Gedoran

3 0 0
                                        

"Sialan"

DAR! DAR! DAR! DAR!

"Malam ini berisik lagi?" tanya sang perempuan lewat aplikasi chatting di media sosial.

"Gila, udah hampir seminggu, tiap malem digedor terus itu pintu sebelah" jawab Tama dengan suasana hati yang sangat-sangat buruk.

Suara pintu yang dihajar oleh tangan itu tampak belum mau berhenti.

Setelah dia pindah kos-kosan beberapa bulan yang lalu, sudah sejak awal minggu suara gedoran itu terus terdengar. Selalu ada di malam hari. Kadang mulai sebelum jam sembilan, kadang baru mulai ketika malam sudah mau berganti hari, kadang ada jedanya, tapi selalu mengganggu.

"Keluar!!! Bayar utang lo!!!"

"Ahh..." Tama membaringkan badannya dengan perasaan yang benar-benar tak menentu. Dia kira, pindah ke tempat yang lebih dekat dengan tempat kerjanya, bisa membuatnya lebih nyaman. Tapi bukan hanya penghuninya yang terlampau cuek karena semuanya super sibuk, gangguan di malam hari ini sudah membuatnya kesal berhari-hari.

"Kenapa sih udah tau pinjol itu debt collectornya nyebelin, orang masih pinjem aja?" tanya Tama balik ke pacarnya.

"Orang kadang-kadang kepepet, dan ga tau mau ngapain, mau pinjem ke temen atau keluarga malu kali"

"Iya tapi bunganya, dan kadang belom deket ke tanggal jatuh tempo, DC nya suka sadis"

"Yang kayak gitu biasanya yang ilegal"

"Kadang yang legal juga parah" balas Tama.

DAR! DAR!

"Berisik!!!" teriak Tama. Sudah jam 11 malam, dan dia besok ada rapat di pagi hari. Kebiasaan dari debt collector yang datang tiap malam ini membuatnya sedikit gila. Andai dia tahu, mungkin dia tidak ngekos disini.

DAR!! DAR!! DAR!!!

"Keluar woi!!!"

"Brengsek" Tama membenamkan kepalanya di bantal. Dalam hati, ia tidak ingin mengurusi urusan orang lain, karena memang salah sendiri jika orang yang berhutang tidak membayar hutangnya. Itu resikonya. Tapi kalau suara penagih hutang menggebuk pintu hampir setiap malam? Sejak hari selasa kemarin? Bisa gila Tama dibuatnya.

"Gak bisa tidur aku kalo gini caranya" curhat Tama lagi ke pacarnya.

"Komplain aja ke tetangga kamu"

"Kemaren tuh udah aku tungguin, dan udah aku ketok, tapi ga ada orang, bisa jadi dia emang shift kerjanya lumayan padet, atau mungkin udah kabur"

"Bisa dua-duanya sih"

"Dan aku..."

DAR!!!!

Tama menghentikan kegiatannya mengetik. Dia menahan nafasnya, dan dia sudah merasa tidak wajar. Sehingga kemudian ia mengalihkan pembicaraannya ke grup kost-kostan di media chatting yang sama.

Grup yang biasa digunakan untuk info paket atau surat dan penagihan biaya sewa, akan jadi tempat curhatnya malam ini.

"Malam semuanya, saya mau komplain......" Tama akhirnya mengirim pesan. Ada banyak nomer-nomer tanpa nama yang sedang mengetik perlahan.

"Wah, apa sama yak kayak saya Bang, AC kamar saya bocor nih"

"Masnya ilang paket? Saya ada paket salah kirim nih"

"Bukan, ini saya keganggu banget sama suara orang yang..."

DAR!! DARR!! DAR!!!

Tama menggeram marah. Dia tidak jadi menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan.

"Bukan, ini saya keganggu banget sama suara orang yang nagih utang, ini udah berapa hari dia ngegedor kamar sebelah, malem-malem pula, tolong diselesaikan urusannya ya, ini kan jadi ganggu yang laen" akhirnya dia mampu mengetikkan kalimat panjang yang bernada kesal itu.

"BUKA!!! BAYAR UTANG DONG!!!!!"

DAR!! DARR!!! DARR!!!

"Siapa mas yang utang?" tanya seseorang tanpa nama.

"Perasaan ga ada deh"

"Kamar sebelah saya"

"Mas dilantai berapa? Saya ga denger apa-apa tuh"

"Iya, ga ada yang gedor-gedor"

"Hah, ini, ini kenceng banget lho dia ngegedor pintu sambil teriak-teriak" kesal Tama dengan emosi yang memuncak.

Dan, dia melihat satpam kosan mengetik. Lama sekali. Sepertinya bakal panjang.

"Mas, mas kamar berapa? Ini kalo malem begini ada orang asing masuk, apalagi DC, pasti ngelewatin saya dulu Mas"

"Saya kamar 2C, kayaknya 2D atau 2B yang utang"

"Saya 2B gak ada suara apa-apa kok Bang"

"Loh, itu suaranya kedengeran jelas banget!"

"Mas, kalo kamar 2D sih ga ada yang nyewa, udah lama kali sekitar 6 bulan"

"Hah?"

Tama membeku. Dia menaruh handphonenya di kasur. Ia lantas berdiri dengan perasaan yang acak acakan. Balasan demi balasan keluar di grup itu, tapi dia tidak melihatnya sama sekali. Ia fokus ke suara gedoran yang masih terdengar dengan jelas dan keras itu.

DAR!!! DAR!!!

"BUKA PINTU BANGSAT!!!! SUSAH BANGET NAGIH UTANG KE ELO!!!"

"Tai!"

Tama dengan refleks bergegas ke arah pintu, dan dia membuka pintu kamarnya dengan penuh emosi. Entah dia yang sudah gila atau seisi kosan berkonspirasi untuk membuatnya terlihat bodoh, yang pasti dia ingin jawaban, detik itu juga.

"EH, JANGAN BERIS....."

Hening.

Tama melangkah ke lorong kos-kosan yang begitu sunyi. Dia melihat ke segala arah. Bunyi suara motor yang sesekali lewat, bunyi pompa air yang berbunyi enggan, dan dari kejauhan, ada suara sepasang kucing liar yang berkelahi bagaikan hidup dan mati.

Tidak ada apa-apa.

"Eh......" Tama membeku. Aliran dingin menjalar dari kakinya, pelan-pelan menuju punggungnya. Tadi jelas-jelas dia mendengar suara gedoran yang panjang dan brutal, dan sekarang, tidak ada suara apa-apa. Jangankan suara, bayangan pun tidak ada.

Dia tidak berani bergerak. Suhu keramik yang dingin, dan angin yang sumpek khas ibukota menambah kesendiriannya malam itu.

DAR!!!

Pintu kamar kosannya tiba-tiba menutup dengan keras dari dalam.

Tama kaget dan terjatuh. Dengan refleks dia menatap ke arah pintu.

DAR!! DAR!! DAR!!!

"BAYAR UTANG LO BANGSAT!!!!!!"

"Anjing..."

Suara itu begitu keras, menggema di lorong yang sunyi itu. Tama membeku, dia merayap perlahan, mundur ke arah dinding. Badannya tidak bisa bergerak. Giginya menggeretak.

DAR!!!

Pintunya bergetar.

DAR!!!

Suara pukulan tangan itu dengan jelas berasal dari dalam kamarnya.

DAR!!

Tama terjebak menatap pintu kamar.

DAR!!

"BAYAR UTANG LO!!!!!!!!!!!!"

GedoranStories to obsess over. Discover now