Srass...Srasss...Srass..Srass
Ban-ban mobil berputar menerjang jalanan becek di tengah hujan deras hutan belantara Yanbaru. Dengan kecepatan yang diperhitungkan, tiga mobil tersebut tampak terburu-buru. Suasana hutan Yanbaru turun menjadi mistis saat kabut juga memenuhi pandangan sejauh 5 mil ke depan. Ketegangan yang berat memenuhi semua penumpang.
Saat jalanan menjadi lebih baik dengan adanya paving lama yang sudah bertahan selama ratusan tahun, ban-ban mobil menginjak gas lebih kencang dan berhenti dengan derit memekikkan telinga. Para pria dengan jas segera keluar dari masing-masing mobil. Seorang wanita dengan selendang dan pakaian rumahan orang kaya lama keluar dengan wajah pucat.
"Cepat angkat dan bawa masuk ke kuil."
"Nyonya, pintu kuil masih tertutup."
Sepasang mata lelah dan ketakutan itu memandang pintu besar dengan wajah hampir menangis, dia segera mengetuk keras hampir membuat kukunya patah.
"Chiyo-san, Chiyo-san, tolong kami, tolong kamiiiiiii..."
Tak lama pintu yang tertutup rapat tersebut terbuka dan wanita tua lainnya dengan pakaian tradisional Jepang menatap tenang deretan orang-orang yang berada di depan pintunya.
"Mari, sebelah sini." ujarnya.
Para pria mengangkat masuk seorang pemuda yang menjerit dan meraung masuk. Tubuhnya menggelepar didalam gendongan dua bodyguard yang mengantarkan mereka masuk ke sebuah Kuil besar di jantung hutan Yanbaru.
"Chiyo-san, tolong, tolong cucuku." Tangan wanita lain menggenggam tangan wanita tua pemilik bangunan tersebut.
"Tenanglah nyonya, saya akan melakukan yang terbaik untuk keturunan Hagoromo."
Hujan semakin deras disertai angin dan petir, kawasan hutan Yanbaru turun menjadi lebih mencekam sementara pemuda tadi menggelepar di atas futon lantai tatami sebuah paviliun besar. Kuku-kukunya mencakar lantai hingga patah dan berdarah sementara dia meraung. Matanya merah menatap seorang wanita tua pemilik bangunan.
"Lancang! Lancang! Kalian semua lancang!" makinya dengan teriakan keras.
"Apa yang ada di alam duniawi, tidak sepatutnya direbut oleh makhluk lain." kata Chiyo tenang.
"Mulut bajinganmu itu benar-benar sama seperti si Keparat Sana. Anak ini punyaku, dialah wadahku. Aku menagih janji Hagoromo! Jika aku tidak bisa memilikinya maka kucekik dia sampai mati."
"Maka tidak ada lagi kesempatanmu untuk naik sebagai dewa." ujar Chiyo.
Apa yang menguasai raga anak laki-laki tersebut tidak peduli dengan ucapannya, tubuh anak itu kembali menggelepar dan muntah darah beberapa kali lalu lehernya terasa tercekik. Urat hitam tiba-tiba memenuhi leher dan wajahnya.
Anak itu berteriak kesakitan dan menangis sementara wanita tua yang mengantarnya tadi telah menangis tersedu-sedu dengan tubuh gemetar, dia terus menerus berteriak 'cucuku, cucuku, cucuku.' dengan tidak berdaya.
Wanita tua bernama Chiyo membacan mantra dan beberapa orang untuk mengelilingi pemuda tersebut sementara dia sendiri membersihkan diri dengan misogi (air suci) menggunakan tongkat haraegushi dari energi negatif.
4 Miko lainnya di bawah komando Chiyo duduk di empat mata angin dan membaca Norito (mantra kuno) untuk mengundang dewa agar hadir dan membantu prosesnya.
Para penari kemudian datang untuk menari di sekitar ruangan, tarian-tarian sakral atau disebut Kagura tersebut mengiringi bacaan Norito. Chiyo mendekati pemuda tersebut dan menyentuh keningnya, teriakan menyakitkan datang kembali dan raungan-raungan lainnya.
"Sampai kapan kamu pikir bisa menekanku? Kamu dan kalian semua akan musnah, aku bersumpah untuk menghabisi Kuil Kagura sialanmu ini. Aku akan mengambil kuncinya dan menyeberang, akan kuhabisi seluruh Hagoromo dan Kagura, sialan!" racauan yang kacau diselingi bacaan doa dan tarian yang semakin intens.
"Pergilah selamanya ke neraka." ujar Chiyo dan dia berteriak lalu memercikkan misogi ke seluruh tubuh pemuda tersebut.
Pemuda yang kerasukan berhenti menggelepar. Tubuhnya tenang dan tak lama kemudian dia terbangun seolah baru saja tenggelam. Dia terbatuk beberapa kali dan air matanya menetes tanpa henti. Pandangannya tidak fokus.
Chiyo membantunya kembali tidur di futon sementara nafas anak itu kepayahan.
"Kamu akan baik-baik saja." Senyum di bibirnya merekah saat tangan tuanya menyentuh dahi pemuda yang panas, demam merasuki tubuh yang kelelahan. Kemudian Chiyo berbalik ke wanita tua lainnya yang menangis sejak tadi.
"Tuan Muda sudah baik-baik saja, tenanglah Nyonya."
Tangis harus memenuhi dadanya dan hampir saja nenek dari pemuda berlari ke arah cucunya sebelum dicegah oleh Chiyo.
"Ada baiknya Anda tidak mendekatinya dulu. Tuan Muda harus disucikan dulu setelah demamnya reda. Dan saya akan memberinya beberapa jimat ke depannya. Roh jahat ini benar-benar tidak menyerah."
"Apakah dia akan kembali dan mengganggu cucuku dalam waktu dekat?"
"..masih ada kemungkinan tersebut."
Kecemasan timbul kembali di antara kerutan-kerutan wajahnya, nyonya kaya melipat tangannya dan kembali memohon.
"Chiyo-san, sudah ratusan tahun keluarga kami terhubung dengan Kuil Kagura. Sejak leluhur kami, Hagoromo, selalu bergantung secara spiritual pada para Miko. Kami mohon, cucuku adalah darah murni yang tersisa dalam keluarga. Tolong, tolong selamatkan dia."
"Sudah 500 tahun, saya akan melakukannya seperti para Miko terdahulu. Sudah saatnya kita menyempurnakan segel untuk mengurung Yokai ini."
Yokai: Makhluk supernatural atau roh dalam mitologi Jepang. Mereka memiliki kekuatan spritual tinggi dan sering kali mereka yang memiliki energi tinggi anak memiliki wujud humanoid. Yokai bersifat jahat dan sering menganggu manusia.
Wanita paruh baya menatap kepala kuil, mengerti dengan apa yang dimaksud, "Serangan pada generasi ini semakin memburuk. Cucuku sempat koma sebulan karena serangan terakhir."
Chiyo menatap anak yang terbaring tak berdaya, deru nafasnya lambat seolah meskipun serangan itu berlalu tapi dirinya masih dihantui sesuatu, "Saya mengerti nyonya. Karenanya, saat Tuan Muda berusia 20 tahun, kirim beliau kemari untuk tinggal selama 3 tahun. Selama rentan waktu tersebut kami akan menyempurnakan segel dan menekan Yokai ini hingga generasi selanjutnya tiba."
Sang Nenek menatap cucunya yang tergeletak tak berdaya di atas futon paviliun, dia tidak punya pilihan lain. Cucu laki-lakinya sudah mengalami serangan atas kutukan yang menimpa seluruh garis darah murni keluarganya. Bahkan selama satu dekade terakhir serangan yang dia terima semakin lama semakin parah, tubuhnya pasti tidak akan kuat jika itu terjadi lagi.
"Saya akan mematuhinya, saya akan mengirimnya kembali saat ulang tahunnya ke-20. Karenanya, mohon bantuannya, selamatkan cucuku, selamatkan garis keturunan murni terakhir Hagoromo."
.
.
:: bersambung ::
Hi semuanya, Ivyluppin disini. Sekarang aku datang dengan satu ebook terbaru. Seperti biasa nantinya akan ada beberapa chapter preview yang bisa kalian baca dulu.
Untuk yang menunggu kelanjutan Brackish Water, harap bersabar ya hehehe, paling lambat akan update minggu depan.
Sampai jumpa lagi.
YOU ARE READING
Cursing Bloodline
FanfictionDendam 500 tahun seorang Yokai (siluman) membayangi keturunan Hagoromo, dan memburu para pewaris murni dinasti kaya asal Jepang sejak ratusan tahun lamanya. Demi mempertahankan garis darah murninya, kepala keluarga mengirim cucunya ke Kuil Kagura un...
