Petang di Kuala Lumpur nggak beda jauh sama di Bandung. Sama-sama jingga, sama-sama bikin hati yang sendiri jadi makin sepi.
Aisyah menutup mushafnya pelan. Azan Maghrib baru saja selesai dari Masjid Jamek. Di rusun lantai 14 ini, dia cuma ditemani suara azan dan teh tarik yang udah dingin.
Aisyah, 26 tahun. Guru tahfiz, asli Johor. Jilbabnya syari, senyumnya adem, tapi jodohnya... belum ada.
“Bukan belum ada, Sya,” kata suara Mak di telepon semalam. “Dah ada. Cuma kau jauh. Dia di seberang.”
“Seberang mana, Mak?” Aisyah ketawa kecil.
“Seberang Selat Malaka. Indonesia.”
Aisyah kira Mak melawak. Sampai pagi ini, pos laju datang. Sampul coklat, nggak ada nama pengirim. Isinya cuma selembar foto lama dan kertas kecil.
Foto: Seorang pria duduk membelakangi kamera, di kos sempit. Lampu 5 watt. Punggungnya lesu.
Kertasnya: _“Namanya Kaisar. Anak baik. Cuma... dah lama sangat dia sendirian. Mak kenal arwah ibunya dulu.”_
Aisyah menggenggam foto itu. Entah kenapa, dadanya sesak. Pria di foto ini... tatapannya pasti kosong. Sama kayak dia tiap petang.
*Sementara itu, 1500 KM di Bandung.*
Kaisar, 29 tahun, ngelamun di depan pintu kos. Kresek singkong dari "misteri petang" udah habis kemarin. Tapi hari ini, nggak ada kresek lagi. Kosong.
Yang ada cuma amplop coklat di keset. Nggak ada perangko. Isinya foto juga.
Foto seorang wanita berhijab, senyum tipis, lagi duduk di perpustakaan.
Di belakang foto ada tulisan tangan:
_“Namanya Aisyah. Dia tak kenal kau. Tapi dia doakan kau tiap lepas solat. Entah kenapa.”_
Kaisar, yang udah 2 tahun nggak nangis, tiba-tiba kerongkongannya tercekat.
Dua orang asing. Dua foto. Dua petang yang sama sepinya.
Takdir udah mulai ngetuk pintu.
--
*Bab 1 - Sambungan*
Malam itu, Aisyah nggak bisa tidur. Foto Kaisar dia selipin di dalam mushaf, pas di Surah Ar-Rum ayat 21. _“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri...”_
Jarinya gemetar ngetik di Google: _“Cara cari orang Indonesia cuma dari nama: Kaisar, umur 29, Bandung.”_
Hasilnya: Zonk. Ada 800 Kaisar. Dari tukang cilok sampai CEO.
Sementara di Bandung, Kaisar juga sama gilanya. Dia zoom foto Aisyah sampai pecah. Ada logo kecil di rak buku belakang Aisyah: _“Perpustakaan Darul Hikmah, KL.”_
Jam 1 pagi, dia nekat DM Instagram perpustakaan itu.
*Kaisar*: _“Assalamualaikum. Maaf ganggu. Saya cari guru nama Aisyah. Di foto ini. Penting sekali. Terima kasih.”_
Jam 3 pagi, HP Aisyah bunyi. DM dari akun @darulhikmah_kl.
*Admin*: _“Waalaikumsalam. Ustazah Aisyah? Iya ada. Ini nomor wasap beliau. Beliau sudah izinkan. Katanya... dia juga sedang cari awak.”_
Aisyah baca DM itu sambil istighfar. Jantungnya mau copot.
Jam 3.15 pagi, nomor Indonesia masuk ke WA Aisyah. Fotonya: polos. Nggak ada PP.
*+62 8xx xxxx xxxx*: _Assalamualaikum. Aisyah?_
Aisyah balas, tangannya dingin.
*Aisyah*: _Waalaikumsalam. Kaisar?_
Dunia senyap 2 menit. Centang biru dua.
*Kaisar*: _Ya Allah... Macam mana awak dapat nombor saya?_
*Aisyah*: _Macam mana awak dapat nombor saya? Kita sama-sama gila ke?_
*Kaisar*: _Sejak dapat foto awak, saya rasa... petang saya tak kosong lagi. Walau kita tak kenal._
*Aisyah*: _Saya pun. Sejak nampak punggung awak di foto tu... eh maksud saya..._
*Kaisar*: _Hahaha. Punggung saya memang legend. Selalu teman dinding kos._
Aisyah ketawa. Pertama kali dalam 6 bulan.
*Aisyah*: _Kenapa kita, Kaisar? Dari jutaan orang..._
*Kaisar*: _Entah, Sya. Mungkin sebab Tuhan tahu... dua orang yang paling sepi sedunia ni kalau disatukan, jadi nggak sepi lagi._
Di luar, azan Subuh Kuala Lumpur bersahutan dengan azan Subuh Bandung. Beda 1 jam, tapi doa mereka sama.
---
YOU ARE READING
KAISAR
Romanceberkisah seorang wanita muslimah bernama Aisyah yang asli dari Malaysia yang menjadi takdir seorang istri dari pria bernama Kaisar.
