Prolog

186 19 3
                                        

"Pah, serius??"

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Pah, serius??"

"Cuma itu yang bisa Papa buat."

Si anak menghela napas kasar tanda tidak menerima karena sudah seminggu di sini setiap pagi sarapannya telur, sosis, dan roti. Ia membanting tas kosongnya di atas meja kemudian duduk dengan terpaksa.

"Cepetan cari pembantu, masa susah, cuma suruh masak sarapan aja. Makan malem gak usah karena aku di luar. Papa juga gak di rumah."

"Makan aja jangan banyak ngomong, nanti Papa anterin kamu ke sekolah baru."

"Ck! Males."

Mereka pindah dari kota Jakarta seminggu yang lalu, karena sebuah pekerjaan, hanya enam bulan lebih sedikit sebenarnya tapi si Ayah kali ini tidak bisa meninggalkannya di rumah sendirian walaupun sebelum-sebelumnya sering ia lakukan. Penyebabnya adalah Adam sudah kelas tiga SMA, anak itu butuh pengawasan ketat kata gurunya makanya ia ajak pindah. Sudah tidak minat sekolah, nilainya buruk, terancam dikeluarkan karena banyak kasus dan terancam tidak lulus.

Tidak peduli latar belakang keluarganya.

Padahal kalau mau belajar dengan serius Adam akan mendapatkan nilai yang tinggi, anak itu pintar sebenarnya, ketika SD sering masuk tiga besar saingan dengan saudaranya. Tapi ketika masuk SMP kerjaannya hanya tidur, bolos, dan main.

Kata guru BK nya, Adam kurang kasih sayang. Memang, Steven juga menyadari. Bagaimana tidak kurang kasih sayang, dia berpisah dengan istrinya ketika Adam masih kelas empat SD, setelah itu Adam suka ia tinggal bersama nanny.

SMP pun nanny angkat tangan tidak kuat dengan perubahan sikap Adam, yang mulanya ceria dan banyak bicara jadi anak yang pendiam dan pemarah.

Steven menatap anaknya yang menyuap telur terakhir nya.

Adam tidak menjawab, tidak mengangguk juga. Dia tetap mengunyah sambil menatap bunga putih di vas dekat jendela.

"Nanti di sekolah baru jadi anak yang baik, belajar, kamu udah kelas tiga. Serius dikit."

"Sekolah nya bagus gak?"

"Bagus, swasta. Gak kayak dulu tapi tetep bagus. Lulusan nya banyak yang masuk ke universitas negeri Indonesia dan luar negeri juga."

"Gak penting."

"Heh-"

Adam mengambil tas nya, minum sambil berdiri kemudian mengusap mulut dengan baju seragamnya yang masih baru putih bersih. Steven mengaga menahan geram melihatnya.

"Ayo berangkat," ucapnya santai. "Papa juga gak sabar ketemu cewek yang ngasih papa bunga di jendela itu kan."

Steven menghela napas berat, ingin rasanya ia mengajak duel anaknya itu tapi karena tidak ingin membuat Adam semakin terlambat berangkat ke sekolah di hari hari pertamanya Steven hanya bisa mengangguk dan berjalan mendahului sang putra.

DESTINYStories to obsess over. Discover now