Cherry Blossom

42 3 0
                                        

Musim semi telah datang, menebarkan harumnya wewangian bunga yang bermekaran di sudut Kota Seoul. Semua orang menikmatinya, termasuk aku dan seseorang yang berada jauh disana. Aku memandang bungkusan dengan pita merah yang melilitnya, sembari tersenyum lebar dan menguatkan genggaman tanganku. Bingkisan yang telah kupersiapkan jauh-jauh hari untuknya. Lalu, kuedarkan pandanganku pada tumpukan kotak-kotak lainnya.

Langkahku terhenti tepat di bawah pohon Cherry yang bunganya tengah bermekaran pada musimnya. Kurasakan mulai renggang rapat berselingan akan hadirnya memorial pita abu-abu. Pandanganku beralih ke pohon Cherry, senyumku merekah. Bunga Cherry itu mampu mengalihkan perhatianku. Bunganya satu demi satu berguguran, salah satunya jatuh tepat di telapak tanganku. Aku tersenyum, menggenggam bunga Cherry itu, lalu meninggalkan taman.

Kini aku berada di antara pintu yang terbuka. Mataku melirik sekitar. Berawal dari bangku itu. Suasana itu, saat semua belum saling mengenal. Hingga salam perkenalan yang terkirim pertama kali berkesan aneh. Dan rasa nyaman mulai tumbuh. Mengingat pola pikirku yang tak peduli saat gadis itu mengatakan bahwa 'aku menyukaimu'. Sebagai perempuan, ia terkesan mengejar. Ia begitu percaya diri menyatakannya. Pertanyaan-pertanyaan tentangnya kian menetap di pikiranku. Beberapa teman kelas pun juga merasa aneh tentang kedekatanku dengan gadis itu. Itu terus berjalan, sampai hari ulang tahunku, teman-teman sungguh aneh. Tidak ada kue maupun perayaan seperti pada umumnya. Mereka memberi kejutan, dimana dengan kedatangannya dan selingan cerita yang tak diduga sebagai hadiah. Keterkejutan itu belum berakhir. Novel 'Unforgettable Summer', hadiah tambahan dari gadis itu. Sungguh, terimakasih. Begitu banyak suasana datar, panas beramarah, yang membuat sedih. Satu alasan, percaya, kami pernah bersama, walau bukan bersama dalam makna sebenarnya. Dan kami pernah membuat canggung itu sebagai anugerah. Yang selama ini canda tawa hanya tercetak dalam layar elektronik. Aku senang berkesempatan mengenalnya.

***

"Ya. Dia di sana."

Gadis itu menepuk-nepuk pipinya bergantian, berulang kali.

'Nggak sakit apa itu pipi ditamparin terus? Udah nikah, masih lengket aja sikap anehnya. Warisan kali, ya?', batinku asal. Aku meringis memaknai kata-kata yang keluar dari otakku itu.

"Udah, jangan ditamparin terus. Kasihan pipinya sampai merah gitu. Yang udah terjadi, biarin aja. Udah lewat juga."

Ia berhenti menampar pipinya, memang. Tapi seketika itu juga ia bangkit, berdiri sambil menunjuk ke kursi taman seberang.

"Nggak.", katanya singkat dan tajam.

"Waktu itu aku melihatmu di sini dari sana. Sungguh, aku ingin memberitahumu. Tapi waktu itu dia meneleponku."

Aku pun bangkit. Ragu-ragu aku melangkahkan kaki dan berdiri tepat di belakang gadis itu. Berusaha mengingat kejadian singkat yang diceritakan gadis itu. Ia telah menurunkan lengannya yang tadi sempat menunjuk.

Jadi, kejadian waktu itu, aku tak salah lihat. Gadis waktu itu benar-benar gadis yang berada di depanku saat ini. Penampilannya pun tak jauh berbeda.

Dewasa dan anggun.

"Dia meneleponku, menanyakan aku di mana. Aku menjawab bahwa aku sedang duduk di taman dekat apartment lamanya. Aku juga mengatakan padanya bahwa aku melihatmu."

Ia menghentikan kalimatnya, lagi. Ia membalikkan badan menghadapku. Dan kini, posisi kami saling berhadapan. Hembusan angin menerpa kami. Menggerakkan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Aku pun baru menyadari bahwa sedari tadi ia yang mendominasi pembicaraan dan aku hanya menyimak.

"Richeul melarangku mengundangmu ke pernikahanku. Bahkan untuk memberitahumu saja, tidak."

Beribu pertanyaan 'kenapa' kini menghantui pikiranku. Masih bencikah ia padaku? Tak bisakah kata maaf diberikan padaku? Tak adakah kesempatan lagi diizinkan padaku?

Masih bersikap tenang aku mendengarkan ungkapan gadis itu, meski rasanya pengutaraan itu benar-benar mencabik dalam perasaanku.

"Dia tak mau kau mengetahui keberadaannya.", lanjutnya.

Goodbye summerWhere stories live. Discover now