Malam ini hampir terasa seperti malam-malam sebelumnya. Aku berbaring di kamarku sambil melihat retakan di sudut kanan yang masih terasa ada meskipun lampu kamar sudah dimatikan.
Jam di ponselku menunjukkan pukul 22.37.
Udara malam ini terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Mendengarkan musik adalah hal yang paling menenangkan yang bisa aku pikirkan. Aku sedang mendengarkan musik dengan earphone yang aku miliki di dalam kesunyian kamarku.
Musik membantuku untuk tidak perlu memikirkan emosiku sendiri yang seringkali naik turun tanpa sebab yang benar-benar bisa aku pahami.
Terkadang hidupku penuh dengan semangat, keceriaan, dan tawa. Tetapi di lain sisi hidupku juga dipenuhi kesedihan dan kekosongan.
Mengapa aku punya kehidupan yang seperti ini?
Pagi datang dengan cepat. Aku tidak ingat kapan tepatnya aku tidur.
Ketukan pintu terdengar. Pintu diketuk tiga kali dengan ritme yang lambat, seperti seseorang yang ingin berbicara denganku tapi tidak ingin mengganggu.
Tok... Tok... Tok...
Aku tidak menjawabnya.
Suara ketukan pintu terdengar lagi tapi kali ini sebuah suara menyertainya.
"Nael, kamu sudah bangun nak?"
Aku menghela nafas sebentar sebelum menjawabnya. "Huft... sudah, Bu."
Pintu dibuka. Aku bergegas mengambil posisi duduk. Seorang wanita separuh baya dengan rambut hitam panjang yang bergelombang dan mata kecoklatan sepertiku membuka pintu kamarku.
Ekspresi ibuku terlihat seperti sedang memendam sesuatu. Matanya tidak langsung menatapku, tapi memandang lemariku yang sudah mulai usang terlebih dahulu.
Hening sebentar sebelum Ibuku mulai berbicara. "Nael, ibu ingin membicarakan sesuatu yang penting."
Ibu duduk di tepi tempat tidurku.
"Ibu ingin membuat kita pindah dari sini ke daerah pesisir," ucap ibuku. "Apakah kamu tidak masalah?"
Hening sebentar. Aku merasa bahwa pindah bukanlah sesuatu yang masalah karena aku tidak punya satupun teman disini.
"Aku tidak masalah, Bu," ucapku singkat.
Ibuku hanya diam, dia tidak berusaha mengejar.
"Baiklah, kita akan berangkat besok," ucap ibuku sambil berdiri.
Ibuku keluar dari kamarku.
Besok...
Besok bukanlah waktu yang lama maupun waktu yang cepat. Tapi kurasa meninggalkan tempat ini tidak akan berarti apapun. Aku sudah tinggal disini 16 tahun sejak aku lahir, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang berarti untukku.
Aku memperhatikan lemariku yang ada di sebelah kanan ruangan. Lemari itu diberikan oleh ibu untukku lima tahun yang lalu, waktu itu aku baru saja menginjak usia 11 tahun dan kehidupanku waktu dulu lebih baik dibandingkan sekarang.
Dulu ibu dan ayah masih bersama, sewaktu aku menginjak usia 11 tahun mereka terlihat bahagia sekali. Tapi semua berubah tepat 3 tahun yang lalu, ibu dan ayahku mengalami konflik yang besar hingga pada akhirnya mereka bercerai.
Waktu itu aku sedih sekali karena dua orang yang sangat aku sayangi kini berpisah.
Aku berdiri dan berjalan menuju lemari itu. Aku membuka laci lemari dan menemukan foto kami bertiga sewaktu kami sedang merayakan ulang tahunku yang ke-11.
"Sayangnya semua ini hanyalah kenangan semata," gumamku.
Aku meletakkan foto itu ke meja di kamarku. Aku menutup pintu lemari.
Aku rasa aku harus mulai berkemas-kemas sekarang, pikirku.
Aku berkemas-kemas hingga matahari sudah berada di posisi tertingginya. Aku mengemas banyak hal, mulai dari pakaian-pakaianku, foto-fotoku sewaktu masih kecil, hingga akhirnya mataku tertuju pada satu foto yang sedari tadi tergeletak di mejaku-foto keluargaku.
Aku hanya memperhatikan foto itu. Memperhatikan terlalu lama hingga waktu terasa lebih lama dari biasanya.
Aku menghela nafas sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil foto itu dan menyimpannya di dalam kotak yang terlihat sudah lusuh.
Aku mengambil ponselku. Jam baru menunjukkan waktu 13.25.
Setelahnya aku hanya duduk di kasurku karena aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi.
Suara ketukan kembali terdengar.
"Nael, kamu sudah berkemas?" tanya ibuku dari balik pintu.
"Sudah, Bu."
"Apakah kamu yakin tidak masalah pindah dari sini?"
Hening lagi. Rasanya seperti semua hal ingin membuat keheningan untukku.
"Ibu hanya ingin memastikan jika kamu benar-benar tidak masalah untuk pindah dari sini."
"Aku yakin, Bu."
Tidak ada jawaban lagi dari ibu. Mungkin ibu memutuskan untuk pergi.
Malam akhirnya tiba, dan aku memperhatikan lingkunganku dari jendela untuk terakhir kalinya. Malam terasa dingin seperti kemarin tapi aku merasa bahwa malam ini lebih sunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pasang Surut
Fiksi UmumBerkisah tentang seorang anak laki-laki, Nael Ardavan yang berjuang untuk melawan "pasang surut" yang ada di dalam hidupnya.
