•••
Balon-balon berwarna biru navy dan perak menghiasi setiap sudut ruangan. Di tengah ruangan, sebuah spanduk besar bertuliskan "Happy Level Up, Park Sunghoon!" terpasang sedikit miring karena Haechan dan Beomgyu tadi memasangnya sambil bercanda.
"Sstt! Orangnya dateng! Matiin lampunya, cepet!" bisik Ryujin dengan nada galak yang tertahan.
Felix dengan sigap mematikan saklar lampu. Wonyoung memastikan kue tart dengan lilin angka '20' sudah siap di tangannya. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik, hanya terdengar suara napas mereka yang bersemangat.
Ceklek.
Pintu terbuka. Sunghoon melangkah masuk dengan wajah bingung, menatap ruangan yang gelap gulita. "Lho? Katanya kumpul di sini? Kok gelap-"
"SURPRISE!! HAPPY BIRTHDAY SUNGHOON-IE!!"
Duar!
Bunyi party popper bersahutan. Potongan kertas warna-warni menghujani kepala Sunghoon. Lampu kembali menyala terang, menampilkan wajah teman-temannya yang tersenyum lebar.
Sunghoon mematung di ambang pintu. Jantungnya hampir copot, tapi sedetik kemudian, senyum tipis yang manis terukir di wajahnya. "Astaga... kalian ini."
"Tiup lilinnya dulu, Hoon! Pegel nih tangan aku," keluh Wonyoung sambil tertawa, menyodorkan kue tart cokelat kesukaan Sunghoon.
Sunghoon memejamkan mata sejenak, membisikkan doa di dalam hati, lalu meniup lilinnya dalam satu hembusan. Tepuk tangan pecah. Haechan langsung menerjang Sunghoon dengan pelukan maut, disusul oleh Beomgyu.
"Selamat ulang tahun, kawan! Semoga makin ganteng tapi jangan ngalahin aku ya!" seloroh Haechan yang langsung dihadiahi jitakan oleh Ryujin.
"Gak usah dengerin dia, Hoon. Yang penting kamu sehat terus," ujar Felix sambil menyerahkan segelas minuman.
Pesta berlangsung seru. Ada momen haru saat Felix membacakan surat singkat berisi doa-doa mereka, membuat mata Sunghoon sedikit berkaca-kaca.
Tapi suasana haru itu tidak bertahan lama karena Beomgyu tiba-tiba terpeleset krim kue, membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.
Di tengah keriuhan itu, pintu kembali terbuka. Kali ini, seorang pria tua dengan setelan jas rapi dan tongkat kayu berukir melangkah masuk.
"Kakek!" seru Sunghoon. Ia langsung berlari menghampiri sang kakek dan memeluknya erat. Kakek adalah satu-satunya keluarga yang paling mengerti hobi unik Sunghoon yang suka mengoleksi barang antik.
"Selamat ulang tahun, cucu Kakek yang paling tampan," ujar Kakek sambil menepuk-nepuk punggung Sunghoon.
"Kakek punya sesuatu untukmu. Ini barang langka yang Kakek menangkan di pelelangan pribadi kemarin."
Dua orang petugas masuk membawa sebuah benda besar yang ditutupi kain beludru hitam. Ukurannya sangat besar, setinggi manusia dewasa. Semua orang di ruangan itu berhenti beraktivitas, menatap penuh rasa penasaran.
"Wah, apa tuh? Gede banget!" bisik Beomgyu pada Haechan.
Sunghoon dengan perlahan menarik kain penutup itu. Begitu kain jatuh ke lantai, semua orang terkesiap. Takjub.
Di hadapan mereka berdiri sebuah cermin besar dengan bingkai emas tua yang diukir sangat detail. Motif ukirannya berbentuk sulur-sulur tanaman yang tampak hidup, memberikan kesan mewah sekaligus sangat kuno.
Kaca cerminnya pun terlihat sangat jernih, seolah-olah memantulkan bayangan yang lebih "nyata" dari aslinya.
"Kek... ini indah banget," gumam Sunghoon tanpa sadar. Ia menyentuh bingkai kayu yang terasa dingin namun halus. Sebagai pencinta barang antik, Sunghoon tahu ini bukan cermin sembarangan.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Ruin & Reflection ➹ || Heehoon
Hayran KurguHadiah ulang tahun dari sang Kakek seharusnya menjadi pajangan mewah di kamar Sunghoon. Cermin tua dari pelelangan itu indah, antik, dan setinggi tubuhnya. Namun, kemewahan itu perlahan berubah menjadi teror saat bisikan halus mulai memanggil namany...
