Ruangan itu terasa dingin, saat pheromone Musk masih saja menusuk secara dominan. Herion menghela napas, Noel benar-benar duplikat Julius. Karakternya sama-sama keras, egonya sama-sama tinggi, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Julius merasa apa yang dilakukannya benar, dan Noel merasa apa yang dilakukan ayahnya ada untuk menjadi kekangannya.
"Ayahㅡ"
"Jika kau kembali memohon untuk Noel, kali ini ayah akan menghentikanmu dari awal, Herion."
Lihat, ego keduanya tinggi dan tidak menerima saran dari orang lain.
"Aku tidak akan memohon untuk Noel, aku hanya minta Ayah berhenti membuat batas antara dominan dan resesif. Menjadi resesif bukan berarti Ayah terus menempatkan mereka dalam sangkar yang sering Ayah sebut perlindungan."
Pria paruh baya itu terdiam, tatapannya lurus ke arah luar yang menggelap. Senja perlahan menghilang dilahap mendung, dan kini rintikan hujan perlahan turun.
Sekarang bayangan kisah lama kembali menyeruak masuk. Kepingan buruk masa lalu, mulai menampakkan diri walaupun telah dikubur lama.
"Hanya karena Ayah gagal, bukan berarti semua harus terkena dampaknya. Terlebih Noel yang tidak tahu apapun."
"Pergilah ke kamarmu, ayah ingin melanjutkan pekerjaan ayah."
Herion menghela napas lelah, menjadi penengah orang yang bahkan tidak ingin menurunkan egonya adalah hal paling melelahkan untuk Herion.
"Panggil aku jika membutuhkan bantuan."
Pintu terdengar berderit menutup, kini ruangan terasa lebih sunyi.Julius masih menatap rintikan hujan yang semakin deras, beberapa kali kilat tampak terlihat diiringi suara petir yang cukup menggelegar.
Tuk tuk tuk
Perhatiannya teralih pada suara ketukan kecil dari balik jendela. Seekor burung tampak bertengger, namun tatapannya tertuju pada gulungan surat yang diikat di kakinya.
Julius membuka jendela membiarkan burung itu mendekat agar ia dapat mengambilnya. Gulungan itu terstempel logo singa namun ia tak bisa menerka datang dari mana surat ini.
Ia menarik tali yang mengikatnya, membaca setiap huruf yang bahkan di baris pertama Julius dibuat terkejut.
"Ah, Ziregar ..." Julius mengernyit kesal, giginya bergemeletuk pelan.
****
Matahari mulai menyingsing di ufuk timur, kicauan burung menjadi nyanyian pagi itu. Dedauan tampak basah oleh embun begitupun tanah yang basah jejak hujan semalam.
Pagi cerah itu menyambut Killian yang baru terbangun di kamarnya, silau matahari yang menyorot setelah tirai terbuka jelas mengganggunya. Matanya mengerjap malas, tubuhnya menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya.
"Your Highness, saatnya Anda bersiap. Kaisar dan permaisuri menunggu Anda untuk pertemuan pagi ini."
"Oh? Sylas, mengapa kau lagi, ke mana Noel?" Suara Killian terdengar serak khas bangun tidur.
"Saya belum mendapat informasi, pagi ini Viscount Noel hanya memberi perintah untuk menggantikannya sementara."
Killian mengernyit, tidak biasanya Noel tiba-tiba meminta pergantian seperti ini jika bukan saat masanya datang. Lagipula Noel baru melewatinya kemarin, sangat tidak mungkin masa Noel datang lagi.
"Bantu aku bersiap."
"Baik, Your Highness."
Killian bersiap dibantu oleh beberapa pelayan, sejak kemarin ibunya mengatakan untuk mengadakan pertemuan pagi dengan sang ayah. Dan dapat Killian tebak hal itu akan menyangkut tentang pernikahannya.
YOU ARE READING
[NOMIN] The Verdantia's Amber
FanfictionDia dikenal sebagai Lycan tangguh karena mendapat wujudnya sejak kelahirannya. Namun putra Kaisar itu jatuh cinta pada seorang Lycan Cacat keturunan Raja. Di saat orang-orang menuding kecacatannya sebagai cela, ia bisa dicintai segila itu oleh sang...
![[NOMIN] The Verdantia's Amber](https://img.wattpad.com/cover/394119138-64-k515272.jpg)