"Akane-san…"
Suara itu nyaris tak terdengar. Hancur, patah, seolah ikut terkubur bersama keheningan ruangan putih yang dingin.
Seorang pemuda berdiri kaku di samping ranjang. Tatapannya terpaku pada sosok gadis yang terbaring tak bergerak. Seluruh tubuhnya dibalut perban, tertutup selimut tipis yang tak mampu menyembunyikan kenyataan pahit bahwa kehangatan itu telah lama pergi.
Bau obat menusuk hidung. Mesin di sudut ruangan sudah lama berhenti berbunyi. Tidak ada lagi harapan yang tersisa di tempat ini.
Hanya penyesalan.
Air mata perlahan jatuh dari mata . Membasahi pipinya, lalu menetes ke kain yang ia genggam erat tanpa sadar.
Rambut hitamnya menempel di pelipis. Napasnya tak teratur, seolah setiap tarikan udara terasa menyakitkan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan… betapa sunyinya kehilangan.
Dadanya terasa kosong.
Seperti ada lubang besar yang tak bisa diisi oleh apa pun.
"Andai… aku bisa mengumpulkan uang lebih banyak…"
Suaranya bergetar, nyaris hilang di antara isakan yang ia tahan.
"Mungkin… kau tidak akan seperti ini…"
Tangannya gemetar saat perlahan meraih tangan dingin di hadapannya. Begitu dingin… bahkan jauh lebih dingin dari yang ia bayangkan.
Ia menggenggamnya erat, seolah takut kehilangan lagi.
"Aku sudah berusaha…" bisiknya lirih. "Aku sudah mencoba… melakukan apa pun…"
Kepalanya tertunduk. Bahunya bergetar hebat.
"Tapi… kenapa tetap tidak cukup…?"
Air matanya jatuh tanpa henti. Tak ada lagi yang ia tahan. Tak ada lagi alasan untuk terlihat kuat.
"Kalau saja… aku punya lebih banyak uang…"
Kalimat itu keluar lagi.
Dan lagi.
Seolah itu satu-satunya jawaban yang bisa ia pegang.
"Kumohon…" suaranya pecah. "Berikan aku satu kesempatan lagi… aku akan mengumpulkan lebih banyak… lebih banyak dari sebelumnya…"
Genggamannya mulai menguat.
"Jadi… kumohon… kembalilah…"
Hening, Tak ada jawaban, Tak akan pernah ada.
Pintu ruangan terbuka perlahan.
Seorang pemuda lain berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan mata yang tak kalah kosong.
melangkah masuk pelan.
"Koko…"
Panggilan itu lembut. Namun cukup untuk membuat bahu Kokonoi tersentak.
Ia menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya merah, kosong, dan… hancur.
"inupi…"
Suara itu terdengar seperti sisa dari seseorang yang hampir runtuh sepenuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan…?" tanyanya, suaranya bergetar hebat.
"Akane-san… sudah tidak ada…"
Kalimat itu menggantung di udara.
Seolah bahkan dirinya sendiri tak percaya dengan apa yang ia katakan.
Tanpa berpikir panjang, Kokonoi berdiri dan langsung memeluk Inupi. Tangannya mencengkeram erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahannya agar tidak jatuh lebih dalam.
"Hiks… hiks…"
Tangisnya pecah lagi.
Inupi terdiam sesaat, lalu perlahan membalas pelukan itu. Tangannya mengusap punggung Kokonoi dengan lembut.
Ia menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang hampir ikut runtuh.
Bagaimanapun juga…
Yang terbaring di sana adalah kakaknya.
"Sudah, Koko…" ucap Inupi pelan, meski suaranya sendiri tak sepenuhnya stabil. "Jangan menangis…"
Ia menutup mata sejenak.
"Akane… tidak akan suka melihatmu seperti ini."
Kokonoi masih menangis, tapi suaranya mulai mereda. Napasnya tersendat, namun perlahan ia mencoba menenangkan diri.
"Tapi… aku harus apa…?" bisiknya pelan.
Pelukannya belum terlepas.
"Aku sudah mengumpulkan uang…" lanjutnya. "Banyak… sangat banyak"
Tangannya perlahan melemah.
"tapi… aku bahkan belum sempat memberikannya…"
Ia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kosong yang menusuk.
"Lucu, ya…"
Kepalanya tertunduk di bahu Inui.
"Aku selalu berpikir… selama aku punya uang… aku bisa menyelamatkan apa pun…"
Hening sejenak.
Lalu, dengan suara yang lebih pelan hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri
"Tapi ternyata… aku salah."
Inupi tak menjawab.
Ia hanya diam… karena tak ada kata yang cukup untuk memperbaiki sesuatu yang sudah hancur.
Beberapa detik berlalu, Atau mungkin lebih lama, Tangisan itu akhirnya berhenti.
Perlahan.
Tidak benar-benar hilang… tapi cukup untuk menyisakan keheningan yang aneh.
Kokonoi melepaskan pelukannya, Ia menoleh kembali ke arah ranjang, Menatap sosok yang tak lagi bisa ia jangkau.
Matanya… berubah, Masih ada kesedihan, Tapi di balik itu,
Ada sesuatu yang lain, Sesuatu yang dingin.
"Kalau… uang yang kumiliki belum cukup…"
Suaranya datar. Tidak lagi bergetar seperti sebelumnya.
"Aku akan mengumpulkan lebih banyak."
Inupi mengangkat wajahnya, sedikit terkejut.
"Koko…?"
Namun Kokonoi tidak melihatnya, Tatapannya tetap tertuju pada Akane.
Kosong.
Namun penuh tekad yang aneh.
"Aku akan mendapatkan uang sebanyak mungkin."
Tangannya mengepal pelan.
"Lebih banyak dari siapa pun…"
Suara itu terdengar pelan.
Namun… berat.
Seolah menjadi janji yang tak akan ia tarik kembali.
"Supaya… hal seperti ini…"
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan, hampir tanpa emosi.
"Tidak akan terjadi lagi."
Ruangan itu kembali hening, Namun kali ini… Ada sesuatu yang berubah, Dan tanpa disadari siapa pun, Hari itu, bukan hanya seseorang yang hilang.
Tapi juga…
awal dari perubahan seorang Kokonoi yang tak akan pernah sama lagi.
YOU ARE READING
I'M NOT AKANE, I'M SEISHU
Fanfiction"tolong lihat aku sebagai seishu, bukan sebagai Akane"
