Mulai Berteman

27 5 0
                                        

Di salah satu SMA di dunia Azure ini, ada tiga orang remaja yang sebenarnya sering bertemu, tapi tak pernah benar-benar bicara. Mereka cuma tahu nama satu sama lain, itu saja.

ZAYYAN duduk di bangku paling belakang, sendirian. Topi hitamnya menutupi sebagian wajahnya, penampilannya urakan dan terlihat malas-malasan. Dia tipe orang yang lebih suka diam dan mengamati dari jauh, tapi otaknya jalan terus.

Di meja depan, duduk LEO. Rambut peraknya selalu rapi, dia terlihat dingin, tenang, dan sangat menjaga jarak dengan orang lain. Kek anak orang kaya yang sombong padahal aslinya cuma gengsian.

Dan di sudut lain ruangan, ada SAIN. Tubuhnya kekar dan tegap, tatapannya datar, jarang bicara, dan terlihat sangat kaku. Kalau lagi diam aja udah kek patung raksasa yang siap menghancurkan apa saja.

Mereka bertiga berbeda sifat, berbeda gaya, dan merasa diri mereka hanya manusia biasa sama seperti murid lainnya. Belum ada yang tahu kalau di dalam diri mereka tersimpan kekuatan elemen yang luar biasa.

Hingga pada suatu waktu...

Hari itu cerah, matahari bersinar terang menyinari halaman sekolah yang penuh sesak oleh murid-murid yang bersorak riuh. Suasana sangat hidup karena sekolah sedang mengadakan acara class meeting.

"AYO KELAS 12A! JANGAN KASIH COMEBACK!" teriak Hyunny sambil memegang spanduk besar. Sebagai ketua panitia, suaranya lebih keras dari sound system sekolah.

Di pinggir lapangan, Timo sibuk membagikan minuman. "Sini minum! Jangan sampe pingsan ntar gue yang susah angkutnya!" serunya ramah.

Di tengah keramaian itu, Zayyan, Leo, dan Sain berdiri dengan ekspresi berbeda.

"Gila panas banget, kulit gue bisa gosong nih," gerutu Zayyan sambil narik topinya makin nutup muka. Jersey yang dipake kek baju wayang, kebesaran semua.

"Kurang persiapan. Harusnya latihan dulu," gumam Leo sambil peregangan super rapi. "Ntar kalah nyalahin hoki lagi."

Sain cuma berdiri tegak, tangan disilang. "Hm." Singkat, padat, jelas.

Wasit meniup peluit. Pertandingan dimulai!

Awalnya mainnya berantakan parah. Zayyan geraknya kek siput lagi diet, Leo mainnya takut-takut, Sain cuma jadi pajangan di bawah ring.

"WOI MAINKAN BOLA BUKAN MAIN HP!" teriak Pak Guru bikin suasana makin kacau. Zayyan cuma terkekeh sambil garuk kepala. "Iya Pak, ini main nih!"

Di menit ke sepuluh, skor imbang 10-10. Lawan mulai emosi. Jake, si raksasa badung, langsung dorong Leo pas lagi dribble.

Bugh!

Leo jatuh, lututnya lecet dikit.

"CiHH lemah! Baru gitu doang jatoh!" ejek Jake sombong. Padahal Leo sebenernya bisa bales, tapi mikirnya "ngapain baku hantam sama orang yang otaknya dibawah lutut".

Tapi Zayyan gak terima. Dia jalan santai mendekat, tatapannya tajam.

"Main pake otak bro, bukan pake nyali doang," kata Zayyan santai tapi ngena.

"Heh lo mau cari masalah?" tantang Jake sambil menunjuk muka.

Belum sempat Jake ngapa-ngapain, Sain langsung maju. Badannya gede, auranya bikin bulu kuduk meremang.

"Main. Bukan berantem. Ntar lo yang sakit," kata Sain datar. Matanya tajam kek mau makan orang.

Jake langsung ciut. Nyalinya ambyar. "Hh dasar aneh!" dia mundur ketakutan.

Zayyan nengok ke Leo. "Oke?"
"Oke."

"Gas main beneran. Gak mau kalah sama orang kek gitu."

Mulai detik itu permainan berubah 180 derajat!

AzureWhere stories live. Discover now