Bab 1

1 0 0
                                        

Aku tak pernah menyangka, jika perasaan yang telah lama kupendam, akhirnya menjelma menjadi kenyataan yang tak pernah kubayangkan.

Aku terbangun dengan keadaan bingung. Bagaimana tidak, beberapa barang elektronik kesayangan yang sudah lama rusak, tiba-tiba dapat berfungsi dengan normal lagi.

Lampu di ruang belajar yang biasanya hidup-mati sendiri, jadi terang dan menyala dengan stabil. TV Digital yang sering tidak dapat menangkap beberapa stasiun televisi, jadi lancar dan bisa memunculkan bermacam-macam siaran televisi.

Bahkan, yang membuatku nyaris berhenti bernapas.
Sebuah radio tua. Radio peninggalan almarhum Kakek yang dulu sering aku gunakan untuk mendengarkan siaran sebagai pengantar tidur.

Sudah lama benda ini tidak bersuara. Saat ini mampu memperdengarkan suara yang sangat jernih, seakan baru saja dibeli dalam keadaan masih baru dari sebuah toko.

Aku kemudian menyadari bahwa di sofa ruang tamu ada sebuah kotak besar dengan pita seperti kado. Saat dibuka, terdapat satu set baju lebaran yang anggun. Berlengan panjang, dengan tinggi semata kaki. Sungguh desain yang tampak elegan.

Modelnya seperti baju khas negara Timur Tengah. Kalau tidak salah ingat, biasanya disebut kaftan. Warnanya kombinasi merah delima dan coklat muda seperti pasir gurun. Sedikit unik, tapi terkesan mempesona di mataku.

Waktu pandangan ini beralih ke meja, tampaknya sudah tersaji beberapa toples bening berisi kue-kue kering khas lebaran. Bahkan ada rendang juga.
Aku langsung tergerak untuk mencicipi satu per satu. Kemudian langsung terdiam. Semuanya, lezat sekali.

Rasanya bahkan seolah-olah makanan ini dibuat dengan segenap ketulusan. Tercecap rasa manis, gurih, dan kehangatan yang tak mampu digambarkan.
Di benak ini seketika terlintas satu pemikiran absurd.

“Bukankah ini jadi seperti hantaran lamaran ya? Tinggal tambah perhiasan dan seperangkat alat sholat. Komplit sudah!“

Adikku Ananta tiba-tiba datang dan membuatku terkejut. “Nah, ini dia putri tidurnya, baru bangun jam segini! Tadi ada tamu nungguin Kakak bangun, sampai punya waktu segala benerin semua alat elektronik kesayangan Kakak.”

“Kakak kan lagi haid, Dek. Lemes banget. Ngomong-ngomong … tamunya siapa? Ini semua dari siapa?” jawabku, dengan suara memelas.

Ananta menjawab ringan, seringan mengabarkan cuaca hari ini yang normal-normal saja.

“Dari Kaysan.”

Aku langsung membuka mulut lebar-lebar, entah sudah sekacau apa tampilan wajah ini sekarang. Tak sempat peduli.

“Loh… maksudnya apa?”

Sedetik kemudian rasanya ingin tertawa, mungkin dia sedang mengerjaiku. Karena tahu betapa kakaknya ini tengah tergila-gila pada seorang mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di universitas teknik terkenal di Korea Selatan.

“Kalau iya. Dia di mana sekarang?” Aku melipat kedua tangan di dada, dan menatap tajam. Mencari tanda-tanda kebohongan di matanya.

Dia tak bergeming, hanya menjawab santai, “Udah pulang. Katanya nanti sore udah berangkat kembali ke Jakarta. Terus seminggu setelah lebaran balik ke Korea.”

“Loh, kok langsung balik ke Jakarta? Sebenarnya maksudnya ngasih ini semua apa sih?”

Dia menarik napas pelan, kemudian menjawab dengan nada prihatin.

“Katanya, cuma mau ngasih dengan tulus aja… biar di lebaran kali ini Kakak merasa bahagia. Soalnya Kaysan pikir Kakak sengaja pura-pura tidur karena nggak suka sama dia. Jadi dia nggak mau kehadirannya membuat Kakak merasa nggak nyaman.”
Jawaban yang sederhana … tapi rasanya seperti pisau yang mendadak ditikamkan ke dada ini.

Seketika napasku sesak. Sepasang kaki ini langsung melangkah cepat ke teras rumah. Tanpa sadar, tiba-tiba air mataku menetes.

Bersambung....

Selamanya, Meski Tak DiutarakanStories to obsess over. Discover now