We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1: Tepung Putih dan Matahari yang Tak Diundang

19 4 8
                                        

Dapur adalah satu-satunya tempat di mana keheningan terasa masuk akal. Di sana, suara denting sendok perak dan desis oven adalah musik yang tidak menuntut balasan. Pagi ini, Nora sedang menakar gula, membiarkan butiran putih itu jatuh seperti salju lembut di atas adonan. Baginya, membuat kue adalah cara untuk menyentuh dunia tanpa harus benar-benar menyentuhnya.

Kedua tangannya yang pucat terbalut tepung hingga sebatas pergelangan gaun putihnya. Namun, ketenangan itu pecah saat pintu kayu besar di depan terbuka.

​"Nora? Kau di dapur?"

Suara Julian. Nora membeku. Biasanya, kakaknya akan langsung menuju ruang kerja, namun langkah kaki yang terdengar kali ini berjumlah dua pasang. Satu langkah terasa berat dan mantap, yang lain—yang asing—terasa penuh energi yang tidak biasa.

Julian muncul di ambang pintu bersama seorang pria.

Pria itu adalah antitesis dari dapur Nora yang tenang. Ia membawa aroma angin luar, debu jalanan, dan cahaya matahari yang menyengat. Rambutnya berantakan tertiup angin, dan matanya... matanya seolah bisa melihat menembus debu tepung yang melayang di udara.

​"Nora, perkenalkan, ini Felix. Sahabatku yang baru kembali dari Florence," Julian melangkah masuk, wajahnya cerah.

Nora mencengkeram pinggiran meja kayu. Suaranya tertahan di tenggorokan, terkubur di bawah ribuan bait puisi yang belum ia tulis. "Se-selamat datang," bisiknya, hampir tak terdengar.

Felix melangkah maju, senyumnya melebar—sejenis senyum yang mampu melelehkan es di musim dingin. "Julian selalu bilang dia punya adik yang manis, tapi dia lupa bilang kalau adiknya adalah seorang bidadari yang sedang menyamar jadi pembuat roti."

Wajah Nora memanas. Pujian itu terlalu terang, terlalu langsung. Ia tidak terbiasa dipandang seintens itu. Ia hanya bisa menunduk, menatap noda tepung di ujung sepatunya.

​"Terima kasih," jawab Nora pendek, jarinya gelisah memainkan kain celemeknya.

Tepat saat kecanggungan itu hampir mencekik Nora, Lady Beatrice masuk dengan langkah anggun. Matanya berbinar melihat tamu putranya.

​"Ah, Felix! Akhirnya kau sampai juga. Alaric sudah menyebut namamu sejak kemarin," sapa ibunya hangat, langsung menghampiri dan menyambut Felix dengan keramahan seorang ibu rumah tangga yang sempurna.

Nora merasa sedikit lega karena perhatian beralih. Dalam posisi yang merasa "aman" karena ibunya sedang berbicara, Nora memberanikan diri. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Felix dari balik helaian rambutnya. Ia mengamati bagaimana Felix tertawa, bagaimana jakunnya bergerak saat ia bicara, dan bagaimana tangannya yang besar bergerak penuh semangat. Felix terasa begitu hidup. Begitu nyata.

Namun, Felix tiba-tiba menoleh.

Mata mereka bertemu. Sepersekian detik yang terasa seperti satu jam.

Nora tersentak, jantungnya berdegup kencang seperti sayap burung yang terperangkap dalam sangkar. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah oven, pura-pura memeriksa suhu, meski tangannya gemetar hebat.

Julian terkekeh, menyadari perubahan warna di pipi adiknya. "Hati-hati, Felix. Adikku ini mudah sekali terbang menguap jika kau tatap terlalu lama. Lihat, dia sudah merah padam seperti buah ceri."

​"Kakak, hentikan..." bisik Nora, rasanya ia ingin menghilang ke dalam lantai dapur, menjadi bagian dari bayang-bayang di pojok ruangan.

Lady Beatrice menepuk lengan Julian dengan lembut. "Sudahlah, Jules. Jangan menggoda adikmu terus. Biarkan dia menyelesaikan kuenya. Mari, ajak Felix ke ruang tamu, ayahmu sudah menunggu."

Julian mengangguk patuh dan mulai menggiring Felix keluar. Namun, sebelum melangkah pergi, Felix berhenti di ambang pintu. Ia menoleh ke arah Nora, seolah-olah ia bisa merasakan rahasia yang tersembunyi di balik diamnya gadis itu.

​"Aku akan menunggu kue itu di ruang tamu, Nora," ucap Felix dengan nada akrab, seolah mereka sudah berteman bertahun-tahun. "Aku yakin rasanya sesegar puisi yang belum terbaca."

Nora tertegun. Felix tidak tahu—pria itu sama sekali tidak tahu bahwa di dalam laci kamarnya, ada ribuan bait puisi yang menceritakan tentang keheningan yang baru saja ia pecahkan.

Setelah mereka pergi, dapur kembali sunyi. Namun bagi Nora, keheningan itu tidak lagi berwarna putih. Kini, ada sisa-sisa warna emas matahari yang tertinggal di sana.

The White Silence of BlancheStories to obsess over. Discover now