Sejak kapan
satu detik jadi seribu musim?
Matamu singgah terlalu lama
dan aku lupa cara pulang ke diriku sendiri.
Kita tak bicara,
tapi alisku berkeringat menjawab pertanyaan
yang tak pernah kau tanyakan.
Tangan mendadak tak tahu harus di mana—
meremas ujung baju, pura-pura sibuk,
padahal seluruh ruang ini cuma berisi namamu.
Aku kalah sebelum perang.
Sekali kau menatap,
kata-kataku bubar baris.
Dadaku jadi panggung teater
dan degupnya aktor yang lupa naskah.
Kau tak tahu,
setiap kali matamu lupa berkedip,
aku belajar jadi puisi yang salah cetak:
berantakan, gugup,
tapi jujur di tiap jedanya.
Kalau cinta diukur dari berapa kali
kita saling curi pandang lalu sama-sama buang muka,
mungkin diam-diam kita sudah menang
tanpa pernah mengaku jadi peserta.
Jadi tolong,
selanjutnya tatap aku lebih sebentar saja.
Atau jangan.
Biar aku terus begini—
salah tingkah,
dan diam-diam bahagia karenanya.
_____
1/100
YOU ARE READING
untuk dia, yang telah singgah di hatiku.
Poetryjika aku adalah pulau, maka kamu adalah sebuah perahu kecil yang singgah di pulau dengan paras yang menawan, membuat sipulau terpana hingga tak sengaja menghayutkan perahumu lebih jauh, agar kamu bisa tinggal disini, dihatiku. -Nabilaaa Ini adalah...
