Bab Satu

6 1 0
                                        

Aku keluar dari mobil dan langsung dihadapkan dengan ribuan naskah-naskah yang menanti. Inilah yang kusebut sebagai 'kehidupan'. Sudah bertahun-tahun aku mengabdi kepada pekerjaanku ini.

Hari ini aku harus banyak-banyak membaca naskah karena sudah deadline. Naskah kali ini adalah cerita horor. Aku harus membacanya pelan-pelan untuk bisa masuk ke dalam cerita. Ya, meski sudah dibatas masa, aku harus tetap teliti.

Penulisnya agak cerewet. Ia tidak mau naskahnya diubah-ubah, katanya tulisan itu sudah perfect—sempurna. Tapi menurutku, masih banyak tulisan penulis-penulis yang menulis hal-hal tidak perlu. Seperti yang sedang aku periksa ini.

Udara entah sangat lembab. Rak-rak buku berjajar di dinding yang dingin di belakangku sebagai latar. Bekerja di sekeliling buku-buku sangat membantuku dalam menyelesaikan banyak naskah. Aku tidak suka tempat berisik atau ramai seperti di kantor.

Ketika diberi tugas, aku selalu meminta untuk bekerja di luar kantor. Ketika mereka memanggilku si kuda—karena tubuhku yang kurus dan jangkung, aku sudah terbiasa dengan celotehan itu. Maka aku terima-terima saja panggilan itu selama enam tahun ini.

Jujur, tak ada rasa dendam di dalam hatiku. Aku lebih memilih melepaskan segala hal pada kehendak tuhan. Biar tuhan yang membalas.

Selama aku bekerja di penerbitan swasta sebagai proofreading, tak ada yang dapat menggoyahkan jiwaku untuk terus bekerja. Karena menurutku, bekerja salah satu bentuk pengabdianku sebagai manusia di muka bumi ini.

Kadang tugas-tugas pekerjaanku bawa sampai rumah. Tak ada waktu bermain, tak ada waktu untuk bersosial. Aku hanya harus fokus menyelesaikan naskah-naskah yang sedang kukerjakan ini.

Suatu malam, aku lupa bahwa ada janji temu ke dokter gigi. Akhirnya, pada akhirnya aku harus tetap membawa naskah-naskah itu ke sana. Sambil menunggu aku tetap membaca dan mendengar perintah atasanku untuk selesai minggu ini.

Tak bisa kutolak penawaran itu, meski naskah ini sebetulnya sudah rampung beberapa bulan lalu. Namun, entah karena keteledoran diriku, ketika masuk di tahap menyunting, rupanya masih ada kalimat yang tak masuk akal.

Editor meminta atasanku untuk membaca ulang naskah ini, sebelum akhirnya kembali ke meja editor. Ini sekaligus mengerjakan dua tugas. Satu naskah cerita anak-anak yang kupegang beberapa minggu lalu, dan naskah cerita horor yang seharusnya sudah rampung.

Bukan aku tak suka dengan pekerjaanku. Tapi, memanusiakan manusia juga itu, kan, kewajiban kita semua. Ya, mesti kuakui pekerjaan ini sungguh membebaniku. Apalagi harus menambah tugas tambahan sebagai junior.

Sebagai junior, di kantor tak mudah. Aku harus benar-benar tahan kuping dan perilaku dari senior-seniorku. Ada yang kalem saja, agresif, hingga oportunis. Kadang aku diminta untuk membantu pekerjaan mereka.

Meski aku tak mahir, tapi sedikitnya aku bisa mengerjakannya. Tanpa bayaran, hanya berharap pamrih kepada mereka, jika suatu saat aku kenapa-kenapa.

Naskah yang kesekian kali ini, cukup menyita waktuku. Aku jadi jarang membaca bukuku. Setiap hari harus berkutat dengan naskah-naskah kotor yang belum terjamah editorku ini.

Memang banyak salah tik, atau penggunaan tanda baca. Aku kenal betul siapa penulis ini. Ia adalah penulis yang tak mau tulisannya diubah lebih banyak yang diminta.

Ia menganggap tulisannya sudah sempurna, dan itu membuatku jijik. Seminggu kemudian, naskah yang diminta aku laporkan kepada atasanku. Reaksi atasanku tidak seperti yang kuperkirakan.

Bukannya berterima kasih kepadaku, ia memarahiku karena telat sepuluh menit dari waktu yang seharusnya. Di jalan aku terhalang dengan sikap senior-seniorku. Mereka memperlakukanku seperti anak kecil.

Atasanku meminta naskah yang lain untuk dibaca. Masa tenggatnya tiga hari. Ia sungguh kehabisan waktu, katanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menuruti kemauan atasanku.

Ditambah dua naskah yang perlu diperiksa ulang selembar tiga ratusan. Ini membuatku jengkel. Keseluruhan, aku membaca tiga naskah sekaligus dalam sehari untuk menyelesaikan target dari tempat kerjaku.

Sebelum pulang, aku dicegat oleh senior-seniorku. Mereka mengatakan akan membantuku menyelesaikan tugasku. Aku senang awalnya, sampai pada hari di mana tugas itu diserahkan, senior-seniorku memberi komentar kepada rekan kerja lainnya bahwa aku lamban dalam bekerja.

Itu membuat hatiku sakit. Naskah yang tadinya berada di senior-seniorku, tak pernah dikembalikan. Atasanku marah besar mengenai ini. Ia membuatku cuti dalam beberapa bulan.

Seharian aku di rumah. Tanpa pekerjaan yang membebaniku. Di satu sisi, aku bisa membaca buku-bukuku dengan tenang. Tak ada pekerjaan yang harus kupikirkan. Berhari-hari aku berada di dalam rumah.

Tanpa keluar, aku menghabiskan waktuku sendirian. Kadang aku menulis cerita pendek untuk menghibur diri. Kalau itu belum cukup menghibur, aku membaca beberapa bait puisi.

Betapa tenangnya hidup tanpa beban pekerjaan. Tanpa terasa aku menghabiskan waktu di rumah selama sebulan. Dan aku masih belum juga dipanggil dari kantor. Apa yang sebetulnya terjadi, pikirku.

Apakah aku dipecat secara halus? Memang kesalahan waktu itu cukup besar. Salahku, mempercayai orang asing daripada diriku sendiri. mau tidak mau aku menghubungi pihak kantor untuk memastikan posisiku.

Apakah masih aman atau sudah disingkirkan. Tak ada kabar untuk diriku, dari suara telepon itu. Dan mungkin aku harus menghabiskan waktu sendiri di rumah lagi. Untuk persiapan, aku berbelanja keperluan sehari-hari seperti makanan. Serta mengatur kebutuhan lainnya seperti jadwal mencuci baju, hingga membayar tagihan listrik.

Semuanya kukerjakan seharian. Waktu yang cukup mengisi waktu luangku selama cuti bekerja. Tak lupa aku menyunting tulisan-tulisanku yang selama ini kutulis. Kudengarkan musik di halaman depan, sampai tertidur pulas.

Entah saat itu mengapa diriku tidak pernah keluar rumah, paling sekedar berbelanja dan mencuci pakaian. Berhari-hari di rumah membuat sekitar rumahku gempar. Para tetangga banyak melontarkan komentar-komentar miring mengenai aku.

Mereka berkomentar bahwa diriku selama ini tidak bekerja. Mereka membandingkan diri mereka dengan diriku yang selama ini selalu di rumah. Sementara mereka bekerja setiap hari.

"Enak sekali hidupnya hanya di rumah," begitu kedengarannya dari luar. Aku tak mau ke luar rumah. Takut terjadi apa-apa. Aku biasa menghindari masalah daripada harus menghadapinya.

Mungkin orang akan berkomentar bahwa aku ini pengecut. Tapi, tak apalah. Yang terpenting aku tetap hidup menikmati masa cuti. Persetan dengan cemoohan orang-orang.

Dua bulan aku di rumah. Para tetangga semakin gerah. Dari luar kudapat mendengar suara-suara mereka sedang membicarakan diriku. Salah satu suara yang tertangkap olehku adalah "kalau berhenti kerja, pasti harus mengirim surat pengunduran diri."

Aku tak mengerti mengapa mereka menganggap diriku sudah tidak bekerja. Mereka pun tidak mau tahu bahwa sebenarnya diriku hanya cuti beberapa bulan. Toh, biarkan saja.

Namanya juga manusia. Aku tak meladeni ocehan-ocehan itu. Aku hanya fokus menyelesaikan naskahku selama sebulan ini. Cerita mengenai seorang yang memuja seorang kekasih yang jauh.

Suatu siang, telepon di rumahku berdering. Itu rupanya dari kantor. Atasanku memintaku untuk hadir ke kantornya. Aku pun menyanggupi. Sampai di sana, aku harus menghadapi wajah-wajah masam karyawan lain.

Terlebih senior-seniorku yang cenderung masih bergosip mengenai diriku. Saat itu, atasanku tidak memberikan tugas. Aku hanya diminta duduk dan mendengar ia berceloteh.

Katanya ia sangat mengapresiasi kerjaku. Aku pun disanjung-sanjung, sampai pada akhirnya aku sudah tidak bekerja lagi di sana. Aku dipecat. Dan sebelum kembali ke rumah, aku mendengar para seniorku merencanakan sesuatu kepadaku.

Suara yang kutangkap, mereka ingin membuat ban mobilku kempes. Aku pun buru-buru memeriksa mobilku di halaman parkir. Ban-ban masih dalam keadaan baik-baik saja. Setelah itu aku berkendara ke rumah lagi.[*]

WisikOù les histoires vivent. Découvrez maintenant