00

608 67 13
                                        

Kain sutra merah itu menjuntai anggun, menyapu lantai marmer yang berkilau bagai cermin.

Langkahnya yang semula tenang mendadak terhenti. Sepasang mata cokelat itu menatap tajam, keindahannya menggetarkan, selaras dengan bibir merah yang merekah bak kelopak mawar.

“Siapa kau?”

Suaranya lembut, seringan kapas, tetapi menyimpan ketajaman yang nyaris tak kasatmata. Tatapannya sedikit merendah, mengunci sosok wanita yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Wajah itu asing, dan pakaian yang dikenakannya jelas bukan seragam para pelayan yang biasa ia lihat.

Wanita itu tersentak. Bahunya menegang, napasnya tertahan sejenak. Ia menelan ludah gugup, jemarinya saling menggenggam seolah mencari pegangan.

“S-saya…”

“Maafkan saya, Nyonya,” ujar seorang wanita paruh baya berseragam maid yang datang tergesa. Ia segera menarik lengan wanita asing yang menarik perhatian sang nyonya besar. “Dia Winny, keponakan saya. Dia baru datang dari desa.”

“Oh, orang kampung,” potong Janice tanpa ragu, nadanya merendah dengan jelas, menghentikan penjelasan Idah, kepala pelayan di mansion itu.

Winny menunduk dalam. Jari-jarinya saling meremas gelisah, sementara jantungnya berdegup kencang. Niatnya yang semula hanya ingin melihat-lihat keindahan rumah yang lebih pantas disebut istana ini justru menyeretnya ke dalam masalah, dan sialnya terjadi di hari pertamanya bekerja.

“Bagaimana dia bisa masuk sembarangan? Dan berani sekali menginjakkan kaki di sini tanpa seizinku,” lanjut Janice, suaranya dingin dan angkuh, tatapannya penuh jijik saat mengarah pada Winny.

“M-maafkan saya, Nyonya. Dia masih baru,” ucap Idah hati-hati.

Janice berdecak pelan. “Singkirkan dia dari hadapanku,” katanya rendah, namun tegas.

Itu sudah lebih dari cukup. Idah segera menunduk hormat, lalu menarik keponakannya pergi tanpa berani membantah.

***

“Sudah satu tahun sejak kalian menikah, Janice… dan kau belum juga hamil?”

Suara itu terdengar lelah, bukan hanya karena usia, tapi karena harapan yang tak kunjung terpenuhi. Wanita paruh baya di hadapannya, Daretta Jeslyn, memijat pelipis dengan gerakan pelan, seolah mencoba meredam pening yang datang bukan dari tubuh, melainkan dari pikiran.

Janice mengembuskan napas tipis. Topik yang sama. Selalu sama. Setiap kali ia dipanggil pulang, percakapan mereka tak pernah jauh dari itu.

“Come on, Mom. It’s only been a year.” Ia mengangkat cangkir tehnya, menyesap sedikit sebelum meletakkannya kembali dengan gerakan yang nyaris sempurna. “Aku masih ingin menjaga bentuk tubuhku.”

Nada suaranya ringan, nyaris tak peduli.

Sudah menjadi rahasia umum meski tak pernah diucapkan terang-terangan, bahwa putra tunggal keluarga Ivander tidak seperti kebanyakan pria lainnya. Dan Janice… Janice adalah definisi keindahan yang hampir terasa tidak nyata. Wajahnya nyaris tanpa cela, tubuhnya dipahat seolah untuk dipuja, bukan untuk berubah.

Daretta menatapnya tajam, sorot matanya mengeras. “Kau harus melahirkan penerus Wiranata.” Setiap kata diucapkan dengan tekanan yang jelas, seakan tak memberi ruang untuk bantahan. “Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.”

Namun Janice tetap tak terpengaruh.

Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, ekspresinya datar. “Apa lagi yang ibu inginkan dariku?” tanyanya, suaranya kini lebih dingin. “Bukankah aku sudah menyelamatkan harga diri keluarga ini? Menjaga nama baik kita? Memastikan gaya hidup ibu tetap berada di atas?”

The Rich [JAKESEUNG]Stories to obsess over. Discover now