Hujan turun perlahan di luar jendela rumah sakit, menetes seperti waktu yang berjalan tenang namun pasti. Di dalam ruang bersalin itu, Yoon Min-ho berdiri dengan gelisah, jemarinya saling menggenggam erat seolah berusaha menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kecemasan. Dari balik pintu, suara samar istrinya, Yoon Jiwon, sesekali terdengar, membuat dadanya terasa semakin sempit.
Sudah dua tahun sejak kelahiran putri pertama mereka, Yoon Jennie—seorang anak kecil yang riang dengan tawa yang mudah memenuhi seluruh rumah. Kehadiran Jennie telah mengubah hidup mereka menjadi lebih hangat, lebih hidup. Dan kini, mereka menanti kehadiran anak kedua.
Waktu terasa berjalan lambat, hingga akhirnya pintu ruang bersalin terbuka. Seorang perawat keluar dengan senyum lembut.
"Selamat, Tuan Yoon. Ibu dan bayinya selamat. Seorang bayi perempuan."
Min-ho menghela napas panjang, seakan beban besar di dadanya luruh seketika. Ia mengangguk berkali-kali, matanya berkaca-kaca. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera masuk ke dalam ruangan.
Jiwon terbaring lemah namun tersenyum, wajahnya pucat tetapi penuh ketenangan. Di sampingnya, seorang bayi kecil dibungkus selimut putih, tidur dengan damai.
"Min-ho..." suara Jiwon pelan, namun hangat.
Min-ho mendekat, menatap bayi itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. "Dia... cantik sekali," gumamnya.
Kulitnya halus, pipinya kemerahan, dan bulu matanya yang tipis tampak bergetar ringan. Ia tampak begitu sempurna, begitu rapuh, seperti sesuatu yang harus dijaga dengan seluruh jiwa.
"Siapa namanya?" tanya Jiwon.
Min-ho menatap istrinya, lalu kembali pada bayi itu. "Yoon Jisoo," ucapnya mantap.
Nama itu terasa lembut, namun kuat. Seolah membawa harapan akan kehidupan yang indah.
Beberapa jam kemudian, kebahagiaan itu perlahan bercampur dengan sesuatu yang tak terduga.
Seorang dokter meminta Min-ho dan Jiwon untuk berbicara secara pribadi. Wajah dokter itu tenang, tetapi ada keseriusan yang tak bisa disembunyikan.
"Ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan mengenai kondisi bayi Anda," ujar dokter tersebut dengan hati-hati.
Jiwon menggenggam tangan suaminya. "Apa maksudnya, Dokter?"
Dokter itu menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, "Kami menemukan indikasi bahwa putri anda kemungkinan memiliki gangguan perkembangan intelektual. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai disabilitas intelektual. Di mana kemampuan kognitif dan perkembangan adaptif anak berkembang lebih lambat dibandingkan anak seusianya."
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi.
Min-ho mengerutkan kening, mencoba memahami. "Apakah... itu berarti dia tidak akan tumbuh seperti anak lain?"
"Perkembangannya mungkin berbeda," jawab dokter dengan lembut. "Namun, tingkatnya belum bisa kami pastikan saat ini. Yang jelas, ia akan membutuhkan perhatian, terapi, dan dukungan yang lebih intensif."
Jiwon menunduk, air mata mulai mengalir tanpa suara. "Apakah ini... kesalahan saya?"
"Tidak," dokter itu segera menegaskan. "Kondisi seperti ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dan sering kali tidak dapat dicegah. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana kita mendukung tumbuh kembangnya ke depan."
Min-ho memejamkan mata sejenak, lalu menggenggam tangan Jiwon lebih erat. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi keheningannya mengandung tekad yang perlahan terbentuk.
Malam itu, ketika mereka kembali ke kamar, Jiwon memandangi Jisoo yang tertidur di sampingnya. Wajah bayi itu begitu tenang, seolah dunia belum menyentuhnya dengan keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNPERFECT SISTER (END)
FanfictionSejak awal, Jisoo memang tak pernah sendiri. Dia yang berbeda, memiliki keluarga yang selalu menerima. Mereka, tak pernah menyerah pada kondisi saudaranya yang berbeda. 🩷JENCHULICHAENG🩷
