Anna's POV
Café de Flore pada Sabtu pagi adalah salah satu tempat di Paris yang berhasil menjadi institusi tanpa kehilangan karakternya.
Meja-meja kecil yang rapat, pelayan dengan celemek putih panjang yang bergerak dengan efisiensi yang sudah terlatih puluhan tahun, aroma kopi dan croissant yang menyebar ke trotoar Boulevard Saint-Germain dan menarik orang masuk seperti gravitasi.
Anna tiba dua menit lebih awal — kebiasaan yang tidak pernah benar-benar bisa ia hilangkan.
Ia memilih meja dekat jendela, memesan café crème, dan menunggu.
Dengan cara seseorang yang tidak terlihat menunggu apa-apa.
Maya masuk dengan energi yang khas — syal merah bata melingkar di lehernya, rambut bergelombangnya setengah terikat, mata yang langsung menemukan Anna dari pintu masuk.
"Tu es là," kata Maya, duduk dan langsung memanggil pelayan.
"Kamu kelihatan sudah tidur dengan baik."
"Lumayan." Anna meminum kopinya. "Kamu bilang ada yang mau diceritakan."
Maya tertawa kecil. "Langsung ke poin. Aku suka."
Ia menunggu café au lait-nya datang, meletakkan tangannya di atas meja.
"Oke. Dua hal. Tapi yang pertama lebih penting."
Anna menunggu.
Maya menarik napas kecil — bukan dramatis, lebih seperti seseorang yang sedang memilih kata dengan lebih hati-hati dari biasanya.
"Charity gala," katanya.
"Fondation Lumière. Minggu depan, Sabtu malam. Hotel Crillon."
Anna mengangguk pelan. "Dan?"
"JW Groupe selalu hadir. Noah selalu hadir. Laurent dan Chloé juga. Dan tahun ini—" Maya berhenti sebentar, "Serena sudah konfirmasi hadir sebagai representasi divisinya."
Anna meletakkan cangkirnya.
"Itu bukan hal yang luar biasa," katanya hati-hati. "Event seperti itu memang—"
"Anna." Maya menatapnya langsung.
"Tim Brand & Creativity juga diundang tahun ini. Pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Noah yang approve undangannya."
Hening tipis.
Noah yang approve undangannya.
"Kenapa baru tahun ini?" tanya Anna.
"Verlaine," jawab Maya sederhana.
"Kita baru saja memenangkan kampanye terbesar divisi dalam dua tahun. Laurent mau tim terlihat di event yang tepat."
Jeda.
"Tapi tetap saja — Noah yang approve. Dan Noah yang menambahkan nama kita satu per satu ke daftar."
Satu per satu.
Anna menatap Maya.
"Termasuk namaku?"
"Termasuk namamu."
Keduanya diam sebentar.
Di luar jendela, Boulevard Saint-Germain bergerak dengan ritme Sabtu pagi yang lebih santai dari hari kerja — pasangan berjalan dengan anjing mereka, turis dengan kamera, sepasang lansia yang duduk di teras dengan koran dan kopi yang sudah pasti sudah mereka pesan selama bertahun-tahun.
"Apa yang kedua?" tanya Anna akhirnya.
Maya memutar cangkirnya. "Lucien Sinclair."
Anna menoleh. "Siapa?"
"Best friend Noah. Pemilik bar di Oberkampf — yang satu itu tanpa nama resmi di papannya." Maya sedikit tersenyum.
"Aku... tidak sengaja ketemu dia semalam."
KAMU SEDANG MEMBACA
No More Mr Whitmane
RomanceAnna Anderson selalu menjaga jarak. Dari orang. Dari perasaan. Dari kesalahan yang bisa membuatnya terlihat rapuh. Noah Whitmane tidak pernah terbuka - sampai seseorang berhasil masuk ke dunianya yang tertata rapi. Di antara rapat kantor, jalanan Pa...
