"Syeira Tizah Naudisya-atau yang akrab dipanggil Tiza-adalah definisi dari keteduhan. Wajah manisnya dihiasi tahi lalat di samping bibir dan di atas alis yang tertata rapi, menciptakan sebuah simfoni paras yang menenangkan siapa pun yang memandang. Namun, di balik senyum manisnya, tersimpan keteguhan hati yang luar biasa.
Dunia pesantren yang dicintainya baru saja usai dengan predikat santri terbaik kedua di tangan. Tiza siap membuka jendela dunia, namun takdir ternyata menuliskan cerita yang berbeda dari rencana-rencananya. Ia yang bermimpi kembali menyelami kitab-kitab di pondok lain, justru dipaksa keadaan untuk menjadi 'menara' bagi orang lain. Sebagai anak sulung yang memikul tanggung jawab tulang punggung keluarga, Tiza harus merelakan egonya demi bakti. Ia kini berdiri di depan kelas sebagai pengajar, menjalankan permainan takdir yang membawa langkahnya menuju pengabdian yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Hari pertama membuka lembaran dunia dimulai dengan sebuah kejutan yang mendebarkan. Di saat kesadarannya masih tertinggal di alam mimpi, suara lembut Umma-wanita yang melahirkan dan merawatnya dengan limpahan kasih sayang-membangunkannya dengan kabar yang mengejutkan. Bapak Kepala Sekolah menelepon; Tiza dipanggil untuk mengikuti Rapat Kerja (Raker) pertama di SDIT Al-Baihaqi pagi itu juga.
Dalam kondisi nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Tiza sempat dilanda kebingungan. Namun, tanggung jawab memaksanya bergerak cepat. Ia segera menyiapkan diri, memilih gamis berwarna biru dongker yang dipadukan dengan hijab syar'i menjuntai menutupi dada. Tak ada riasan tebal, hanya sapuan tipis bedak dan sedikit liptint untuk menyamarkan pucat di wajahnya yang teduh.
Setelah merasa siap, Tiza bergegas. Ia tak lupa mencium tangan Umma dan berpamitan kepada Abi-laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, sosok pahlawan yang selalu ada untuknya dan adiknya. Pagi itu, dengan dibonceng sang Abi, Tiza berangkat menjemput takdir barunya di bawah naungan menara ilmu yang berbeda.
"Jendela dunia tidak selalu terbuka ke arah yang kita inginkan, tapi ia selalu terbuka ke arah yang kita butuhkan untuk tumbuh."
#fitrahdiantara2menara#
YOU ARE READING
fitrah di antara dua menara
Teen FictionIa tak pernah meminta rasa ini hadir, apalagi pada dua murid yang menimba ilmu darinya. Di sekolah yang modern dan tempat ngaji yang khidmat, ia bergelut dengan nuraninya. Ini adalah catatan tentang kesabaran, tentang bagaimana ia memendam rasa dem...
