Happy reading all 🐧
🍃🌿🍃
Lobi utama Dirgantara Group bukan sekadar ruang tunggu; itu adalah monumen kekuasaan. Dinding-dindingnya dilapisi marmer Carrara putih dengan urat-urat abu-abu yang presisi, sementara lantainya terbuat dari granit hitam yang dipoles hingga menyerupai cermin. Di ruangan seluas lapangan basket itu, udara selalu beraroma kayu cendana dan kemewahan yang dingin. Namun pagi ini, kesunyian yang biasanya menjadi standar operasional prosedur di gedung tersebut harus terusik oleh hiruk-pikuk kru produksi.
Kabel-kabel hitam tebal melata di atas lantai granit seperti ular, menghubungkan lampu-lampu studio berukuran raksasa dengan sumber daya listrik. Payung-payung reflektor berwarna perak berdiri tegak, siap memantulkan cahaya yang akan menyulap kenyataan menjadi fantasi.
Di tengah semua kekacauan yang terorganisir itu, seorang wanita berdiri dengan ketenangan yang ganjil. Aura Selina Maheswari.
Aura tidak sekadar berdiri, ia menguasai ruang. Dengan tinggi badan 184 sentimeter, ia sudah cukup untuk membuat sebagian besar pria di ruangan itu merasa kecil. Namun pagi ini, ia mengenakan sepatu stiletto sepuluh sentimeter dari koleksi terbaru desainer ternama, membuatnya menjulang dengan keanggunan seorang dewi Olimpus. Gaun yang ia kenakan adalah karya seni—satin sutra berwarna merah darah yang melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lengkungan punggungnya yang halus dan garis bahu yang tegas.
"Aura, tolong miringkan wajahmu sepuluh derajat ke kanan. Aku ingin menangkap bayangan di tulang pipimu," teriak sang fotografer, seorang pria paruh baya yang sudah memenangkan puluhan penghargaan internasional.
Aura tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggeser posisinya dengan gerakan yang begitu mulus, seolah-olah ia tidak memiliki tulang, melainkan terbuat dari cairan yang indah. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napas, dan ketika ia membuka matanya, tatapannya berubah. Itu bukan lagi tatapan Aura yang ramah yang tadi menyapa kru dengan senyum tulus, itu adalah tatapan seorang predator yang elegan. Tajam, dingin, namun sangat memikat.
Ceklek! Ceklek! Ceklek!
Kilatan blitz menyambar-nyambar, memicu silau yang akan membuat orang biasa sakit mata, namun Aura bahkan tidak berkedip. Ia adalah seorang profesional. Di usianya yang ke-24, ia telah memahami bahwa tubuhnya adalah sebuah instrumen, sebuah alat komunikasi visual yang harus dikelola dengan disiplin baja. Ia tahu betul bagaimana cahaya jatuh di atas kulitnya yang sewarna madu, dan ia tahu bagaimana cara menonjolkan jam tangan 'The Chronos' di pergelangan tangannya tanpa terlihat seperti sedang berjualan.
"Sempurna! Kamu luar biasa, Aura!" puji sang fotografer dengan antusiasme yang jarang ia tunjukkan.
Aura hanya memberikan senyum tipis yang sopan. Ia tidak besar kepala. Baginya, pujian adalah bagian dari kontrak kerja, sama seperti jam kerja yang panjang dan kelelahan yang mulai merambat di betisnya. Ia sudah berdiri di posisi itu selama tiga jam, namun tidak sedetik pun ia mengeluh. Kesabaran adalah nama tengahnya.
Di sudut lain lobi, para karyawan Dirgantara Group yang sedang melintas mulai berbisik-bisik. Mereka jarang melihat pemandangan seperti ini. Biasanya, lobi ini hanya berisi orang-orang berjas kaku yang bicara tentang margin keuntungan dan akuisisi saham. Kehadiran Aura seperti membawa warna yang terlalu terang ke dalam dunia yang monokrom.
Namun, suasana cair itu mendadak membeku ketika pintu kaca otomatis di pintu masuk utama terbuka dengan suara desis yang halus.
Waktu seolah melambat. Derap langkah kaki yang berat dan berirama mulai menggema, mengalahkan suara musik latar yang diputar kru produksi. Seseorang baru saja tiba, dan kehadirannya membawa tekanan udara yang berbeda—lebih berat, lebih dingin, dan jauh lebih mengintimidasi.
YOU ARE READING
The Tallest Shadow
RomanceMy first story Arjuna Dewa Dirgantara adalah definisi dari kekuatan dan kedinginan. Dengan tinggi badan hampir dua meter dan kekuasaan yang mampu mengguncang bursa saham dalam semalam, ia adalah 'Raksasa' yang tak tersentuh. Baginya, pernikahan d...
