Diantara Dua Orang Asing

3 2 0
                                        

Di sebuah gang kecil di kota tua yang tenang, di antara hotel-hotel bergaya klasik dengan jendela putih dan pot bunga merah yang menggantung manis di sisinya, lampu-lampu kuning temaram menyala lembut. cahayanya memantul di jalanan batu yang masih basah sehabis hujan, seolah mengundang siapa pun yang lewat untuk berhenti sejenak—duduk di kursi kayu kafe, menyeruput minuman hangat, dan membiarkan waktu melambat.

seorang gadis muda berjalan di antara kafe kafe kecil itu, menyeret sebuah koper dengan langkah yang lurus.

Gaun yang ia kenakan sederhana namun anggun, khas gaya asing, warnanya lembut menyatu dengan cahaya lampu malam. ia tidak tampak seperti kebanyakan orang di kota itu. wajahnya jelas keturunan Asia—kulitnya hangat, kontras dengan udara Eropa yang pucat. rambut hitam panjangnya jatuh lurus melewati punggung, berkilau samar seperti disentuh cahaya senja yang terlambat.

Langkahnya ringan, tapi matanya menyimpan sesuatu. bukan lelah, bukan takut—melainkan rindu yang belum tahu ke mana harus pulang.

Beberapa orang di kafe melirik tanpa sadar. bukan karena gadis itu mencolok, tapi karena ada aura asing yang tenang di sekelilingnya. seperti seseorang yang datang dari jauh bukan hanya secara jarak, tapi juga secara hati.

Ia berhenti sejenak di ujung gang, menarik napas pelan, menghirup udara dingin kota itu. jarinya tanpa sadar bergerak—memutar cincin tipis di jari manisnya. kebiasaan lama. gerakan kecil yang selalu muncul setiap kali pikirannya terlalu penuh.

Di tangannya, ia menggenggam sebuah koper kecil dan secarik kertas lusuh. alamat yang tintanya mulai pudar, tapi masih ia simpan rapi. alamat yang sudah lima tahun hidup bersamanya, lebih lama dari keyakinannya sendiri.

Entah kenapa, di kota asing yang sunyi ini, ia justru merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri. seolah perjalanan ini bukan semata tentang menemukan seseorang, melainkan tentang menemukan kembali bagian dirinya yang pernah tertinggal—di antara janji, kenangan, dan kalimat-kalimat yang tidak pernah selesai diucapkan.

Nirwana Arundhati.

Sebuah nama yang terdengar seperti doa. terlalu lembut untuk kota yang dingin ini. wajahnya halus dengan garis khas Asia—mata almond yang tenang tapi dalam, hidung kecil yang proporsional, dan bibir tipis yang selalu tampak seolah menyimpan senyum, meski jarang benar-benar terangkat.

Kecantikannya bukan yang menyilaukan. ia hadir perlahan, seperti lukisan lama yang semakin lama dipandang justru semakin sulit dilupakan. Nirwana bukan gadis cantik yang ramai. ia gadis cantik yang sunyi—yang membuat orang ingin mengenalnya bukan karena rupa, tapi karena ada sesuatu di matanya yang tidak bisa dijelaskan.

Orang-orang memanggilnya Nana.

Nana menyeret kopernya masuk ke sebuah kafe kecil di sudut gang. lonceng di pintu berbunyi pelan saat ia melangkah masuk. udara hangat langsung menyambutnya, bercampur aroma kopi dan roti panggang yang menenangkan.

Ia memilih meja dekat jendela tanpa melihat sekitar. meletakkan kopernya di samping kursi, lalu duduk dengan bahu sedikit merosot—seperti seseorang yang sudah terlalu lama berjalan, tapi belum juga sampai.

Ia menatap jalanan basah di luar jendela. cahaya lampu memantul di batu-batu tua, menciptakan bayangan yang tidak beraturan. jari-jarinya kembali bergerak, memutar cincin tipis di jarinya—kali ini lebih pelan, seperti menenangkan diri sendiri.

Dari kejauhan, di meja seberang, seorang pria memperhatikannya tanpa sadar.

Awalnya hanya sekilas. lalu terlalu lama untuk disebut kebetulan.

Ada sesuatu dari gadis itu—cara ia diam, cara tatapannya kosong tapi penuh—yang membuatnya merasa seolah sedang melihat seseorang yang tersesat. bukan tersesat arah, tapi tersesat hidup. ia ingin berdiri. ingin menyapa. tapi kakinya terasa berat, seolah ada perasaan aneh yang menahannya: takut mengganggu, tapi juga takut kalau kesempatan ini lewat begitu saja.

Sampai akhirnya bel berbunyi, menandakan pesanan siap.

Pria itu bangkit, berjalan mengambil kopinya. saat hendak kembali ke kursinya, kakinya tersangkut salah satu koper Nana. gelas di tangannya terlepas, jatuh, isinya tumpah ke lantai—sedikit mengenai sepatu gadis itu.

"Oh my God, I'm so sorry—" ucapnya spontan.

Ia berlutut kecil, refleks mengambil tisu.

Nana terkejut. menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak masuk kafe itu, ia benar-benar menatap seseorang.

Mata mereka bertemu. singkat, tapi cukup lama untuk membuat waktu melambat.

"It's okay," jawab Nana pelan. aksen asingnya halus, nyaris hangat.

Pria itu tersenyum kecil. "Kayaknya justru aku yang harus minta maaf. I think your suitcase tried to trip me."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Nana terangkat. bukan senyum penuh—hanya garis tipis yang nyaris tidak ada, tapi cukup untuk membuat pria itu merasa:

mungkin memang dari kejadian sekecil ini, sesuatu bisa dimulai.

"Aku Alistair," katanya akhirnya. "Dan aku berutang satu kopi sama kamu."

"Nirwana," jawab Nana singkat. lalu setelah jeda kecil, "Nana."

Bukannya kembali ke kursinya, Alistair duduk di kursi seberang. bukan karena diundang, tapi juga tidak ditolak. ia menjaga jarak, sikapnya sopan, tapi matanya terlalu jujur untuk berpura-pura tidak tertarik.

"Kamu bukan dari sini," ucapnya pelan. lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

Nana mengangguk. jarinya kembali menyentuh cincin itu, memutarnya satu kali, lalu berhenti.
"Kelihatan ya."

"Bukan dari wajah," jawab Alistair. "Dari caramu duduk. Kamu kelihatan seperti orang yang baru datang... tapi juga seperti orang yang sudah lama pergi."

Kalimat itu terlalu tepat untuk diabaikan.

"Aku cuma numpang istirahat," kata Nana akhirnya. suaranya datar, bukan dingin—lebih ke lelah. "Perjalanan panjang."

Alistair mengangguk. tidak memaksa. ia belajar cepat: gadis ini bukan tipe yang suka ditanya, tapi bisa diajak diam bersama.

Mereka duduk dalam keheningan beberapa menit. hanya suara mesin kopi dan hujan kecil di luar jendela yang menemani. anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.

"Kalau kamu butuh rekomendasi tempat makan di sekitar sini," ujar Alistair pelan saat mereka berdiri hampir bersamaan, "aku tinggal di dekat sini."

Nana mengangguk sopan. "Terima kasih. Tapi aku mungkin cuma sebentar di kota ini."

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti garis batas yang jelas.

Di ambang pintu, mereka berhenti bersamaan.

"Senang bertemu kamu, Nirwana," kata Alistair. kali ini lebih pelan.

Nana menoleh. jarinya sekali lagi menyentuh cincin itu—bukan memutarnya, hanya memastikan ia masih ada.
"Kamu orang pertama yang aku ajak bicara hari ini."

Mereka berpisah ke arah berbeda.

Dari sudut matanya, Alistair menoleh sekali lagi—melihat Nana menyeret kopernya menyusuri gang kecil, punggungnya lurus, langkahnya tenang, seperti seseorang yang sedang menuju masa lalu.

Sementara Nana, tanpa menoleh, merasakan sesuatu yang asing.
Bukan tertarik.
Bukan jatuh cinta.

Hanya perasaan kecil bahwa, di kota dingin ini, ia baru saja bertemu seseorang yang mungkin akan berarti—

kalau saja ia tidak sedang terlalu sibuk mengejar bayangan orang lain.

Hangat Yang TinggalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang