Prolog...
"Tawaranmu ... yang waktu itu masih berlaku nggak?" tegur Dimas.
Alya menoleh dan tersenyum.
"Mau ikut?"
"FWB."
Dada Alya seketika terasa nyeri. Dia mau? Padahal Alya yang menawarkan. Tapi kenapa saat Dimas mengiyakan, Alya malah merasa sedih. Rasanya seperti kegiatan sesuatu yang bahkan tak sempat ia miliki. Namun berkebalikan dengan itu Alya malah tertawa.
Ya sudahlah, toh Dimas juga akan segera pergi setahun lagi. Setidaknya dia bisa menikmati saat-saat terakhir mereka bersama.
"Masih."
Dimas mengangguk pelan.
"Kalau gitu..."
Ia menatap Alya lurus.
"Sekarang Kita FWB."
***
"Alya."
Suara yang sama yang dulu sering ia dengar dari kejauhan, dari ruang praktikum, dari lorong kampus... dan entah kenapa selalu berhasil membuatnya berhenti sejenak.
Kini suara itu terdengar jauh lebih dekat.
Manisnya bahkan melebihi Caramel Macchiato yang sedang ia sesap.
Lelaki itu berdiri santai di ambang pintu kader, mengenakan kaus polos yang entah kenapa terlihat terlalu pas di tubuhnya. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahunya yang tegap.
Rambutnya rapi, sedikit jatuh ke dahi. Wajahnya bersih, dengan garis rahang yang tegas tapi tidak terasa keras.
Yang paling mengganggu ... matanya.
Tenang. Seolah-olah tidak pernah terburu-buru menghadapi apa pun.
"Ternyata beneran Alya," lesung pipit itu muncul ketika ia tersenyum.
Alya balas tersenyum canggung. Ketika pria itu mendekat ke mejanya.
"Lama kita nggak ketemu ya," sapa Dimas sembari mengulurkan tangan.
Alya balas menjabatnya singkat. Hangat.
Terlalu hangat untuk ukuran sapaan biasa.
Dimas celingukan seperti mencari-cari seseorang.
"Kamu sendiri aja?"
Alya mengangguk. "Temen-temenku lagi sibuk semua jadi hari ini aku mau jalan-jalan sendiri."
"Jalan-jalan sendiri?"
Dimas menarik kursi tanpa izin, lalu duduk di hadapannya.
Ke mana?"
"Keliling Kota Surabaya aja."
Alya tersenyum kecil.
"Ini pekan terakhirku di Surabaya jadi aku mau mengumpulkan banyak kenangan."
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Alya.
Lagi.
Alya menelan ludah pelan.
Sejak dulu, dia memang selalu kesulitan menghadapi tatapan itu. Terlalu lurus. Terlalu tenang. Tapi mengalihkan pandangan, rasanya tidak sopan.
Jadi Alya hanya bisa menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil, mencoba meredam debar jantungnya yang tiba-tiba tidak bisa diajak kompromi.
"Kamu mau pulang kampung ya?" tanya Dimas akhirnya. "Apa nama pulaumu?"
"Soreva," jawab Alya.
"Nama yang cantik."
Alya mengerjap pelan. Padahal bukan dia yang dipuji, kenapa pipinya malah menghangat?
"Itu hanya pulau kecil yang ada di Kepulauan Alor," lanjut Alya cepat.
"Nggak ada internet. Listrik cuman jam enam sampai sepuluh malem aja."
ANDA SEDANG MEMBACA
Redemption (On Going)
CintaUpdate : Senin, Rabu, Jumat. Dimas ingin melupakan. Alya memilih tidak berharap. Satu malam membuat mereka terlalu dekat. Dan setelah itu, tidak ada yang benar-benar sama. Mereka terus berjalan. Tanpa status, tanpa kejelasan, tanpa berani bertanya. ...
