Hari ke-3 perjalanan menuju ibu kota.
Jacob yang merasa sulit tertidur membuka kompartemen dan pergi ke gerbong makan. Mungkin setelah makan atau minum sesuatu yang ringan bisa membuatnya tertidur.
Ia duduk di dekat jendela. Gerbong makan hanya diisi beberapa orang saja, termasuk dia. Wajar saja, di jam sekarang orang sudah pada tidur. Besok pagi, kereta akan sampai ke ibu kota.
Seorang pelayan pria dengan seragam hitam putih datang untuk menanyakan pesanannya.
"Hm... segelas susu hangat, tolong," katanya setelah berpikir sejenak. Susu hangat akan cocok untuk merilekskan tubuh. Segelas susu hangat datang dengan cepat.
"Terima kasih." Jacob meneguk satu tegukan, dan susu hangat yang mengalir melewati tenggorokannya membuat dada dan perutnya seketika hangat.
"Ini sangat nyaman," serunya, teringat jika tidak pergi, dirinya sekarang pasti sedang bersantai nyaman di rumahnya. "Ah... aku jadi merindukan rumah." Jacob menopang wajahnya sambil memandang kegelapan di balik jendela kereta.
Hoam... sekitar 10 menit, ia akhirnya menguap. Kembali ke kompartemennya, ia tertidur lelap.
Keesokan harinya...
Kereta panjang hitam melaju dari jauh, rodanya bergesekan dengan rel, menimbulkan bunyi yang keras. Dari kejauhan, Jacob bisa melihat sebuah bangunan, kastil yang berdiri megah. Sekeliling kastil itu dipagari oleh tembok abu-abu. Kereta semakin mendekati stasiun. Tepat pukul 9 pagi, kereta tiba dengan tepat di Stasiun Koven01.
Para porter membuka pintu kereta dan keluar. Jacob memakai topinya dan keluar sambil mengangkat kopernya, begitu juga dengan yang lainnya. Kaiser dengan semangat telah keluar terlebih dahulu, diikuti Jaquine dan lainnya.
Stasiun Koven01 sangat luas, puluhan orang bergerak dengan cepat. Jacob mendongak, arsitektur stasiun ini lebih luar biasa dibandingkan Stasiun Lonne235.
Jacob berjalan di belakang mereka. Setelah keluar stasiun, sebuah mobil antik menunggu mereka.
Mobil antik berwarna hitam dengan bodi mengilap menunggu di depan stasiun. Uap tipis keluar dari mesinnya yang masih menyala pelan. Lambang Kerajaan Eastwiena terukir di pintunya.
Condrad membuka pintu terlebih dahulu, setelah itu Luther masuk dan duduk di samping kursi kemudi, diikuti oleh Kaiser dan Jaquine. Sementara Jacob, dengan inisiatif, menaikkan koper-koper mereka ke dalam bagasi belakang sebelum duduk di kursi mobil yang dilapisi kulit gelap. Begitu semua duduk, mesin mobil meraung pelan sebelum kendaraan itu mulai melaju meninggalkan Stasiun Koven01.
Jacob menoleh ke jendela, matanya tak berhenti mengamati ibu kota yang baru pertama kali ia lihat secara langsung.
Jalanan utama kota terbentang luas, dilapisi batu-batu besar yang tersusun rapi. Derap roda kereta kuda dan dengungan mesin mobil lainnya saling bersahutan, memenuhi udara pagi. Bangunan-bangunan tinggi berjajar di sepanjang jalan, dipenuhi ukiran klasik dan balkon besi tempa yang dihiasi ukiran-ukiran tanaman.
Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian rapi. Para bangsawan berjalan ditemani pelayan yang membawa payung atau dokumen, sementara pekerja kota terlihat tergesa-gesa memulai aktivitas mereka. Lampu-lampu Mana berdiri tegak di sepanjang trotoar.
Mobil kemudian berbelok memasuki jalan yang lebih lebar. Dari kejauhan, Jacob melihat menara istana Kerajaan Eastwiena menjulang di antara deretan bangunan. Kubahnya memantulkan cahaya matahari pagi.
Tak lama, mobil melintasi sebuah jembatan batu besar. Di bawahnya, sungai yang membelah kota mengalir tenang. Kapal-kapal dagang dan feri kecil bergerak perlahan, membawa barang dan penumpang. Angin sungai membawa aroma air dan logam, bercampur dengan bau asap batu bara dari cerobong bangunan di kejauhan.
Jacob mengalihkan pandangannya ketika mobil mulai meninggalkan distrik perdagangan dan memasuki kawasan yang jauh lebih sunyi. Bangunan di sekitar berubah menjadi lebih besar, lebih megah, dan berjaga ketat. Patung-patung dewa atau tokoh-tokoh bersejarah berdiri di beberapa tempat, memegang tongkat atau kitab yang dihiasi simbol sihir peninggalan masa lalu.
Suasana di dalam mobil terasa, hanya terisi kehebohan Kaiser yang menatap takjub penampilan ibu kota Eastwiena.
Setelah beberapa menit, mobil melambat.
Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan besar berarsitektur Eropa yang mendominasi alun-alun batu luas. Pilar-pilar tinggi menopang bagian depan bangunan, sementara dua kubah batu menjulang di sisi kanan dan kirinya.
Mahkamah Agung Sihir Eastwiena.
Tangga lebar menjulur dari pintu utama hingga ke pelataran depan. Beberapa orang dengan setelan gelap rapi terlihat berdiri di sana, berbicara dengan suara rendah atau berjalan masuk dengan langkah mantap. Aura yang terlihat misterius dan gelap.
Mobil berhenti tepat di depan tangga.
Jacob menelan ludah pelan, menggenggam koper miliknya lebih erat. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumahnya, ia benar-benar merasakan bahwa hidupnya telah berubah arah.
Tempat itu bukan sekadar gedung pemerintahan.
Tempat itu adalah pusat penghakiman sihir di seluruh kerajaan yang akan menjadi tempatnya bekerja mulai sekarang.
Bersambung...
BINABASA MO ANG
Echoes of a Forbidden Age
Historical FictionRyu Seorang pekerja kantor biasa berusia 20 tahun yang bertransmigrasi ke tubuh seorang pria misterius yang memiliki tanduk di kepalanya. Saksikan aksi Ryu yang terjebak dengan sihir, monster dan sekte sesat serta pembunuhan yang mengincar dirinya...
