Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Dunia mereka adalah dua garis yang seharusnya tidak pernah bersilangan. Irene, sang pewaris tunggal dengan masa depan yang telah dipetakan di balik meja direktur, hidup dalam gemerlap kemewahan yang seringkali terasa menyesakkan.
Di sisi lain, Seulgi adalah perwujudan dari kebebasan yang bersahaja, seorang mahasiswa yang membagi waktunya di antara aroma biji kopi dan bidikan lensa kamera.
Selama hampir dua tahun, mereka membangun sebuah ruang rahasia di tengah hiruk-pikuk kota. Sebuah hubungan yang dijaga ketat di balik pintu apartemen dan kaca mobil yang gelap.
Bagi dunia, Irene adalah wanita karier yang sempurna dan dingin, sementara Seulgi hanyalah pemuda biasa yang sedang berjuang menyelesaikan studinya. Namun, ketika pintu tertutup dan kebisingan dunia meredup, hanya ada mereka berdua. Menepis perbedaan kasta dan usia demi sebuah rasa yang mereka sebut rumah.
Cast :
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kang Seulgi
Usia: 22 Tahun
Status: Mahasiswa tingkat akhir jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Barista paruh waktu dan Fotografer freelance.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bae Irene
Usia: 25 Tahun
Status: Direktur Muda di perusahaan properti milik Ayahnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Awal Kisah
Flashback
Sore itu hujan turun cukup deras, membungkus kota dengan nuansa abu-abu. Irene melangkah masuk ke dalam sebuah kafe kecil di sudut jalan yang tidak terlalu ramai. Ia ingin menghindari keramaian pusat kota dan tuntutan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya di perusahaan ayahnya.
Lonceng di atas pintu berdenting. Irene mengibaskan butiran air dari mantel mahalnya, lalu berjalan menuju konter. Di sana, seorang pemuda bertubuh tinggi dan atletis sedang sibuk membersihkan mesin espresso.
"Selamat sore, selamat datang. Mau pesan apa?" tanya pemuda itu tanpa menoleh sepenuhnya. Suaranya rendah dan menenangkan.
Irene terdiam sejenak, memperhatikan profil samping pemuda tersebut. Mata monolid nya memberikan kesan misterius namun jujur. "Satu hot americano, tolong. Tidak pakai gula."
Pemuda itu menoleh, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Ia menatap wajah Irene yang luar biasa cantik, lalu tersenyum tipis-sebuah senyum yang tampak tulus meski ia sedang sibuk bekerja.
"Ditunggu sebentar ya, Kak" ucapnya ramah.
Irene duduk di meja paling pojok, mengeluarkan tabletnya untuk kembali memeriksa laporan bulanan. Namun, fokusnya teralihkan saat pemuda tadi mengantarkan pesanannya. Bukan hanya kopi, ada sepotong kecil kue kering di samping cangkirnya.
"Ini apa? Saya nggak pesan kue" tanya Irene dengan nada formal yang biasa ia gunakan di kantor.
Seulgi, nama yang tertera di kartu pengenalnya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bonus aja, Kak. Kayaknya Kakak lagi pusing banget liatin layar terus. Biar agak relax dikit."
Irene menaikkan sebelah alisnya. "Kamu sering kasih bonus ke pelanggan yang kelihatan pusing?"
Seulgi terkekeh, menampilkan deretan gigi yang rapi. "Nggak sih, baru kali ini aja. Habisnya, Kakak cantik-cantik tapi mukanya ditekuk terus. Sayang, kan?"
Irene terpaku. Keberanian pemuda ini cukup mengejutkan, mengingat penampilannya yang terlihat seperti mahasiswa biasa. Ada sesuatu pada diri Seulgi yang terasa sangat kontras dengan lingkungan korporat Irene yang kaku dan penuh kepalsuan.
"Iya, Kak. Seulgi. Masih kuliah sih, di sini cuma sambilan aja jadi barista. Kakak sendiri? Kayaknya habis pulang kerja ya? Seragamnya kelihatan rapi soalnya" jawab Seulgi dengan gaya bicara santai, khas anak muda.
"Saya Irene. Dan iya, saya baru selesai rapat" jawab Irene singkat, namun ia tidak merasa terganggu dengan cara bicara Seulgi yang tidak baku. Justru, ia merasa nyaman.
"Pantas aja. Ya udah, dinikmati ya kopinya, Kak Irene. Jangan terlalu dipikirin kerjanya, nanti cepat tua lho" canda Seulgi sebelum kembali ke balik bar.
Irene menyesap kopinya. Rasanya pas, tidak terlalu pahit dan memiliki aroma yang kuat. Ia menatap punggung Seulgi dari kejauhan, menyadari bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tertarik pada seseorang yang hidup di luar dunianya yang megah. Ia tidak tahu bahwa percakapan singkat di sore yang hujan itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh rahasia dan pengorbanan.
Cerita baru buat gantiin story yang sebelumnya aku hapus (karena ngerasa gak dapat feel-nya :')
So, gimme your support guys. Vomentnya jangan lupa :D