(*^▽^)/★*☆♪
Happy reading guys!!!
☆
☆
☆
☆
☆
Kamar presidential suite di lantai 45 salah satu hotel termewah di Gangnam itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal, keringat, dan hawa nafsu yang menyesakkan. Cahaya temaram dari lampu dinding hanya memperlihatkan siluet dua tubuh yang sedang bergumul di atas ranjang berukuran raksasa.
Sing, atau yang di dunia malam lebih dikenal sebagai Sean, sedang memacu gerakannya dengan ritme yang konstan dan bertenaga. Topeng perak yang menutupi bagian atas wajahnya berkilat dingin setiap kali terkena cahaya, menyembunyikan sepasang mata yang sebenarnya kosong dan tanpa ekspresi.
"Ahhh! Sean! Lebih... lebih keras lagi! Sial, kau benar-benar luar biasa!" erang laki-laki di bawahnya, seorang pengusaha kaya yang sengaja membayar puluhan ribu dollar hanya untuk satu malam ini. Bahasa vulgarnya memenuhi ruangan, namun Sing seolah menulikan telinganya.
Laki-laki itu mencoba meraih tengkuk Sing, menariknya ke bawah untuk sebuah ciuman panas, namun Sing dengan sigap memiringkan wajahnya. Dia tidak pernah berciuman dengan pelanggan. Itu adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang dia miliki, bahwa bibirnya bukan bagian dari komoditas yang dia jual.
Tubuh Sing yang tegap, gagah, dengan kulit putih terawat itu terus bekerja layaknya mesin. Rahang tegasnya mengeras saat dia mencapai puncak permainannya. Tak lama kemudian, erangan panjang sang pelanggan menandakan bahwa pria itu telah mencapai batasnya, sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kelelahan yang luar biasa dan rasa puas yang tak terkira.
Sing turun dari ranjang dengan langkah gontai. Dia tidak langsung memakai pakaiannya. Dia berjalan menuju kamar mandi yang berlapis marmer, menutup pintunya rapat-rapat, dan menguncinya.
Begitu dia berdiri di bawah pancuran air dingin, benteng itu runtuh. Bahunya yang lebar bergetar hebat. Sing menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan tangisnya pecah tanpa suara di bawah deru air.
"Aku benci ini... aku benci diriku sendiri," bisiknya di sela isak tangis yang menyesakkan dada.
"Aku ingin berhenti.... Sekali saja,"
Setiap sentuhan pelanggan terasa seperti kotoran yang menempel di jiwanya. Sing bukan sekadar gigolo, dia adalah seorang pemuda yang kehilangan identitasnya sejak melarikan diri dari panti asuhan yang mengeksploitasi anak-anak di usia muda.
Nama 'Sing' adalah rahasia, dan marganya telah hilang ditelan kerasnya jalanan Seoul.
Dua puluh menit kemudian, Sing keluar dari kamar mandi dengan wajah datar. Ekspresi rapuhnya telah dia kubur dalam-dalam. Dia mengenakan pakaiannya, merapikan rambutnya, dan menatap cermin. Sean telah menghilang, kini yang tersisa hanyalah Sing, pemuda tangguh yang akan pulang menemui dunianya yang sebenarnya.
Sing menghentikan motor besarnya di depan sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang tenang. Dia menarik napas panjang, memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang indah, lalu melangkah masuk.
"Kak Sing? Itu kau?" sebuah suara lembut menyambutnya.
Di ruang tamu yang sempit namun rapi, seorang pemuda manis duduk di atas kursi roda. Kim Gyumin, adik angkat Sing, sudah menantinya dengan wajah berbinar. Tubuhnya yang kurus akibat penyakit mematikan itu selalu membuat hati Sing teriris, namun Gyumin selalu punya cara untuk tersenyum.
"Hei, anak nakal. Kenapa belum tidur? Ini sudah lewat jam dua pagi," sapa Sing sambil menghampiri Gyumin dan mengacak rambutnya sayang.
"Aku tidak bisa tidur sebelum melihat wajah Kakak," sahut Gyumin sambil memegang tangan Sing. "Kakak... kau pasti lelah sekali bekerja lembur di hotel terus. Baumu seperti sabun hotel yang mahal."
YOU ARE READING
Obsession Or Love
RomanceSing Sean terpaksa menjadi pemuas nafsu elit karena tuntutan hidup, dia harus membiayai pengobatan rutin adik angkatnya yang terkena penyakit mematikan, di dunianya dia terkenal sebagai sean, dia adalah sing yang bahkan dari kecil sudah kehilangan m...
