sore itu sekitar jam empat sore, langit kembali menangis menumpahkan airnya di kota seoul, kali ini tak disertai geraman amarah darinya tapi tetap mengundang umpatan sebagian orang.
berbeda dengan laki-laki yang saat ini sedang duduk santai di dalam cafe, ia tak menggerutu seperti yang lainnya;
'aku tak kehujanan seperti mereka, jadi aku tak menggerutu haha', batinnya sembari menyeruput kopi hangat.
gaya rambut slickback, pakaian kuno, dan selera musik tahun 90an- sok klasik sekali sial. dan apa itu? ekspresi sok fokus dengan koran digenggamnya, kau ini umur berapa?
mata sipitnya kembali melirik jendela yang saat ini sudah kabur oleh rintik hujan, tapi masih bisa terlihat bahwa masih banyak orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.
dia jadi terkekeh lagi,
'kkkkk',
dasar laki-laki sial.
lonceng pintu cafe berbunyi tanda seseorang masuk. laki-laki itu menolehkan kepalanya kepada yang baru datang; sedang sibuk menyimpan payung.
pakaiannya basah kuyup, sepertinya dia sempat kehujanan; untung dia pakai jaket kulit, jadi yang benar-benar terlihat basah hanya celana jeans nya yang.. kebesaran atau bagaimana?
netra mereka beradu, saling bertatapan. yang pakaiannya kering yang bergerak lebih dulu; menaik-turunkan alisnya, sementara yang basah kuyup merotasikan bola matanya. begitulah eye contact itu terputus.
si pelakon kedua melenggangkan kaki basahnya ke kasir, memesan beberapa menu sekaligus membayarnya mengingat ini hanya kafe kecil-jadi tak ada acara reservasi segala macam.
lalu menghampiri meja laki-laki sok klasik ini, dan duduk di depannya.. sok kenal sekali; padahal mereka berinteraksi hanya sekali lewat mata.
"hai cantik," sapa si lakon pertama
"aku laki-laki," jawabnya.
"cantik itu bahasa universal, siapa namamu?," tanyanya. "aku jungwon. berhenti bermain alis seperti itu di depanku, kau terlihat seperti orang gila," sinisnya.
tak ia hiraukan, alis itu tetap naik turun meski sudah dapat gertakan. yah.. laki-laki yang disebut cantik itu hanya diam, sepertinya dia sadar seseorang seperti ini keras kepala.
"namamu siapa?"
"kau ingin tau?"
"hanya formalitas,"
dia terkekeh, "alasan klasik ya."
wajah jungwon agak merengut, "yang klasik itu bukannya kau? gayamu seperti kakek-kakek,"
"kau tak mengerti fashion," "terserah."
setelahnya mereka hanya saling diam, yang bersuara hanya musik dari radio kafe dan rintik hujan yang semakin deras. lagu There Is a Light That Never Goes Out dari The Smiths mengiringi sunyi nya mereka.
sederhananya, mereka hanya saling sibuk, nanti juga mengobrol lagi. yang satu sibuk membaca koran dan menyeruput kopi hitam pekatnya, yang satu menelisik isi kafe.
kafe ini dominan bernuansa cokelat gelap, beberapa piringan hitam menjadi pajangan di dindingnya. rak-rak buku yang terlihat usang dan aroma kopi di seluruh ruangan ini cukup pekat, saat jungwon melihat menu juga memang kebanyakan berbau kopi. kafe bergaya jadul, cocok untuk orang tua seperti pria di depannya.
pesanannya datang,
waiters menyajikan makanan minumannya dengan hati-hati, karena agak banyak. disambut dengan senyum gembira dan ucapan terima kasih berkali-kali,
oh, insan lain pun ikut menyambut; ekspresi tak percaya.
"kamu mau?" tawar jungwon.
yang ditawari bergeming, tatapan tak percayanya masih terpajang.
dia memesan cokelat panas, roti kering, sebotol air mineral, dan sepiring nasi kari jepang ekstra katsu? berapa hari dia tidak makan?
"kau sanggup menghabiskan itu semua?"
pasalnya, pesanan si jungwon memenuhi meja mereka. bayangkan saja empat menu baru dan dua menu lama yang sudah setengah habis dalam satu meja bundar yang cukup luas; kalau diisi satu orang saja.
"meragukan ku?"
jungwon mulai memakan nasi kari nya, khidmat sekali. yaa, lawannya tak lagi fokus pada koran, fokusnya berpindah jadi memperhatikan jungwon.
"kau tak menghabiskan makananmu?" tanya jungwon disela-sela mengunyah.
dia melirik sisa pretzel dan segelas kopi yang tinggal ampas lalu menggeleng, "aku sudah kenyang."
jungwon hanya ber-oh ria, melanjutkan santapannya dengan diam; itu adalah caranya menikmati sesuatu. sesekali meniup sendoknya jika itu terasa panas.
sekitar dua puluh menit lamanya jungwon mengunyah, piring tandas bertumpuk rapi dan ia masih sibuk menyeruput cokelat panasnya yang sisa setengah.
seruputan terakhir. dan semuanya sudah habis.
"pastikan tidak bersendawa sembarangan,"
yang ditegur hanya mengangguk, orang tak dikenalnya ini cukup displin untuk seseorang dengan kelakuan jahil sedikit biadab. jungwon jadi penasaran dengan namanya.
"siapa namamu?" tanya jungwon.
tak dijawab.
sebenarnya, merasa kesal tepat setelah makan itu tidak baik. tapi kalau keadaannya begini mungkin akan dimaklumi. laki-laki itu benar-benar menguji rasa sabar jungwon dari awal masuk kafe sampai duduk dan kekenyangan pun tetap menyebalkan.
"hey, jangan buat aku marah."
dia tersenyum miring. seperti orang gila; pikir jungwon.
"kau seingin tahu itu dengan namaku?" tanyanya.
lalu dia mulai menyibakkan rambutnya ke belakang, "aku ini memang mempesona sampai kamu terobsesi begitu dengan namaku, haha",
"sekarang aku ingin melempar piring-piring kotor ini ke wajahmu. apa maksudmu terpesona? apa maksudmu terobsesi? dasar sialan, aku ini hanya bertanya karena kita bahkan tidak saling kenal sebelum-"
celotehan jungwon berhenti, karena SATU KECUPAN KILAT MENDARAT DI PIPINYA.
"jangan marah-marah, cantik. aku akan pergi, semoga kita bertemu lagi." kata si pria itu dengan langkah agak tergesa keluar dari kafe.
jungwon membeku. apa itu tadi?
aku dicium laki-laki tak dikenal?
jungwon bergeming, dia tak bisa memproses apapun selain cuplikan ia dikecup kilat oleh seseorang yang baru saja bertemu dengannya.
wajahnya terasa panas, begitu dengan kepalanya yang menoleh perlahan ke jendela.
hujan telah berhenti. orang-orang yang berteduh juga mulai melanjutkan perjalanannya. mereka yang tadinya saling berinteraksi kala menunggu hujan reda, mulai berpisah dan berjalan masing-masing lagi.
termasuk si pria tadi.
tapi yang tadi itu apa-apaan? salam perpisahan? sebuah kenang-kenangan? dengan mencium tanpa izin lalu pergi begitu saja?
dasar bajingan,
19 April, 2026
