Bab 1: Ruang Tunggu yang Sesak

5 0 0
                                        

Layar ponsel itu menyala, memantulkan cahaya redup ke wajah Aurora yang sembab.

[WhatsApp] Adrian: (2 Days Ago)
“Gak usah lebay, Ra. Aku cuma sibuk. Kabar itu nggak penting, yang penting aku masih sama kamu, kan?”

Itu adalah pesan terakhir. Dua hari yang lalu. Sejak saat itu, setiap ketikan Aurora hanya berakhir di centang abu-abu.

Aurora meringkuk di pojok tempat tidur. Dadanya sesak, bukan karena asma, tapi karena menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ia merasa seperti pengemis. Mengemis kabar, mengemis waktu, mengemis sedikit saja suara dari laki-laki yang katanya mencintainya.

Setiap kali Aurora protes, Adrian akan mengeluarkan jurus pamungkasnya: Silent Treatment. Adrian akan mendiamkannya berhari-hari sampai Aurora merasa bersalah dan meminta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan.

“Apa dia sudah makan? Apa dia kecapekan kerjanya? Atau... apa dia sengaja mau buat aku gila?” gumam Aurora pelan.

Jarinya yang gemetar mencoba mengetik sesuatu di kolom chat.

“Yan, aku salah apa? Tolong bicara sama aku...”

Malam semakin larut, dingin mulai menusuk tulang, namun Aurora tetap terpaku pada layar ponselnya yang gelap. Ia menunggu sebuah getaran, sebuah notifikasi, atau sekadar tulisan 'typing...' di ujung atas layar yang bisa memberinya oksigen untuk bernapas sedikit lebih lega.

Hening. Ponsel itu tetap membisu. Sedingin hati laki-laki yang sedang ia perjuangkan.

Aurora memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh tepat di atas layar ponselnya yang retak. Ia tidak tahu, bahwa di balik keheningan ini, Adrian sedang memberinya pelajaran paling kejam dalam hidup: cara untuk terbiasa hidup tanpanya.

Di Balik Layar yang Tetap Gelap
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Maya hanya menatap layar ponselnya yang mati. Tidak ada notifikasi, tidak ada dering telepon, bahkan tidak ada sekadar "sudah makan?" dari Aris.

Dulu, Maya akan panik. Ia akan mengirimkan puluhan pesan, menelepon berkali-kali, dan bertanya-tanya: Apakah dia marah? Apa aku salah bicara? Apakah dia baik-baik saja? Namun, malam ini berbeda. Maya hanya menarik napas panjang dan meletakkan ponselnya di atas meja rias.

Internal Monolog: Suara di Dalam Kepala Aurora

"Ternyata, mencintai kamu adalah pekerjaan paling melelahkan yang pernah aku ambil. Aku selalu merasa seperti pemain cadangan di hidupmu, yang hanya kamu panggil saat kamu sedang merasa sepi, lalu kamu buang ke bangku pojok saat kamu sudah menemukan hiburan lain."

"Apa sih susahnya mengetik sepuluh huruf untuk bilang 'aku sampai rumah'? Sepuluh detik yang kamu punya, tapi bagi aku, itu adalah nyawa untuk ketenanganku sepanjang malam. Tapi sekarang aku sadar, kamu bukan nggak punya waktu, kamu cuma nggak punya aku di daftar prioritasmu."

"Sakit ya, Yan? Rasanya didiamkan oleh orang yang paling kita cari? Dulu aku pikir duniamu terlalu luas sampai kamu sering lupa jalan pulang ke aku. Ternyata nggak, duniamu memang luas, tapi aku memang nggak pernah ada di dalamnya secara utuh."

"Setiap kali ponselku bergetar, jantungku berhenti sedetik. Aku selalu berharap itu kamu, meskipun semesta sudah berkali-kali bilang kalau itu bukan kamu. Aku benci diriku yang masih berharap pada seseorang yang bahkan nggak peduli kalau aku hampir gila karena ketidakpastian."

"Kamu selalu bilang aku lebay. Kamu bilang aku kekanak-kanakan karena butuh kabar. Tapi kamu lupa, bahkan Tuhan pun memberi kabar melalui tanda-tanda alam agar manusia tidak tersesat. Lalu kenapa kamu membiarkan aku tersesat di tengah hutan keheningan yang kamu buat sendiri?"

"Dulu, diammu adalah hukuman bagiku. Sekarang, diammu adalah hadiah. Karena dalam diam, aku akhirnya bisa mendengar suaraku sendiri yang selama ini tertutup oleh tangisanku karena kamu."

Beberapa orang terlalu asyik mengabaikan, sampai mereka lupa bahwa hati yang paling sabar pun punya titik jenuhnya.

Kabar Yang Tak Lagi Penting Stories to obsess over. Discover now