Chapter One

8 3 0
                                        

"Bun, kita mau kemana ini udah malam, Bun???"

Ujarku pelan, gadis berusia dua belas tahun yang hanya bisa menunduk menatap aspal jalanan. Namun, pertanyaanku tak pernah mendapat jawaban yang pasti. Angin malam berhembus dingin, menyatu dengan kabut tebal yang menjulang tinggi di hulu, seolah menyembunyikan sesuatu yang besar.

"Kita akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk anak dari kakak sepupumu, sayang," jawab Bunda apa adanya.

Itu bukan jawaban yang aku cari. Ada getar aneh di dadaku, firasat buruk yang berusaha aku tepis. Aku memilih diam, membiarkan motor yang kutumpangi melaju membelah malam. Hingga akhirnya kami berhenti di depan sebuah gedung rumah sakit yang sangat besar.

Aku hanya bisa mengikuti langkah Bunda dari belakang, mata kecilku terus mengamati sekeliling.

"Bun... Bunda!!!! Kita ngapain kesini terus ini apa???"

Tanganku menunjuk plastik belanjaan yang Bunda pegang, bungkusan obat dari apotiek yang baru saja dibelinya. Wajah Bunda terlihat begitu keriput dan lelah, kulit tangnya pucat pasi. Siapa sangka di balik senyum tipisnya, tersimpan rasa sakit yang bahkan aku tak mengerti apa itu.

"Bukan apa-apa, sayang. Ini cuma obat buat bunda minum," jawabnya pelan.

Kami masuk ke sebuah ruangan. Seorang dokter muda dan dua perawat menyambut kami. Percakapan mereka terdengar samar, namun kalimat terakhir dokter itu menembus indra pendengaranku bagai ditusuk pisau tajam.

"Ibu, lukanya sudah sangat parah ditambah penyakit yang kini ibu derita.......
" Dokter muda itupun menjeda kalimatnya sebelum ia kembali mengatakan sesuatu"
kemungkinan besar Kami harus melakukan amputasi pada kaki Ibu."

Dunia serasa berhenti berputar. Aku tak tahu harus berkata apa.

Waktu terus berlalu hingga pukul tiga sore. Kami tak langsung pulang, melainkan mampir ke ruangan anak, alasan Bunda tadi-menjenguk kakak sepupuku. Namun hatiku tahu, ada banyak kebohongan yang mulai terkuak.

Akhirnya kami kembali ke rumah. Sebuah rumah sederhana di pinggir kota yg tampak nyaman dan luas, meskipun tidak terlalu besar rumahnya namun cukup nyaman untuk di tempati di tambah halaman rumah yg tampak luas di penuhi taman bunga mawar putih. Rumah yang cukup indah, namun terasa begitu sunyi, bagai tak berpenghuni.

Di rumah ini, hanya ada aku,Bunda, dan Kakak Keempat. Lalu... kemana Ayah? Kemana Kakak-kakakku yang lain?

Aku tahu, Ayah pergi jauh sejak aku berusia sepuluh tahun. Aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa ia sibuk bekerja, atau mungkin ia lupa pulang. Namun kenyataan pahit itu akhirnya kudengar juga. Ayah pergi bukan karena kerja, tapi karena lari dari kesalahan. Ia sering keluar-masuk penjara karena mabuk dan melakukan kekerasan terhadap Bunda.

Dan fakta yang paling menghancurkan hatiku...

Aku terlahir karena sebuah kesalahan.

Saat aku didalam kandungan, Ayah sedang dipenjara. Bunda bahkan sempat berpikir untuk membuangku. Apakah aku seburuk itu sampai kalian ingin membuangku?

Untungnya, ada Kakak Ayahku yang menyelamatkanku. Dialah yang merawatku saat usiaku masih nol bulan, hingga akhirnya Bunda mau menerimaku kembali.

Me and the Cruel MafiaStories to obsess over. Discover now