CH-1

514 53 12
                                        

Chapter 1: Ledakan yang Mengubah Segalanya

Malam itu Seoul terasa lebih panas dari biasanya. Lampu-lampu neon di sirkuit pribadi pinggir kota berkedip-kedip, mencampur suara deru mesin dengan denting gelas champagne dari tribun VIP.

Jay Park berdiri di samping mobilnya yang hitam mengkilap, tangan bersandar santai di pinggir pintu. Jaket kulitnya terbuka sedikit, memperlihatkan kaos putih yang melekat di dada bidangnya.

“Lo yakin mau lanjut, Heeseung-ah?” tanya Jay dengan nada santai tapi matanya menyipit penuh tantangan “Mobil lo keliatan udah ngos-ngosan dari lap sebelumnya. Jangan sampe lo malu sendiri di depan gue malam ini Bro”

Lee Heeseung, yang berdiri tak jauh darinya, hanya mendengus sambil menyandarkan tubuh tinggi tegapnya ke mobil merahnya. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan oleh angin malam membuatnya terlihat semakin liar “Gue? Malu? Lo yang harus hati-hati, Park. Jurusan Bisnis kaya lo cuma pintar ngomong doang. Di trek, lo masih anak kemarin sore. Paham”

Mereka berdua sama-sama 24 tahun, sama-sama anak Orang kaya yang bosan dengan Dunia yang terlalu mudah.

Jay, anak tunggal keluarga Park yang menguasai separuh industri properti Seoul.

Heeseung, sulung keluarga Lee yang punya pengaruh besar di bidang otomotif dan teknologi.

Rival abadi sejak masuk universitas — Di luar trek mereka saling sindir, di dalam trek mereka saling bunuh.

Malam ini, balapan ilegal yang mereka atur sendiri.

Lampu start menyala. 

Mesin meraung. 

Ban berasap.

Heeseung melesat duluan, Jay mengejar tepat di belakangnya. Tikungan pertama, kedua — semuanya mulus. Tapi di tikungan ketiga yang curam, tiba-tiba mobil Heeseung oleng. Suara mesinnya berubah kasar, seperti ada yang meledak di dalam.

“Shit—” Jay mengumpat pelan, menginjak rem mendadak. Ia melihat asap putih mengepul dari kap mesin Heeseung. Mobil itu meluncur tak terkendali ke arah pembatas beton.

Jay langsung membuka seatbelt-nya. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu mobilnya yang masih berlari di kecepatan tinggi “Yakh-Heeseung! Keluar!”

Ia berhasil meraih pintu mobil Heeseung yang sudah miring. Bau bensin menyengat hidungnya. Dengan sekuat tenaga, Jay menarik tubuh Heeseung yang masih setengah sadar keluar dari kursi pengemudi.

“Hey! Lo baik-baik aja?!” bentak Jay sambil menyeretnya menjauh.

Tapi sebelum mereka sempat lari lebih jauh, *BOOM!*

Ledakan dahsyat mengguncang Malam. Api menyembur tinggi, panasnya menyengat kulit. Jay menindih Heeseung dengan tubuhnya, melindungi kepalanya dengan lengan. Debu dan pecahan besi beterbangan di mana-mana.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Jay mengangkat kepalanya. Telinganya berdenging. Ia menoleh ke arah mobil yang terbakar.

“Heeseung, lo—”

Kata-katanya terhenti.

Di bawah tubuhnya bukan lagi Lee Heeseung yang tinggi tegap dengan rahang tegas. Yang ada di pelukannya sekarang hanyalah… Seorang Bayi kecil. Bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun, rambut hitam acak-acakan, mata bulat yang masih berkaca-kaca ketakutan. Pakaiannya kebesaran — Kaos dan celana yang jelas-jelas milik Orang dewasa.

Jay terdiam. Otaknya blank total.

“Apa… apa-apaan ini?” gumamnya pelan, suaranya serak. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi halus bocah itu “Heeseung…? Lo… lo bercanda, kan?”

Bocah kecil itu mengerjap. Matanya yang familiar — Tajam, agak angkuh, persis mata Heeseung — Menatap Jay dengan bingung. Bibir kecilnya bergetar.

“J… Jay?” suaranya kecil, polos tapi nada kesalnya masih terasa “Kenapa… gue kecil gini? Mobil gue… meledak… thakit…”

Jay mundur sedikit, pantatnya jatuh ke aspal. Ia menatap Bocah itu dengan mulut terbuka, jantungnya berdegup kencang bukan karena ledakan tapi karena kenyataan yang absurd ini.

“Lo… Heeseung? Serius? Lo berubah jadi… Bayi umur empat tahun?!” Jay mengusap wajahnya kasar, tertawa gugup yang bercampur panik “Anjing, ini mimpi buruk apa gimana? Gue baru aja nyelamatin lo tapi... yang gue peluk sekarang ternyata anak kecil yang pake baju lo?!”

Bocah Heeseung (atau apa pun namanya sekarang) merengut, tangan kecilnya mencengkeram kaos Jay “Gue bukan bayi! Lo yang… lo yang bodoh! Cepet bantu gue balik normal lagi, Park Jay!”

Jay menatapnya lama. Antara ingin tertawa, ingin marah dan… entah kenapa ada rasa hangat aneh di dada melihat Bocah itu yang masih punya ekspresi sombong khas Seorang Lee Heeseung meski wajahnya imut sekali.

Ia menghela napas panjang lalu mengangkat Bocah itu ke dalam gendongannya dengan mudah. Tubuh kecil itu pas sekali di dalam pelukannya.

“Baiklah, Heeseung kecil” gumam Jay dengan nada setengah geli, setengah lembut “Gue bawa lo pulang dulu... Tapi besok pagi lo harus cerita semuanya... Dan lo berutang nyawa sama gue, ingat itu”

Bocah itu menggerutu pelan tapi kepalanya tanpa sadar bersandar di bahu Jay. Bau asap masih menempel di baju mereka berdua.

Malam yang seharusnya hanya balapan rival biasa, berubah jadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Jay melirik bocah dalam gendongannya sekali lagi, bibirnya melengkung tipis.

“Lo imut juga ya… kalau kecil gini”

“DIAM LO, PARK JAY!”

Jay tertawa kecil. Entah kenapa, meski Dunia sudah gila, ia merasa ini baru permulaan.

-tbc

Tes Ombak dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tes Ombak dulu... Kalau rame lanjut 🧡

Pocket SizeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang