Eps 1. First Meet

232 20 0
                                        

Ucapan selamat dari para tamu datang silih berganti, bersahut-sahutan di antara denting gelas dan musik latar yang mengalun lembut. Tak sedikit dari mereka yang berebut mengabadikan momen bersama sepasang pengantin baru itu.

Di atas pelaminan, atmosfer kebahagiaan tampak begitu pekat. Walau resepsi sengaja digelar tertutup dan hanya mengundang keluarga serta kerabat dekat, acara tersebut sama sekali tidak terasa hambar. Riuh ruangan semakin menjadi ketika para tamu tak diundang mulai berdatangan. Mereka berbondong-bondong hadir, yang tak lain tak bukan adalah perwakilan teman kantor dari kedua belah pihak pengantin.

Sebenarnya, pasangan pengantin itu sudah membuat kesepakatan jika pernikahan ini harus digelar secara tertutup dan dirahasiakan rapat-rapat dari lingkungan kerja. Lagipula, ini hanyalah pernikahan kontrak di atas kertas. Untuk apa diumbar dan memancing kehebohan yang tidak perlu? Begitu pikir mereka.

Namun, gosip tetaplah gosip. Mau digembok seerat apa pun, rumor di koridor kantor selalu menemukan celah untuk bocor dan melebar.

"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memberi tahu orang kantor? Kenapa teman-temanmu banyak sekali yang datang?" bisik Dira tajam. Matanya menatap lurus ke depan demi menjaga wibawa, namun sudut bibirnya berkedut menahan kesal pada wanita yang baru beberapa jam lalu sah menjadi istrinya.

"Aku juga tidak tahu kenapa mereka bisa datang kesini," sahut Raya tidak mau kalah, senyumnya dipaksakan seindah mungkin di hadapan kamera tamu.

"Berhenti menyalahkanku. Lihat ke sebelah sana, rekan kerjamu juga tidak kalah banyak yang datang!"

"Tapi-"

"Diam!" potong Raya cepat. Melalui sudut matanya, ia melirik beberapa senior kantor yang mulai berjalan mendekat.

"Tersenyum lebarlah jika tidak ingin mereka curiga."

Bersamaan dengan kalimat itu, tangan Raya bergerak ke belakang pinggang Dira, lalu memberikan satu cubitan maut di lengan suaminya. Dira tersentak kecil, namun langsung memaksakan senyum sehangat mentari, meski hatinya menggerutu setengah mati.

Jika kalian penasaran bagaimana pernikahan kontrak penuh sandiwara ini bisa terjadi, mari kita putar balik waktu. Kita perlu kembali ke titik awal, ke hari di mana benang takdir mereka yang kusut untuk pertama kalinya bertemu.

.
.
.
.
.

Flashback dimulai di sebuah kafe berdesain minimalis di sudut kota. Siang itu, Dira duduk menyendiri di meja dekat jendela. Sesekali ia menyesap Americano dinginnya yang mulai berembun, sementara jemarinya sibuk menggulir layar tablet. Pria itu sedang memeriksa beberapa dokumen sembari menunggu klien penting yang dijadwalkan bertemu dengannya.

Kling.

Suara lonceng di atas pintu berdenting, memecah keheningan kafe dan dengan otomatis menarik perhatian Dira. Seorang wanita melangkah masuk dengan napas yang agak memburu, seolah habis berlari dikejar waktu. Wanita itu celingukan, mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan demi mencari seseorang, hingga netranya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata elang milik Dira.

Seketika, gurat kebingungan di wajah wanita itu lenyap, digantikan senyum ramah yang merekah lebar. Ia melangkah penuh percaya diri menghampiri meja Dira.

Apakah dia klienku? Bukankah profil yang dikirimkan sekretarisku adalah seorang pria? batin Dira, alisnya bertaut samar.

"Permisi, Pak. Benar dengan perwakilan dari R&D Company?" tanya wanita itu begitu tiba di depan meja.

Dira hanya mengangguk pelan, berniat menyimak terlebih dahulu.

Merasa telah menemukan orang yang tepat, wanita itu langsung mengambil tempat duduk di hadapan Dira tanpa ragu.

His Stupid IdeaStories to obsess over. Discover now