Prologue
Darah itu hangat.
Aku, Seraphina de Raventhorn, Putri Mahkota Imperium Elyndor, mempelajari fakta itu saat bilah guillotine mencium tengkukku. Rakyat yang dulu kuanggap sebagai mawar yang harus kulindungi, kini melempar duri ke arahku.
Di bawah panggung, sepasang sepatu bot kulit naga hitam berdiri tanpa noda. Milik Archduke Cassimir Drayce. Anjing Gila dari Utara. Algojoku hari ini.
"Seraphina de Raventhorn," suara Hakim Agung menggema. "Bersalah atas maleficium dan pengkhianatan. Hukuman: mati."
Maleficium. Ilmu hitam. Lucu. Satu-satunya sihir yang kukenal adalah sihir ibuku, Helena, yang membuat musim dingin di taman mekar. Sihir yang sama yang membunuhnya.
"Apa kata terakhirmu, Yang Mulia?" Cassimir berlutut. Untuk pertama kalinya, mata kelabu badainya menatap mataku. Bukan menatap lantai seperti ksatria patuh lainnya. Menatapku.
Di kehidupan pertama, aku terlalu takut untuk bicara. Di detik terakhir ini, aku memilih jujur.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, Duke," bisikku, "jangan jadi pedang orang lain. Jadilah pedangmu sendiri."
Ada yang retak di rahangnya. Hanya sedetik. Lalu dia berdiri. "Laksanakan."
Dingin. Lalu gelap.
Dan saat kegelapan itu pecah, aku bersumpah pada dewa mana pun yang mendengar: Jika aku kembali, aku tidak akan menjadi mawar yang dipetik. Aku akan menjadi durinya.
---
Aku terbangun oleh bau anyelir pemakaman dan kebohongan.
Peti mati obsidian ibuku, Helena, terbaring di Katedral Cahaya. Lima tahun sebelum kepalaku dipenggal. Hari di mana Seraphina yang lama mati karena naif. Hari di mana Seraphina yang baru lahir dari dendam.
"Phina... kau pucat sekali," High Prince Alistair Caelwyn menyentuh punggung tanganku. Hangat. Palsu. Dulu kehangatan ini kurasa seperti matahari. Sekarang terasa seperti besi yang dipanaskan sebelum mencap kulit.
Aku menarik tanganku. "Jangan panggil aku Phina. Hanya Ibu yang boleh."
Alistair tersentak. Di sebelahnya, Lady Celestine Virelith menutup mulut dengan kipas bulu putih. "Kakak Sera, kau masih shock..."
Sera. Bahkan nama panggilan pun mereka curi.
Aku melangkah melewati mereka. Gaun berkabung hitamku menyapu lantai marmer. Di depan peti, Ayahku, Imperator Thaddeus V, berdiri kaku. Di lengannya, Grand Duchess Lilith Evernight menempel seperti ular, matanya sembab sempurna.
Pembunuh.
Amarah itu dingin. Setajam es di Utara. Setajam mata yang sekarang mengawasiku dari barisan ksatria paling belakang.
Archduke Cassimir Drayce. Dia bahkan belum menatapku lebih dari sedetik. Tapi di kehidupan pertama, dialah yang terakhir kulihat. Di kehidupan kedua, dia yang pertama kali menyadari aku berbeda.
Karena saat aku menuduh Lilith di depan seluruh dewan, "Ibunda tidak sakit. Ibunda diracun," satu-satunya orang yang tidak terkejut adalah dia.
Keheningan jatuh. Lalu tawa Thaddeus. "Sera, duka membuatmu mengigau. Kembali ke kamarmu."
Di kehidupan pertama aku patuh. Di kehidupan kedua aku menatapnya lurus. "Jika Yang Mulia tidak mau mencari pembunuh ibunda, maka Putri Mahkota akan melakukannya sendiri."
Lalu aku berbalik. Bukan ke Alistair. Bukan ke Celestine.
Aku berjalan lurus ke arah ksatria Utara, dan berhenti tepat di depan Cassimir Drayce. Bau besi, salju, dan darah samar menguar dari jubah bulunya. Dia lebih tinggi dari yang kuingat. Lebih berbahaya.
Seluruh katedral menahan napas. Seorang Putri tidak mendekati Anjing Gila tanpa pengawal.
"Archduke Drayce," kataku, cukup keras agar semua dengar. "Kudengar Utara kekurangan guru politik untuk pewarisnya. Apakah posisi itu masih kosong?"
Dia menatapku. Mata kelabu itu badai yang menungguku memancing petir.
"Kenapa aku harus mengajari mawar rumah kaca cara bertahan di musim dingin, Yang Mulia?" suaranya serak. Bukan pertanyaan. Tantangan.
Aku tersenyum. Senyum pertama yang tidak kurasakan sejak leherku dipenggal. "Karena mawar ini berniat membakar seluruh rumah kaca, Duke. Dan aku butuh seseorang yang tahu cara menyalakan api."
Untuk pertama kalinya, ada yang menyala di mata badainya. Bukan perintah. Bukan kesetiaan buta.
Tertarik.
Bagus.
Permainan dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan mati sendirian. Aku akan menyeret semua orang ke neraka bersamaku...
...atau mengajak satu orang ke surga.
YOU ARE READING
The Tyrant's Heiress Who Learned To Bloom
RomanceDipenggal. Hidup lagi. Kali ini dia yang jadi mimpi buruk. Seraphina bangun 5 tahun sebelum eksekusinya. Daftar bunuh: ibu tiri. Senjata: Archduke Cassimir Drayce, algojo yang dulu memenggalnya. Aturan main: Jangan luluh pada pria yang tangannya be...
