Pada sore berawan ini, Aku di pindah kan ke rumah tante Kathrina, adik kandung mama. Karna mama akan menemani papa ke Paris untuk 6 bulan ke depan.
Papa adalah seorang pebisnis sukses di bidang kuliner. Ia sudah berhasil mendirikan cabang di berbagai kota.
Bahkan ada satu cabang yang sudah berhasil papa dirikan di Paris.
Sedari dulu, papa memang sudah sibuk.
Bahkan saat usiaku masih balita. Ketika papa pergi ke luar kota berminggu-minggu atau sampai berbulan-bulan, mama selalu di minta untuk menemaninya.
Dan aku hanya ditinggal seorang diri bersama para ART di rumah.
Yah, bisa dibilang ... aku ini anak yang kekurangan kasih sayang orang tua. Materi memang berlimpah, namun perhatian dari merekalah yang sedari dulu ku butuh kan.
Namun sepertinya mereka berdua tidak menyadari akan hal ini. Waktu itu, mungkin kira-kira di usia yang ke-12 tahun, aku mengalami mimpi basah. Dan saat itu aku sudah menstruasi.
Itulah titik awal kenakalanku dimulai.
Aku yang bingung dengan apa yang terjadi, lantas
mencoba mencari tahu di internet. Awalnya aku hanya iseng saja, membuka-buka gambar orang yang sedang berciuman.
Lambat laun, aku makin tertantang untuk mengetahui lebih jauh hal-hal yang berbau dewasa.
Aku mulai mencoba membuka video porno melalui web/browser yang tersedia di laptopku.
Dan ternyata apa yang aku lihat sama seperti mimpi yang selalu membuat aku basah dan terangsang.
Sejak itu, aku mulai kecanduan video porno.
Aku bukan anak yang pandai bersosialisasi. Dan dari sana, banyak orang yang berpendapat bahwa aku ini anak yang baik, rajin, dan pintar. Andai mereka tahu bagaimana keseharianku ketika sudah berada di dalam kamar seorang diri.
Setiap harinya, aku akan menonton video porno. Tidak pernah absen. Bahkan hormonku makin menjadi-jadi ketika mendekati tanggal menstruasi. Waktu itu, aku hanya cukup dengan menonton videonya saja dan berkhayal panas melakukan hal seperti ini bersama pria tampan dan atletis.
Namun lambat laun, aku mulai merasa tidak puas hanya dengan menonton videonya saja. Milikku akan terasa berkedut-kedut meminta dipuaskan.
Akhirnya, aku mulai berani melakukan masturbasi.
Masturbasiku hanya sebatas esek-esek menggunakan guling. Atau kadang kuraba-raba sendiri vaginaku dengan tangan. Payudaraku pun tak lupa kuremas-remas. Aku memang paling suka melihat porno ketika adegan di mana si pria memainkan payudara si perempuan dengan bergairah. Meremas, memelintir puting tegangnya, menjilatnya, dan mengulumnya penuh kehausan berulang kali.
Bahkan beberapa waktu terakhir, aku mulai berani
bermain dengan kucing peliharaanku. Awalnya aku iseng menuang susu putih kental manis ke atas puting. Dan insting hewaninya pun dengan cepat langsung menjilati susu yang berada di atas putingku.
Rasanya geli-geli enak dan sedikit membuatku ketagihan. Bahkan aku sampai mendesah-desah dibuatnya.
Dari sana, aku mulai penasaran. Bagaimana sensasi ketika puting dijilat, dimainkan, diremas, diemut dan dihisap sungguhan oleh seorang lelaki.
Milikku akan dimainkan dengan
tangan besar dan kokohnya, dijilat dengan lidah panasnya, klitoris ku dikulum dengan rakus menggunakan bibirnya, penisnya yang panjang dan besar menusuk vagina perawanku. Akhh..emikirkannya saja sudah berhasil membuatku basah.
Aku yang saat ini tengah duduk di dalam mobil bersama mama dan papa menuju rumah tante Kathrina pun mulai bergerak gelisah. kurapatkan dan kugesekkan kedua pahaku pelan, berharap sensasi berkedut itu cepat menghilang. Namun
bukannya mereda, kedutan itu malah makin menjadi ketika aku membayangkan sosok putra semata wayangnya tante Kathrina yang begitu tampan dan sedikit atletis, seperti pria yang selalu ku impikan.
“Hillary Abigail Bagaskara”. Remaja laki-laki yang sebaya denganku. Dan sedari SMP, kami memang bersekolah di sekolah yang sama. Ia bisa dibilang most wanted-nya sekolah.
Anak OSIS, basket, dan seorang ketua kelas teladan. Kami berdua memang sama-sama duduk di bangku kelas 12 dengan kelas yang saling bersisian. Ia merupakan seorang remaja yang baik, tampan, pintar, disiplin, rajin, dan sedikit cuek. Walau sepupu, kami ini tidak cukup dekat.
