liburan bersama keluarga besar. Kenapa aku bisa lupa begitu saja?

Setelah beberapa detik terdiam, aku akhirnya merespon, "Iya, mah, ini mau mandi, lagian tadi gak dibangunin."

"Tidak dibangunin darimana? Kamu itu susah banget dibangunin," jawab ibuku dengan nada sedikit jengkel.

Aku hanya bisa tersenyum canggung, merasa sedikit bersalah, namun cepat-cepat berbalik menuju kamar mandi. Tak ingin mendengar ocehannya lebih lanjut, aku buru-buru menutup pintu kamar mandi, berusaha untuk menenangkan diri sebelum berhadapan dengan apa yang ada di luar sana.

Selesai aku mandi aku memakai outfit terbaikku sambil bercermin, aku berpikir dalam hati padahal aku sekeren ini, masa gak ada yang mau tapi entahlah jalani saja takdirnya.

Aku menaiki mobilku lebih tepatnya mobil Bapakku, mobilnya ber-merek kijang inova berwarna abu-abu, aku sebenarnya tidak menyukai warna itu, tapi ayahku tetap kekeh tidak ingin mengubah warnanya, mobilpun berjalan menuju bandung, kita juga akan menginap satu hari, omong-omong juga kakak sepupu ku ikut di dalam mobil dalam artian dia mengikuti kegiatan keluarga ini.

Disaat suasana tenang yang diiringi lagu yang santai di earphoneku, sambil membuka aplikasi instagram, aku tidak sengaja menemukan akun instagram di beranda, aku mengecek profilnya, seorang gadis?, aku tidak mengerti apa arti dari bio seorang gadis itu, tapi jelas akun itu diikuti oleh sepupuku, pantas saja akun gadis itu muncul diberandaku ternyata karena rekomendasi dari instagram alesannya sepupuku mengikutinya, aku memperhatikan lagi, dia sedang memposting story instagram, aku melihatnya, dia memposting sebuah karyanya, yup yaitu gambaran sketsa dari tangannya, dia menggambar sebuah character manga entah tokoh siapa itu, tapi terlihat bagus,


haha waktu itu aku berpikir licik, bagaimana caranya jika aku mengikuti dia dan dia mengikuti balik?, aku mendapatkan ide brilian, kebetulan aku juga hobi menggambar, akhirnya aku memposting dahulu karya gambarku di story instagram, setelah itu aku kembali melihat story gadis itu lalu membalas karyanya, aku mengetik "gambarnya bagus", oke aku menekan tombol pesawat lalu terkirimlah pesannya.

Once ExistedStories to obsess over. Discover now