Mereka yang tersisa

6 0 0
                                        

Johan terburu buru masuk ke dalam kelas. Rambut acak acakan, seragam berantakan, dan wajah khas baru bangun tidur. "Yan? kamu udah ngerjain tugas matematika?" Rayyan mengangguk lalu menyodorkan buku tugasnya, Ia buru buru mencatat jawaban Rayyan.

"Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu, selalu saja kau kesiangan setelah bermain game hingga larut malam." Omel Reva sembari mengeluarkan sisir dari tas Ara. "Alex lain kali jangan terima tawaran bermain game dengan dia saat hari sekolah," ujar Ara yang sibuk merapihkan dasi Johan. "Sudahlah, lagi pula Johan tetap datang tepat waktu, tenang saja." Reva menatap Alex galak. "Hari ini ia datang tepat waktu, tapi bagaimana jika dia datang telat?" Alex tertawa pelan. "Maaf, maaf. Pulang sekolah aku ajak kalian makan Mie ayam bareng, gimana?" Ara menggeleng pelan, bingung dengan tingkah teman temannya.

Ara menatap keempat temannya.
Hatinya seolah mengatakan hal yang menyedihkan. 'Bagaimana jika ada suatu hal yang akan terjadi?' Ara menggeleng, mengusir pikiran pikiran anehnya.

"Nih, kalau misalnya kamu lagi di game, kamu jangan memikirkan bagaimana caranya menang, tapi fikirkan gimana caranya kamu mengecoh musuh," obrolan ketiga pria itu terdengar mulai asik. "heh, yang ada musuh lama lama ngebaca polamu , trus kamu ga menang, karna kamu ga nyerang!" selak Reva.

"Panggilan kepada Ananda Rayyan, Ara, Johan, Alex, dan Reva. Di harapkan berkumpul di ruangan Kepala Sekolah sekarang."

Suara kepala sekolah dari pengeras suara terdengar jelas di seluruh penjuru sekolah. Membuat beberapa orang berbisik akan apa yang sudah komplotan itu lakukan.

"Memangnya apa yang telah kita lakukan?" tanya Johan saat kelimanya berjalan ke arah ruangan kepala sekolah.

Kelimanya masuk ke ruangan berukuran sedang itu. Menyimpan banyak pertanyaan tentang apa yang telah mereka lakukan.

"Bisakah kalian menolong saya?"
mereka menatap Pria paruh baya itu bingung. "Menolong apa?" tanya gadis berkepang dua- Ara.
"Pulang sekolah nanti tunggu saya di lorong kelas 11F."
Tak ada penolakan, hanya ada anggukan setuju dari mereka.

.

"Sampai kapan kita akan menunggu pria itu?" kesal Reva, sembari menghentakan kakinya. "Tunggu sebentar lagi," ujar Alex. Ia sudah lelah mendengar omelan Reva yang tak sabaran. "Kalau ada sesuatu yang buruk apa kita akan tetap seperti ini?" di tengah kesunyian itu Ara tak sengaja menyeletuk tentang pemikiran yang sedari tadi mengganggu pemikirannya. "Kalau kita berlima pasti semuanya bakal Selesai, Ra. Lihat, kita punya dua otak profesor mereka pasti akan membantu kita semua, apapun yang terjadi. Kita kan Gang" candaan Johan berhasil mencairkan suasana diantara kelimanya.

.

Hujan deras samar terdengar dari sebuah jendela kecil.
Rayyan terbangun, menatap sekelilingnya 'a-aku dimana?' batinnya panik. Ia melihat teman temannya yang juga terlihat panik. "sial, pintunya terkunci!" geram Johan. Pria itu sudah terbangun sejak tadi.

Ruangan, baju, dan... lingkungan. Ini bukan sekolah yang mereka tau.
di luar terlihat sangat gelap. Sepertinya sudah larut malam.

"Johan tenang sedikit, kau akan menghancurkan pintunya. Bagaimana jika kita sedang dalam bahaya?" Johan menatap Rayyan yang turun dari kasurnya. "ini aneh, kita tak mungkin masih di sekolah." ucap Alex yang sedari awal diam.
Mereka berkumpul, membuat lingkaran seperti biasa mereka lakukan saat sedang berkumpul.

"Bagaimana ini? bagaimana jika kita di bunuh?" ucap Ara panik membuat Johan tertawa. "Jangan pesimis gitu, bisa jadi ini hanya lelucon yang di buat kepala sekolah" tawa Johan perlahan memudar saat melihata tatapan teman temannya yang terlihat serius. "Maaf" ujarnya

Ruangan mendadak gelap, membuat mereka semakin panik. "A-apa apaan ini?!" lalu sebuah cahaya menyorot kelimanya. Seolah teleportasi, mereka berpindah ke sebuah ruangan kosong dengan nuansa putih, hanya ada sebuah Televisi besar di dinding.

Midnight brainStories to obsess over. Discover now