Evelyn Amelie Laurent, seorang perawat berusia 25 tahun, ditugaskan merawat Raymond Dominguez, mantan petinju yang kehilangan karier setelah cedera bahu parah. Ia tinggal di rumah besar pria itu di Primrose Hill, London, tempat yang sunyi, dingin, d...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
“Sambutlah sang juara, pemegang sabuk Super Champion dari WBA!” suara pembawa acara menggema lantang dari tengah ring, penuh tekanan dan energi yang langsung memancing reaksi penonton. Sorakan membesar dari segala arah, memenuhi arena dengan riuh yang terus meningkat.
“RAYMOND ‘RAZE’ DOMINGUEZZZ!” lanjutnya dengan nada yang lebih tinggi.
Tepuk tangan dan teriakan langsung memuncak saat Raymond sudah berdiri di dalam ring, menerima sorotan lampu tanpa banyak reaksi. Ia hanya berdiri di sudutnya, tenang, dengan tatapan lurus yang sulit dibaca. Ke arah lawan.
“Malam ini akan menjadi pertarungan besar. Apakah sang juara mampu mempertahankan gelarnya, atau justru penantang, Theo ‘Blitz’ McKenna, yang akan merebutnya?” ucap sang pembawa acara, membiarkan pertanyaan itu menggantung di tengah gemuruh penonton.
Setelah kedua petinju diperkenalkan, tanpa basa-basi yang berlarut, suasana langsung diarahkan ke inti pertandingan. Para kru dari masing-masing sudut bergerak cepat keluar dari ring, meninggalkan ruang itu hanya untuk dua petinju dan seorang wasit. Sorakan perlahan mereda, berganti dengan ketegangan, serta antusias dari para penonton.
“Baik, kita mulai. Kedua petinju, maju ke tengah untuk saling menyentuh sarung tangan.”
Raymond melangkah dari sudut merah dengan gerakan pelan dan terukur. Wajahnya tetap datar, tanpa emosi yang ditunjukkan. Di sisi lain, Theo berjalan maju dengan langkah ringan dan penuh keyakinan. Senyum tipisnya tidak hilang, bahkan saat jarak di antara mereka semakin dekat. Tatapannya tajam, penuh rasa percaya diri yang berlebihan.
Saat mereka berdiri saling berhadapan, sarung tangan terangkat.
“Aku akan mengakhirimu malam ini, Raymond Raze Dominguez,” ucap Theo dengan suara rendah, namun cukup jelas untuk didengar. Sambil menjulurkan lidahnya.
Raymond tidak terpengaruh. Ia hanya menatapnya sekilas sebelum menjawab singkat, “Coba saja.”
Sarung tangan mereka bersentuhan singkat. Theo menarik tangannya lebih dulu, masih dengan senyum yang sama, lalu mundur beberapa langkah tanpa terburu-buru. Raymond berbalik dan kembali ke sudutnya dengan tenang, fokusnya tidak berubah sedikit pun.
Keduanya kini berada di posisi masing-masing, bersiap untuk ronde pertama dimulai.
Begitu lonceng berbunyi, keduanya langsung melangkah keluar dari sudut masing-masing. Jarak dipangkas perlahan hingga bertemu di tengah ring.
Sarung tangan terangkat tinggi dalam posisi guard, bahu sedikit naik, untuk melindungi rahang. Tidak ada yang terburu-buru, keduanya masih membaca ritme, memperhatikan gerakan kaki dan arah bahu lawan.
Theo lebih dulu memberi sinyal menyerang. Bahunya bergerak tipis, cukup untuk memancing reaksi. Raymond memilih mundur setengah langkah, menjaga jarak. Namun Theo tidak berhenti.