Prolog

27 5 4
                                        

Ceklek!

Pintu di ruangan mewah itu terbuka.

Seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna merah menyala dengan potongan bahu terbuka melangkah dengan pelan.

Rambut berwarna blonde yang sedikit kemerahan itu bergerak, seiring langkahnya menuju pria pengusaha kaya yang baru saja membayar jasanya, mahal.

"Selamat pagi, Tuan Reonald." wanita itu meletakkan tas yang dibawanya ke atas meja kerja.

Berdiri dengan pose menggoda seperti instruksi teman-temannya yang tentu pernah menjadi teman tidur Reonald Abrajam yang ternyata berwajah tampan.

Sial!

Tatapan dingin Reonald benar-benar membuat jantungnya berdebar.

"Kau wanita yang anak buahku jemput? Serius?"

Ekor mata pria itu menatap sinis.

Begitu saja melihat mangsa mulai ujung kepala sampai ujung kaki. Tentu dia sangat pemilih, apalagi uang yang dia keluarkan tidak sedikit.

"Penampilanmu memang cukup menarik," Reonald Abraham beranjak dari kursi. Melepas dasi yang mencekik kemudian mendekati si wanita. "tapi wajahmu, sangat tidak memenuhi seleraku."

Wanita itu tersenyum kaku.

Mungkin pertama kali dalam pekerjaanya di kritik pedas oleh lelaki padahal pelanggannya yang lain selalu memuji.

Namun, ini bukan masalah besar. Mendapat pelanggan seperti Reonald tentu seperti memenangkan undian besar.

"Kecantikan saya mungkin tidak sesuai dengan selera Anda, tapi bagaimana dengan tubuh saya? Tidakkah Anda mau mencoba?" Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Reonald. Tiada ragu memandang sorot mata kejam yang selalu membuat lawan-lawannya tumbang.

"Lakukan."

Wanita itu mulai menunjukkan aksinya.

Dengan girang melepas kemeja yang membungkus tubuh si pengusaha tampan hingga dada bidang dan otot liat di sepanjang perutnya terpampang nyata.

Ini luar biasa.

Wanita itu benar-benar terpana sampai jemari lentiknya tertahan di sana. Namun, belum sampai dia bertindak jauh, tiba-tiba saja ....

Ceklek!

"Astaga!"

Pintu di depan sana terbuka dan pekikan yang tiba-tiba terdengar, jelas saja membuyarkan suasana. 

"Sudah aku peringatkan jangan lupa mengentuk pintu sebelum masuk, Olivia!"

Reonald mengeram kesal.

Dia yang pemilih soal kecantikan wanita malah dihadapkan dengan wanita kuno seperti Olivia yang sungguh membuat hari-harinya membosankan.

Andai bukan karena ancaman ayahnya, mana mau dia memperkerjakan wanita yang penampilannya seperti bibi-bibi kolot begitu?

Belum lagi sikap Olivia yang kaku--seolah menganggap dia hantu.

"Masuk!"

Reonald berteriak lagi.

Spontan membuat wanita muda yang mengenakan kemeja serta rok panjang dengan rambut diikat rendah memutar tubuhnya.

Melangkah mendekati Reonald dengan kepala tertunduk dalam dan bahu bergetar--seperti biasa.

"Ada apa?"

"Ada Tuan Abraham, Tuan."

Olivia Denia mencicit pelan. Menahan debaran jantung yang rasanya ingin meledak serta berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran kotor  yang muncul di otaknya.

Nasibnya benar-benar sial.

Pria itu tidak hanya memberinya tugas menumpuk tetapi memberinya tugas gila  yakni dia harus mencari jalang untuk Reonald tiduri setiap harinya.

Belum adegan-adegan menyebalkan itu kadang tak sengaja dia lihat. Ya, meskipun tidak sampai adegan yang paling berbahaya.

"Kau  bisa menahan Daddy  sampai aku selesai kan, Oliv?"

"Tuan Abraham sudah--"

"Potong gaji."

Olivia hampir mengumpat.

Ancaman itu memang andalan CEO berengsek itu jadi mau tidak mau dia harus menurut.

"Baik, siap laksanakan, Tuan,"

Olivia mengangguk sebentar kemudian memutar tubuhnya. Bersiap angkat kaki dari sana tetapi tangan besar Reonald malah memegang bahunya dan dia pun harus menghadap pria berengsek itu untuk kedua kali.

"Bagaimana kalau kau di sini saja? Siapa tahu kau sudah berminat menyaksikan kehebatanku?"

Bajingan! Berengsek! Kurang ajar!

Kelopak mata Olivia sampai melebar. Jika saja pria itu bukan atasannya, sudah dia tendang burung sialannya sampai impoten dan jika saja gajinya di perusahaan ini tidak besar, sudah sedari lama dia angkat kaki dari sana.

Sayang, yang bisa dia lakukan hanya bertahan dan bertahan.

Apalagi ada hidup neneknya yang harus dia perjuangkan.
 

--TBC--

Wkwkw... Aku datang membawa cerita paling Jerk dimuka bumi...

Jangan lupa vote dan komentar.

The Jerk CEO (On-going)Stories to obsess over. Discover now