I

438 38 2
                                        

Gedung pusat Choi Group berdiri angkuh dengan dua puluh lima lantai yang membelah cakrawala kota, sebuah monumen beton dan kaca yang melambangkan dominasi absolut di jantung distrik bisnis.

Jika lantai-lantai di bawahnya adalah mesin yang bising dengan ribuan karyawan, deru printer yang tak henti, dan ambisi yang saling tumpang tindih dalam kubikel sempit, maka Lantai 25 adalah antitesisnya.

Lantai 25 adalah puncaknya yang sunyi—sebuah ruang hampa udara yang terasa suci sekaligus mengancam. Di sini, oksigen seolah dibayar mahal oleh kewibawaan.

Dindingnya dilapisi marmer putih Carrara yang memantulkan bayangan siapa pun yang melintas dengan kejernihan yang menyakitkan, seolah menuntut setiap jiwa yang menginjakkan kaki di sana untuk tidak memiliki noda sedikit pun.

Di sinilah otoritas tertinggi berada. Lantai ini hanya dibagi menjadi tiga zona utama: ruang kerja Komisaris Utama yang luasnya setara dengan griya tawang mewah, ruang rapat eksekutif dengan dinding kedap suara yang telah menyaksikan lahirnya keputusan-keputusan yang mampu mengguncang bursa saham nasional, dan sebuah meja kerja minimalis di depan pintu kayu jati besar.

Meja itu adalah filter terakhir, barisan pertahanan paling depan sebelum siapa pun bisa menghadap sang penguasa Choi Group.

Jung Wooyoung duduk di balik meja itu. Dengan punggung tegak dan jemari yang menari di atas papan ketik tanpa menimbulkan suara, ia adalah definisi dari presisi.

Wooyoung bukan sekadar sekretaris; ia adalah penjaga gerbang. Dalam hierarki Choi Group yang rumit, ia adalah mata dan telinga sang Komisaris Utama.

"Ketuk pintunya tepat setelah lampu indikator berwarna hijau, Manajer Kim. Dan pastikan laporan fisik Anda tidak memiliki noda sidik jari di sampulnya. Komisaris benci ketidakteraturan, sekecil apa pun itu," ucap Wooyoung tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari monitor yang menampilkan grafik arus kas perusahaan yang bergerak fluktuatif.

Suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang dingin. Manajer senior yang berdiri di depannya—seorang pria berusia lima puluh tahunan dengan keringat dingin di pelipis—hanya bisa mengangguk kaku.

Di lantai ini, usia tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan posisi. Manajer itu mundur perlahan, memegang mapnya seolah itu adalah bom yang siap meledak jika ia melakukan satu gerakan salah.

Di lantai 25, Wooyoung adalah hukum yang hidup. Segala dokumen, keluhan, hingga strategi perang korporasi harus melewati sensor matanya yang jeli.

Tidak ada angka yang lolos dari hitungannya, tidak ada kebohongan yang bisa disembunyikan di balik diksi-diksi laporan yang manis.

Jika Wooyoung mengatakan sebuah data tidak valid, maka karier seseorang bisa berakhir saat itu juga.

*Ting.*

Pintu lift khusus eksekutif terbuka dengan denting halus. Langkah kaki yang mantap dan presisi bergema di koridor marmer yang hening.

Suaranya ritmis, menunjukkan kepercayaan diri yang nyaris sombong. Wooyoung melirik jam atom di sudut layarnya.

08:00:42.

Choi San muncul dari balik pintu lift. Ia mengenakan setelan tiga lapis berwarna biru tua yang dijahit khusus, melekat sempurna pada tubuh tegapnya yang atletis.

Direktur Operasional Choi Group itu berjalan dengan aura yang mampu menurunkan suhu ruangan dalam sekejap. Wajahnya yang tegas, dengan garis rahang yang simetris dan tatapan mata setajam silet, tidak menunjukkan emosi. Hanya ada fokus yang dingin dan melelahkan.

Langkah San terhenti tepat dua meter di depan meja Wooyoung. Ia tidak langsung melangkahi pintu jati itu. Di gedung ini, ia adalah pangeran mahkota, cucu kesayangan sang Komisaris.

[FINISH] Triple CheckmateStories to obsess over. Discover now