Hujan selalu datang tanpa izin di kota ini.
Sheya duduk di lantai, punggungnya bersandar ke sisi tempat tidur, dengan ponsel yang masih menyala di tangannya. Layar itu terang, terlalu terang untuk jam segini. Jam 02.17 pagi.
Dan tetap tidak ada balasan.
Dia sudah baca ulang pesan terakhirnya lebih dari sepuluh kali. Tidak ada yang salah. Tidak ada kata yang terdengar memaksa. Bahkan terlalu hati-hati, kalau boleh jujur.
"are you home yet?"
Sesederhana itu.
Sheya menghembuskan napas pelan, lalu menekan tombol lock. Layar gelap. Tapi pikirannya tidak ikut gelap—justru semakin ramai.
Ini bukan pertama kalinya.
Dan mungkin, yang paling menyakitkan... dia tahu itu.
Di luar, suara hujan makin deras, menabrak jendela seperti sesuatu yang ingin masuk tapi tidak pernah diizinkan. Sama seperti dirinya—berdiri di ambang hidup seseorang, tapi tidak pernah benar-benar dipersilakan masuk.
Sheya menutup mata.
Ada banyak hal yang seharusnya dia sadari lebih cepat.
Tentang bagaimana James selalu datang tanpa peringatan, dan pergi tanpa penjelasan.
Tentang bagaimana setiap percakapan mereka terasa hangat... sampai tiba-tiba dingin begitu saja.
Tentang bagaimana dia selalu menjadi orang yang menunggu—bukan yang ditunggu.
Tapi waktu itu, semuanya terasa cukup.
Atau setidaknya, dia memaksa dirinya untuk percaya kalau itu cukup.
Ponselnya bergetar.
Sekejap.
Hanya satu notifikasi.
Sheya langsung membuka layar, terlalu cepat, terlalu berharap.
Bukan dari James.
Dia menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengunci layar lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati. Seolah kalau dia bergerak terlalu cepat, sesuatu di dalam dirinya akan ikut pecah.
Lucu ya.
Seseorang bisa membuatmu merasa seperti rumah...
dan pada saat yang sama, membuatmu merasa seperti orang asing yang tidak pernah benar-benar diundang.
Sheya menarik lututnya lebih dekat ke dada, memeluk dirinya sendiri.
Dia tahu harusnya dia berhenti.
Harusnya dia lelah.
Harusnya dia pergi.
Tapi kenyataannya—
dia masih di sini.
Masih menunggu.
Masih berharap.
Masih tinggal, di tempat yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Hujan belum berhenti.
Dan Sheya... juga belum.
YOU ARE READING
Always, But Never
Teen FictionSheya tidak pernah meminta banyak. Hanya seseorang yang benar-benar ada. Seseorang yang memilih-bukan hanya datang saat sempat. Lalu James datang. Tidak dengan janji. Tidak dengan kepastian. Tapi cukup untuk membuat semuanya terasa nyata. Di antara...
