Prolog

327 61 24
                                        

Langit sudah gelap sejak satu jam yang lalu. Hujan turun deras membasahi halaman rumah besar itu. Suara rintiknya terdengar jelas sampai ke dalam ruang kerja.

Daxen duduk di kursinya. Laptop di depannya masih menyala, tapi sejak beberapa menit lalu tidak benar-benar dia perhatikan. Tangannya menopang kepala, sementara matanya menatap kosong ke layar.

Tok tok

Suara ketukan pintu terdengar. Namun tidak ada jawaban. Daxen hanya menatap tanpa ada niatan menyahut ketukan itu. Dia tahu siapa yang ada di depan sana.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih keras. Daxen menghela nafas panjang mendengar suara tidak sabaran itu.

"Masuk," sahutnya.

Pintu terbuka perlahan. Sosok kecil muncul dari balik pintu. Rambutnya sedikit berantakan, piyamanya sudah kusut. Kedua matanya mengintip pelan ke dalam ruangan, ragu.

"Papa?" panggilnya dengan suara kecil, serak dan cadel khasnya.

Daxen menoleh sekilas. "Belum tidur?" tanyanya datar.

Noah menggeleng pelan. Tangannya masih memegang gagang pintu yang rendah, tidak berani masuk sepenuhnya.

"Noa... Ndak bisa bobo," cicit Noah sedikit merengek.

Daxen menutup laptopnya dengan satu gerakan pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap anaknya beberapa detik tanpa ekspresi.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

Noah diam sebentar. Lalu melangkah masuk pelan-pelan. Kakinya kecil, tapi langkahnya hati-hati, seolah takut dimarahi. "Tadi petilnya besal..." gumamnya.

Suaranya terdengar semakin pelan. Daxen tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke arah kaki kecil yang mendekat, lalu ke wajah anak itu yang tampak cemas.

Daxen diam beberapa detik, mengamati putranya yang masih menunduk memainkan jemari kecilnya. "Lalu?"

Noah semakin menunduk. Jemarinya saling menggenggam gelisah. "Noa takut," lirihnya.

Daxen menghela nafas pelan. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mendekat. Noah refleks diam di tempat, tubuhnya sedikit menegang. Pria itu berhenti tepat di depannya.

"Takut, ya?"

Noah mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia tahan agar tidak pecah dan membuat sang ayah marah. "Iya," balasnya pelan.

Tanpa banyak bicara, Daxen menurunkan tubuhnya sedikit, lalu mengangkat Noah ke dalam gendongannya. Gerakannya tidak terlalu lembut, tapi juga tidak kasar.

Noah terkejut untuk sesaat, tapi langsung melingkarkan tangannya ke leher ayahnya. Wajahnya otomatis menempel di bahu Daxen.

"Pegangan yang bener," ucap Daxen datar.

"Iya," bisik Noah lebih tenang setelah memeluk sang ayah.

Daxen berjalan keluar dari ruang kerjanya. Lampu dimatikan begitu saja. Dia tidak kembali ke pekerjaannya malam itu. Langkahnya berhenti di depan kamar Noah.

Tangannya bergerak membuka pintu itu lebih lebar. Kasur kecil itu masih berantakan. Boneka berserakan di sana-sini. Daxen meletakkan Noah di atas kasur. Tapi tangan kecil itu tidak mau lepas.

"Papa~"

Daxen menatapnya. "Hm?"

Noah menggigit bibirnya. "Temenin adek, boleh?"

Pertanyaan yang terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat Daxen diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

Hujan masih turun di luar. Sampai akhirnya, dia menghela nafas pelan. Lalu naik ke kasur itu tanpa banyak bicara. Berbaring di samping Noah membuat si kecil tersenyum senang.

Tubuh kecil itu langsung mendekat. Menempel tanpa ragu. Kepalanya bersandar di lengan Daxen. Seolah itu tempat paling aman di dunia. Dia selalu senang setiap kali ayahnya tidak menolak permintaannya.

"Papa," panggilnya lagi disela kantuknya.

"Tidur."

"Noa sayang Papa."

Kalimat itu keluar begitu saja dengan nada polos tanpa beban. Daxen terdiam. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Tidak ada jawaban. Tidak ada balasan. Hanya keheningan yang terasa.

Tangannya bergerak. Dengan pelan menepuk punggung kecil itu. Dadanya tiba-tiba menghangat. Senyuman kecil muncul di bibirnya tanpa dia sadari.

"Papa juga sayang sama Noah..." gumamnya lirih hampir tidak terdengar.

Noah sudah terlelap sebelum sempat mendengar sepenuhnya. Sementara Daxen tetap terjaga. Menatap kosong ke depan. Dengan satu pikiran yang selalu sama. Dia tahu rasanya dicintai.

Tapi, tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara mencintai kembali.

Daxen Halverson

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Daxen Halverson

Daxen Halverson

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Noah Halverson

Jangan lupa vote dan komennya yaw...

Tolong diingatkan apabila ada kesalahan di beberapa bagian!

Terima kasih atas waktunya...

Sampai jumpa lagi~

Love? Where stories live. Discover now