Malam itu, ruang makan terasa lebih dingin dari biasanya.
Padahal lampu kristal di langit-langit menyala terang, memantulkan cahaya hangat ke meja panjang yang dipenuhi hidangan mahal. Semuanya terlihat sempurna—terlalu sempurna—hingga terasa menyesakkan.
Gaotu duduk tegak di kursinya, punggung lurus, ekspresi datar. Setelan kerjanya masih rapi, seolah ia belum benar-benar pulang dari dunia luar yang penuh tuntutan.
Di hadapannya, kedua orang tuanya sudah menunggu. Tatapan mereka tidak main-main.
"Ayah sudah mengatur pertemuan dengan keluarga Chen minggu depan."
Suara itu tegas. Tidak memberi ruang untuk penolakan.
Gaotu tidak langsung menjawab. Ia hanya menurunkan pandangannya ke piring, mengambil gelas air, lalu meneguknya pelan.
Seolah berharap waktu bisa berhenti beberapa detik saja.
"Kamu dengar, Gaotu?" ibunya menyela, nada suaranya lebih halus, tapi justru terasa lebih menekan. "Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini penting untuk perusahaan."
Tentu saja.
Semua selalu tentang perusahaan.
Gaotu mengangkat wajahnya perlahan. "Aku sibuk minggu depan."
Jawabannya singkat. Datar. Tanpa emosi.
Ayahnya mendengus pelan, jelas tidak puas. "Jadwalmu bisa diatur. Ini bukan permintaan, ini keputusan."
Sunyi.
Udara di antara mereka terasa semakin berat.
Gaotu menggerakkan rahangnya sedikit, menahan sesuatu yang hampir keluar. "Kalau soal kerja sama bisnis, aku bisa tangani tanpa harus menikah."
"Itu pemikiran anak kecil."
Kali ini suara ayahnya lebih keras.
"Kamu pikir dunia bisnis hanya soal angka? Ini soal relasi, kepercayaan, ikatan. Pernikahan adalah investasi jangka panjang."
Gaotu tertawa kecil. Bukan karena lucu—lebih karena tidak percaya.
"Jadi sekarang aku ini... aset perusahaan?"
Ibunya langsung menatap tajam. "Jangan bicara seperti itu."
"Tapi memang begitu, kan?" Gaotu menyandarkan tubuhnya ke kursi, akhirnya menunjukkan sedikit kelelahan yang selama ini ia sembunyikan. "Dari dulu sampai sekarang, semua yang aku lakukan selalu untuk keluarga. Untuk perusahaan."
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, tapi jauh lebih jujur.
"Sekarang bahkan hidup pribadiku juga mau diatur."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding yang terdengar.
Ibunya menghela napas panjang. "Kami melakukan ini untuk kebaikanmu juga."
Kalimat klasik.
Gaotu hampir tersenyum mendengarnya.
"Aku tidak butuh itu."
"Kamu butuh stabilitas." Ayahnya memotong cepat. "Kamu sudah cukup umur. Semua orang seusiamu sudah menikah."
"Lalu?"
"Lalu kamu masih sendirian."
Jawaban itu seperti pisau yang dilempar santai tapi tepat sasaran.
Gaotu terdiam.
ESTÁS LEYENDO
Borrowed Love
Ficción GeneralGaotu, seorang pria dewasa yang sudah mapan dan dikenal perfeksionis, sedang berada di titik tertekan dalam hidupnya. Di usianya yang semakin matang, keluarga terus mendesaknya untuk segera menikah-bahkan sampai mengatur perjodohan yang membuatnya s...
